24 C
Padang
Selasa, November 30, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Daun Kelor Miliki Antioksidan Tinggi
D

- Advertisement -

Oleh: Ryan Budi Setiawan SP, M. Si
(Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas)

TIM PENELITI FAPERTA UNAND TEMUKAN KELOR (Moringa oleifera Lam.) DENGAN ANTIOKSIDAN TINGGI

Tanaman kelor diketahui memiliki banyak manfaat dan berpotensi dikembangkan sebagai salah satu imunomodulator. Dikutip dari laman Sciencedirect pada jurnal Food Science and Human Wellness melaporkan kelor mengandung vitamin C 7 kali lebih tinggi dibandingkan jeruk, vitamin A 10 kali lebih tinggi dibandingkan wortel, kalsium 17 kali lebih tinggi dibandingkan susu, protein 9 kali lebih tinggi dibandingkan yogurt, posfor 15 kali lebih tinggi dibandingkan pisang, zat besi 25 kali lebih tinggi dibandingkan bayam, mengandung zink sebanyak 25,5 – 31,03 mg/kg, vitamin B (folic acid, pyridoxine, nicotinic acid), vitamin D dan vitamin E.

South African Journal of Botani juga melaporkan bahwa ekstrak daun, buah dan biji kelor memiliki potensi untuk meningkatkan imunitas tubuh dan menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Ekstrak daun kelor mampu meningkatkan imunitas tubuh penderita HIV. Ekstrak kelor juga diketahui membantu penyembuhan penyakit HSV (Herpes Suplex Virus) yang disebabkan oleh virus Herpes viridae; HBV yang mengakibatkan penyakit Hepatitis B, FMDV (Foot and Mouth Disease Virus), EBV (Epstein Barr Virus) dan NDV (Newcastle Disease Virus), Sejalan dengan itu, dikutip dari Australian Journal of Basic and Applied Sciences, ekstrak kelor dilaporkan mampu membantu penyembuhan penyakit RSV (Respiratory syncytial virus) yang menyebabkan bronchiolitis dan pneumonia sehingga terjadi ganguan pada pernapasan.

Meskipun kaya nutrisi, ternyata tanaman kelor tidak familiar dimanfaatkan oleh masyarakat Sumatera Barat. Hasil survey yang dilakukan kepada masyarakat menyatakan bahwa aroma yang kurang sedap dari daun kelor mentah menjadi penyebab enggannya masyarakat mengkonsumsi kelor. Selain itu adanya informasi bahwa daun kelor digunakan sebagai obat “Kesurupan” juga menjadi salah satu penyebabnya. Oleh karena itu perlu penyampaian informasi yang benar kepada masyarakat dalam rangka edukasi kesehatan berkaitan dengan ketahanan gizi rumah tangga.

Meskipun tanaman kelor memiliki banyak manfaat, namun hingga saat ini belum ada varietas kelor unggul yang telah dirilis oleh Kementerian Pertanian.  Oleh karena itu sejak 2 tahun terakhir pasca diumumkannya pandemi covid-19 tim Peneliti (Dosen dan 5 orang mahasiswa) dari Fakultas Pertanian Universitas Andalas melalukan penelitian eksplorasi pohon induk kelor yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi untuk imunomodulator. Pohon kelor yang diperoleh diharapkan menjadi pohon induk sebagai sumber bibit yang akan didesiminasikan kepada masyarakat.

“Kegiatan eksporasi ini sudah dilakukan di 7 Kota dan Kabupaten di Sumatera Barat yaitu Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang Panjang, Kabupaten Agam, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan. Total sebanyak 65 pohon kelor telah diidentifikasi karakter morfologi dan antivitas antioksidannya”, Ungkap Profesor Zulfadly Syarif.

“Kegiatan ini masih akan dilakukan diakhir tahun 2021 dengan wilayah eksplorasi di Kabupaten Pasaman Barat, Pasaman Timur, Kota Pariaman dan Kabupaten 50 Kota, kami berharap akan ditemukan lebih banyak kelor dengan antiosidan yang tinggi”, Tambah Profesor Ardi.

Secara umum ditemukan setidaknya 4 kelompok tanaman kelor dari perbedaan warna tangkai daun yaitu hijau, hijau kemerahan, merah kehijauan dan merah. Kemudian dari ukuran daun terpisah menjadi 2 kelompok yaitu ukuran daun besar (lebih dari 1 cm) dan kecil (kurang dari 1 cm) dan dari ukuran buah juga terpisah menjadi 2 kelompok yaitu buah pendek (15-20 cm) dan buah panjang (30-40 cm).

Pohon kelor yang telah diidentifikasi secara morfologi kemudian dianalisis aktivitas antioksidan daunnya menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Aktivitas antioksidan biasanya diduga dari nilai IC50 (Inhibition Consentration) dimana semakin kecil nilai IC50 dari suatu bahan maka aktivitas antioksidannya semakin tinggi.

“Berdasarkan hasil pengujian sampel daun kelor layak konsumsi dari 65 pohon, diperoleh antivitas antioksidan yang bervariasi berkisar antara 0.17% – 2.02%, hasil ini cukup menggembirakan karena aktivitas antioksidan yang ditemukan cukup tinggi”, Ujar Mellyyana Handayani sebagai tim peneliti.  “Selain melakukan pengujian pada kelor kami juga menguji 4 tumbuhan lain yang biasa digunakan sebagai biofarmaka untuk imunomodulator yaitu pegagan (Cantela asiatica), ciplukan (Physalis angulata), sambiloto (Andrographis paniculata) dan meniran (Phyllathus niruri). Setelah  dibandingkan, diketahui bahwa aktivitas antioksidan kelor hanya lebih rendah dibandingkan dengam meniran senilai 0.016 %”, Tambah Mela Rahmah.

“Kedepan, meniran juga akan menjadi fokus riset kami, selain memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dilaporkan pada jurnal The Journal of Basic and Clinical Physiology and Pharmacology tahun 2021 senyawa Phyllanthin and hypophyllanthin yang terdapat pada meniran diketahui dapat menghambat protein reseptor dari virus corona (Covid-19) melalui pendekatan in silico” Tambah Firdaus

Sejauh ini terdapat 2 kandidat pohon kelor yang akan diuji lebih lanjut kandungan metabolitnya yaitu pohon kelor dari Kota Padang dan Kabupaten Solok dengan IC50 (0.17%). Penulis berharap pada akhir tahun 2021 tim peneliti dapat menyelesaikan penelitian tentang jenis dan jumlah antioksidan  yang terdapat pada kelor.

Target akhir penelitian ini adalah ditemukan pohon kelor yang nantinya akan dijadikan sumber bibit untuk disebarkan ke masyarakat, dengan harapan setiap rumah tangga dapat menanam pohon kelor sebagai sayuran alternatif sumber antioksidan dan  imunomodulator peningkat imun tubuh.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img