25.3 C
Padang
Sabtu, Mei 21, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

DANAU MANINJAU YANG SEMAKIN RISAU
D

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Kasra Scorpi

Danau Maninjau terletak di kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam dengan jarak sekitar 140 kilometer dari Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittingi dan 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.

Danau itu berada pada ketinggian 461,50 meter dari permukaan laut, luas 99,5 km, kedalaman maksimum 495 meter. Saat ini merupakan danau terluas ke sebelas di Indonesia.
Danau yang bagaikan sebuah belanga besar dikelilingi oleh tebing curam. Menurut legenda Bujang Sembilan yang dipercayai masyarakat sekitarnya danau itu berasal dari bekas letusan gunung Sitinjau beribu-ribu tahun lalu.

Danau Maninjau merupakan sumber air bagi Batang Sri Antokan yang mengalir melewati kecamatan Lubuk Basung dan Tanjung Mutiara yang kemudian bermuara ke Samudra Indonesia. Air Batang Sri Antokan selain digunakan untuk keperluan pertanian dan perikanan sejak tahun 1980 digunakan oleh PLN sebagai pembangkit tenaga listrik di daerah Muko-Muko.

Karena keindahan alamnya yang menakjubkan danau Maninjau dengan sendirinya menjadi objek wisata utama di kabupaten Agam dan cukup dikenal di luar negeri. Sekitar tahun 1980-an danau Maninjau ramai dikunjungi oleh wisatawan manca negara.

Sebagai objek wisata di danau itu tersedia fasilitas untuk berenang, memancing, sepeda air, juga ada hotel, penginapan sederhana atau home stay dan area tempat peristirahatan. Di kitaran danau terdapat panorama alam dengan pemandangan mempesona seperti Puncak Lawang, Bukit Sakura, Ambun Tanai, Ambun Pagi dan beberapa titik di kelok44.

Masih di pinggiran danau, tepatnya di Tanah Sirah nagari Sungai Batang didirikan Museum Buya Hamka yang dilengkapi dengan pustaka dan benda-benda peninggalan sastrawan dan ulama besar tersebut. Museum Buya Hamka termasuk objek wisata sejarah menarik di Maninjau.

Sebagai peninggalan budaya, di Maninjau terdapat sejumlah mesjid tua dengan arsitek unik dan kesenian tambua tansa bernuansa magis. Tetapi sejak 2 dasawarsa terakhir dunia pariwisata Maninjau melorot cukup tajam. Danau Maninjau seolah beralih dari daerah wisata ke tempat usaha budi daya ikan keramba, dan usaha itu terus mengalami perkembangan, sehingga jumlah keramba yang ada sekarang mencapai belasan ribu unit. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah nila dan majalaya.

Sementara ikan asli dan khas danau Maninjau adalah rinuak, barau, kailan panjang dan pensi. Ikan khas tersebut menjadi jualan masyarakat kepada wisatawan yang berkunjung, namun populasinya kian menciut akibat air danau yang kurang kondusif.

Terkait dengan kondisi air danau yang tidak lagi kondusif, bencana pengotoran air danau yang menimpa petani ikan semakin sering terjadi. Tahun 2010 silam tidak kurang 3 kali bencana besar yang menewaskan ratusan ribu ton ikan keramba. Dalam pekan ini bencana itu datang lagi membuat petani ikan di 7 nagari merugi milliaran rupiah.

Seringnya muncul bencana itu menurut hasil penelitian yang dilakukan sejumlah lembaga ilmiah termasuk LIPPI antara lain disebabkan oleh jumlah keramba yang melebihi kemampuan daya tampung danau. Berdasarkan hasil penelitian idealnya jumlah keramba seribuan unit, itupun harus ditempatkan pada zona tertentu.

Cuma untuk melaksanakan rekomendasi lembaga ilmiah tersebut, pemerintah daerah kewalahan karena masyarakat enggan mengurangi keramba mereka, dengan alasan usaha keramba lebih menguntungkan dibandingkan usaha lain, sehingga Perbub Agam

tentang pengaturan dan zonasi keramba yang dikeluarkan bupati Aristo Munandar tidak menpan.
Sementara menurut bupati Agam Indra Catri, kondisi lingkungan danau Maninjau memang telah parah, semakin merisaukan, harus segera dilakukan rehabilitasi dan pelestarian.

Kata Catri idealnya pemanfaatan danau Maninjau untuk usaha ikan keramba hanya 20%, dan 80% untuk usaha lain terutama pariwisata. Sementara kenyataan sekarang malah usaha keramba yang 80%.
Untuk itu secara perlahan perlu dilakukan upaya membalikkan kondisi dengan merubah “mind set” dan mengajak masyarakat beralih dari usaha ikan keramba ke usaha pariwisata.

Tetapi itupun tidak mudah, pemerintah harus bekerja keras membangun infra struktur pariwisata dan faktor penunjang lainnya untuk memperbesar arus pengunjung sehingga masyarakat merasakan bahwa pariwisata lebih menguntungkan daripada usaha ikan keramba***

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img