spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Batik Kalincuang, Inovasi dari Limbah Kempaan Gambir yang Mengangkat Potensi Talang Maur
B

Kategori -
- Advertisement -

Lima Puluh Kota ,Beritasumbar.com, — Siapa sangka limbah kempaan gambir yang selama ini hanya dianggap sebagai sisa hasil produksi dapat disulap menjadi produk fashion bernilai ekonomi. Di Jorong Kampung Tangah, Nagari Talang Maur, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, masyarakat berhasil mengolah limbah tersebut menjadi pewarna alami batik yang melahirkan Batik Kalincuang, salah satu inovasi berbasis potensi lokal yang mulai menarik perhatian berbagai pihak.

Perkembangan Batik Kalincuang mendapat perhatian Anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, Prima Maifirson, yang bersama Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Lima Puluh Kota, Ayu Mitria Fadri, mengunjungi sentra produksi Batik Kalincuang. Kunjungan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan produk unggulan berbasis potensi lokal agar mampu berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Ketua Kelompok Batik Kalincuang, Rosnani, menjelaskan bahwa usaha ini berawal dari kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui Program Ormawa Membangun Nagari pada tahun 2024. Dalam program tersebut, masyarakat memperoleh pelatihan teknologi pemanfaatan limbah kempaan gambir sebagai pewarna alami batik yang dikembangkan oleh dosen Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Synthia Ona Guserike Afner, S.P., M.P., bersama tim mahasiswa. Melalui proses transfer teknologi tersebut, masyarakat kemudian mampu mengolah limbah kempaan gambir menjadi pewarna alami dan memproduksi Batik Kalincuang secara mandiri hingga berkembang menjadi usaha bersama.

Hingga saat ini Batik Kalincuang dikerjakan oleh delapan orang pengrajin. Meski masih menghadapi keterbatasan tempat produksi, sumber air, dan tenaga kerja terampil, produk ini mulai mendapat sambutan pasar. Selain telah digunakan sebagai seragam perangkat Nagari Talang Maur, Batik Kalincuang juga telah dipesan oleh konsumen dari Payakumbuh, Jakarta, hingga Kalimantan dengan harga berkisar Rp350.000 hingga Rp500.000 per lembar kain, tergantung motif.

Rosnani berharap Batik Kalincuang semakin diminati, khususnya oleh generasi muda, sehingga mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat nagari. Dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat pengembangan usaha ini hingga mampu menembus pasar nasional bahkan internasional.

Batik Kalincuang menjadi bukti bahwa limbah kempaan gambir memiliki nilai tambah yang besar apabila dipadukan dengan inovasi, riset, dan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat tidak hanya menghasilkan produk kreatif berbasis kearifan lokal, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru serta memperkuat identitas Kabupaten Lima Puluh Kota.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img