Sijunjung,-Tiada siapapun yang menginginkan Wabah Covid 19 ini menyebar di tengah-tengsh kehidupan masyarakat. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam memutus mata rantai penyebaran virus ini. Namun banyak juga yang memandang sinis dan acuh tak acuh. Entah masyarakat belum begitu paham tentang Covid 19, atau malah lebih tahu.

Kondisi hari tidak ubahnya layaknya sebuah peperangan. Namun anehnya yang diperangi tidak kasat mata, tapi Covid 19 bukan makhluk ghaib. Korban sudah mulai berjatuhan di seluruh dunia. Ini yang dikatakan emergency atau darurat. Di ibaratkan sebuah kapal yang sedang berlayar. Ditengah lautan kapal mengalami goncangan yang hebat. Salah mengambil tindakan, kapal akan karam. Dalam kondisi seperti ini, kepiawaian seorang pemimpin dan kepatuhan masyarakatnya sangat dituntut. Karena menyangkut hayat hidup orang banyak.
Tentunya peran seorang pemuda yang digadang-gadangkan sebagai paga nagari dan penyambung lidah masyarakat sangat diharapkan. Tidak saatnya untuk berdebat. Pemudalah yang diharapkan sebagai sentral pergerakan dan sumber informasi oleh masyarakat dalam melawan penyebaran Covid 19 ini. Bukan malah menimbulkan pesimisme di tengah-tengah masyarakat.

Sekarang saatnya pemuda bersatu padu melawan virus corona. Hentikan dulu perbedebatan. Apalagi kepentingan-kepentingan lain ataupun politik. Jangan kehadiran pemuda dianggap menangguk di air keruh.

Kirimkan doa terbaik buat Tenaga Medis yang berada di benteng terakhir dalam peperangan ini. Sehingga sudah semestinya pemudalah yang mengambil peran di garda terdepan. Kasihani Tenaga Medis yang sudah bertaruh nyawa dan memiliki resiko tertinggi terkena Covid 19. Masyarakat diminta untuk tetap dirumah 14 hari saja, tapi mereka ada yang sudah 3-4 bulan tidak bisa bertemu keluarga tercintanya.

Masyarakat juga harus berani Jujur kepada diri sendiri dan memperhalus rasa untuk orang lain. Kalau masih mampu, katakan mampu. Jangan sampai karena keegoisan kita, kita korbankan hidup tetangga yang lebih membutuhkan. Kita berebut 1 paket sembako, sekiranya ada masyarakat yang bergantung hidup atas sembako yang kita ambil.

Semua elemen masyarakat dan pemerintah harus jujur. Karena masih banyak diluar sana yang tidak bisa makan. Kondisi hari ini tidak ubahnya seperti perang. Kita krisis. Kita sedang dihadapkan dalam kondisi sulit. Mari kita robah kata Lelah menjadi Lillah. Semoga pengorbanan kita bernilai Ibadah di sisi Allah SWT.

(Harbi Hanif Burdha, Ketua DPD KNPI Sijunjung)

loading...