23 C
Padang
Selasa, Oktober 19, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Benarkah Masa Pandemi Covid-19 itu Ibarat Pisau Bermata Dua dan Berkah Bagi Sektor Pertanian” Kita ?
B

- Advertisement -

Oleh :
Silvia Permata Sari, SP., MP.
Dosen Pertanian Universitas Andalas

Berbicara tentang pandemi Covid-19, hampir pasti di semua kita langsung tersirat makna negatif setelah mendengar kata “Covid” tersebut. Padahal kenyataannya tidak. Masa pandemi Covid-19 ibaratkan seperti pisau bermata dua. Bagaimana tidak? Ingin tahu kenapa..padahal artikel ini akan kita kupas mengenai itu.

Di satu sisi, wabah virus Covid-19 ini dapat menyebabkan kematian pada manusia. Berdasarkan data nasional hingga Senin 20 September 2021 sudah 4.190.763 jiwa tercatat terkonfirmasi positif dengan angka meninggal 140.468 jiwa. Angka yang tak kunjung menurun tentu saja membawa dampak terhadap berbagai sektor kehidupan di Indonesia, baik sektor industri rumah tangga, industri menengah, industri skala besar. selama masa pandemi Covid-19, banyak industri retail dan hotel terpuruk dan rontok, PHK pun bergejolak, dan pengangguran pun bertambah. Keadaan ini terus berlangsung hingga adanya aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4.

Namun di sisi lainnya, keberadaan Covid-19 ini membawa berkah bagi sektor pertanian kita? Bagaimana tidak, akibat penggangguran dan kehidupan yang makin susah di perkotaan, masyarakat kota banyak kembali ke kampung halamannya dengan kata lain “pulang kampung” dan berubah profesi menjadi petani. Sektor pertanian merupakan salah satu peluang kerja bagi jutaan orang yang terkena PHK di masa pandemi covid-19 ini. Tentu saja ini itu menjadi berkah tersendiri bagi sektor pertanian. Hal itu terbukti dalam masa pandemi Covid-19 ini, sektor pertanian tetap eksis dan menjadi salah satu andalan perekonomian Indonesia. Dengan kata lain, kondisi pandemi Covid-19 ini bisa menjadi momentum saatnya pertanian kita mandiri dan berdaulat. Impor komoditas pertanian bisa dikurangi atau bahkan dihentikan.

Berdasarkan informasi dari Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, ekspor pertanian mampu mencapai Rp 541,8 triliun atau naik15,7% pada tahun 2020 ini, dimana sektor tanaman pangan menjadi penyumbang tertinggi dalam distribusi dan pertumbuhan ekonomi. Secara rinci tanaman pangan tumbuh 3.54%, tanaman hortikuktura 4,37%, dan tanaman perkebunan 1,33%. Dari angka-angka tersebut terlihat jelas masa pandemi Covid-19 ini menjadi berkah tersendiri terhadap pertanian. Tapi hati-hati, kabar yang menggembirakan ini jangan sampai membuat kita cepat puas dan berbangga hati akan capaian pertanian tersebut. Namun mari kita jadikan moment ini sebagai awal dan penyamangat agar pertanian kita menjadi semakin baik dan mandiri.

Berbicara pertanian berarti berbicara hidup dan mati suatu bangsa. Seperti ungkapan Sang Proklamator, Bung Karno: “No food, No life”. Itu karena berhubungan dengan urusan “perut”. Pangan merupakan hal yang sangat krusial. Tidak akan dikatakan maju suatu bangsa kalau rakyatnya kelaparan. Di saat pandemi ini semua orang butuh pangan sehat, dan semua orang butuh pangan bergizi seimbang.

Akibatnya pertanian mulai dilirik oleh banyak kalangan masyarakat dan menjadi salah satu peluang usaha yang mulai diminati. Itu terbukti dari banyaknya lahir petani-petani milenial dan pengusaha muda sukses bidang pertanian. Contohnya: petani milenial kopi Solok Rajo, bukit Gompong di Alahan Panjang Sumbar, petani milenial di daerah Magelang dan Salatiga, serta beberapa petani milenial dan petani sukses lainnya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam peningkatan produktivitas pertanian, banyak usaha yang dapat kita lakukan, baik dari segi Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusia (SDM)nya yaitu petani itu sendiri. Antara lain: teknologi penggunaan benih unggul, pemupukan yang tepat, teknik pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan, pengolahan pasca panen yang tepat, serta penggunaan teknologi dan akses internet dalam pemasaran hasil pertanian. Beberapa aplikasi online melalui gadget pintar pun bisa digunakan petani untuk menghubungkannya dengan konsumen.

Kemudian salah satu hal yang tak kalah penting selain dari bantuan sarana produksi tani (saprotan) adalah kegiatan sosialisasi dan sekolah lapang untuk petani. Tujuannya tak lain adalah sebagai wadah untuk mencharger dan menambah ilmu pengetahuan petani akan informasi temuan-temuan baru dari perguruan tinggi, sehingga petani kita bisa semakin maju dan kreatif dalam bertani sesuai tuntutan zaman saat ini.

Di Sumatera Barat contohnya, kegiatan sosialisasi dan sekolah lapang ke petani pun masih tetap dapat dilakukan di masa Pandemi Covid-19 ini, walaupun dengan protokol Covid-19. Aksi nyata dalam meningkatkan produktivitas pertanian ini digerakkan oleh instansi pemerintahan, universitas, swadaya, maupun individu. Seperti misalnya di Sumatera Barat, Universitas Andalas gencar dan aktif melakukan kegiatan yang mendukung pertanian di Sumatera Barat.

Salah satunya dalam bentuk kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diadakan di berbagai Kabupaten di Sumbar, seperti Kab. Solok, Agam, Tanah Datar, dan kabupaten lainnya. Kegiatan tersebut mencakup komoditas tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan dan didampingi oleh tim ahli yang berasal dari Universitas maupun Instansi terkait. Kegiatan sosialisasi tersebut juga mencakup teknologi benih bersertifikat, teknologi budidaya yang benar, pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi online untuk  pemasaran hasil pertaniannya.

Itu semua dirancang dari hulu ke hilir, dan melibatkan semua pihak, mulai dari petani, pemerintah, stakeholder lainnya. Hal yang serupa juga dilakukan oleh kampus-kampus pertanian lainnya di Sumatera Barat, maupun di luar Sumatera Barat yang saat ini gencar-gencarnya turun ke lapang dengan tujuan untuk membantu petani. Semua itu tak lain tujuan akhirnya adalah membuat pertanian kita menjadi lebih baik lagi, sehingga Indonesia maju, serta pertanian Indonesia yang mandiri dan berdaulat bisa terwujud di masa akan datang, ujar Silvia Permata Sari, dosen fakultas pertanian unand ini.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img