Alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan sebagainya sangat berpengaruh besar terhadap hal ini. Ketika musim hujan air akan melimpah dan berpotensi banjir.Sedangkan kemarau akan cepat kering, karena hutan penahan air tidak ada lagi. Pihaknya selama ini hanya mampu menjaga sekitar kawasan elevasi mereka saja sejauh 80 km. Selebihnya bukan kewenangan mereka lagi.“Kami sudah berulang kali menyampaikan hal ini, namun entahlah “ ujarnya.
Dampak dari tidak beroperasinya PLTA ini berkurangnya pasokan sumber daya listrik. Hanya saja dengan adanya sistim interkoneksi dengan Sumatera Barat (Sumbar) dan Jambi, maka hal ini bisa diatasi.Sementara Manajer PLN Bangkinang Ferry menyatakan, saat ini memang sering terjadi pemadaman.
Salah satunya karena defisit daya. Adanya interkoneksi dengan Sumbar membuat masih adanya pasokan listrik untuk Kampar.“Yang mengatur kuota pemadaman bukan kami, namun Area Pengatur Restribusi (APB). Kampar bagian dari APB Pekanbaru. Kami hanya menunggu dan melaksanakan perintah dilakukan pemadaman di mana, “ ujar Fery.Untuk itu, Ferry memohon pengertian dari masyarakat terhadap pemadaman yang terjadi akhir-akhir ini, yang memang disebabkan defisit daya.
Sementara Manajer SDM dan Umum PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (WRKR), Dwi Suryo Abdullah mengatakan, saat ini level permukan air berada di bawah kemungkinan untuk beroperasinya PLTA Koto Panjang.”Levelnya di bawah.
Kemarin dicoba operasikan, namun tidak kuat dan akhirnya dihentikan,” kata Dwi.Menurut Dwi, hal tersebut terjadi karena jatuhnya air hujan tidak pada daerah tangkapan. Sehingga tidak banyak air yang tertampung di bendungan.”Tidak ada hujan di derah tangkapan. Hujan selalu terjadi di bawah area tangkapan,” kata Dwi.Meski begitu, PLN tetap berupaya untuk memenuhi beban puncak listrik di Riau dari interkoneksi.”Sebenarnya tidak hidup pun tidak masalah.
Tapi karena pembangkit di sistem Sumatera itu pas-pasan, maka tentunya padam. Kemudian dipenuhi dari pembangkit lain di Teluk Lembu,” kata Dwi.Menurut Dwi, asumsinya PLTA itu tetap menyala walaupun cuma satu pembangkit yaitu 38 MW. Jadi jika tidak hidup, dicarikan dari pembangkit lain di sistem interkoneksi.”Kami mengupayakannya agar tetap normal,” kata Dwi.(riaupos.com)