Padang – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), memberi pelatihan selam tingkat dasar dan pengenalan metode transplantasi terumbu karang bagi para pengawas perairan dan kelompok masyarakat.
“Kegiatan dilaksanakan selama satu hari di Kolam Renang Teratai Padang dan di peraiaran Pulau Pasumpahan Padang,” kata Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil DKP Padang, Riska Eka Putri di Padang, Senin.
Kegiatan iTU diikuti 15 orang petugas pengawas perairan dan sejumlah utusan dari kelompok masyarakat dan instruktur pelatihan dari Yayasan Sanari.
Menurut dia, pelatihan untuk kelas dan praktek dilakukan di kolam renang Teratai GOR H. Salim dan praktik perairan terbuka dilangsungkan di Pulau Pasumpahan.
Ia menjelaskan pelatihan selam dasar dan transplantasi karang itu diselenggarakan guna membekali para petugas pengawas perairan dan aparatur dinas dengan kemampuan selam dan mengenal metode transplantasi karang baik teori maupun praktik.
Hal itu, tambahnya, mengingat masih sering terjadinya kerusakan sumberdaya kelautan yang membutuhkan personil yang berkualifikasi sebagai penyelam.
“Pelatihan digelar dengan tujuan meningkatkan SDM dalam hal kemampuan selam dan transplantasi karang, dengan harapan nantinya dapat melakukan monitoring dan evaluasi sumberdaya kelautan khususnya di perairan Kota Padang,” ujarnya.
Sementara itu, instrukstur pelatihan selam, Samsuardi menyebutkan peserta dibekali ilmu penyelaman sesuai dengan jenjang pemula (one star), seperti pengetahuan akademis penyelaman, hukum fisika penyelaman, pengenalan bawah air, aspek medis penyelaman, penyakit dekompresi dan table penyelaman.
“Sebelum praktek menyelam ke laut, terlebih dahulu dilakukan pelatihan dasar dan praktek di kolam renang,” tambahnya.
Salah seorang peserta pelatihan ini, Raharjo mengatakan bagi petugas pengawasan pelatihan-pelatihan tersebut sangat penting untuk menguasai teknik-teknik penyelaman untuk mendukung monitoring dan evaluasi yang berkaitan dengan terumbu karang bagi petugas pengawasan.
Hal itu, dibenarkan peserta lainnya dai kelompok masyarakat, Jonidas. Menurut dia, selama ini ia hanya mengetahui dan menerima informasi dari masyarakat tentang kerusakan-kerusakan terumbu karang yang terjadi, dan belum pernah melakukan penyelaman dengan peralatan selam standar.
Ia menjelaskan melalui pelatihan selam dan pelatihan transplantasi karang tersebut, kedepan petugas pengawas lapangan bisa dapat melakukan monitoring sekaligus sebagai penyuluh tentang pelestarian sumberdaya kelautan, khususnya terumbu karang.
Hendra Agusta/Antara