25.2 C
Padang
Selasa, Januari 18, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Aktivis Perempuan: Tiga Kelompok Ini Bukan Tak Mungkin Lakukan Kekerasan Terhadap Perempuan-Anak
A

Kategori -
- Advertisement -

Payakumbuh, beritasumbar.com -Tiga anggapan yang selama ini dianggap tidak akan melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak, justru malah mereka yang banyak melakukannya sejak beberapa waktu terakhir.   

“Ketiga persangkaan tersebut adalah usia sudah tua, ketaatan beragama, dan keluarga dekat,” kata Aktivis perempuan, Rizki Khainidar pada, Sabtu (11/12) malam.

Hal itu dikatakannya lewat diskusi daring via zoom yang dilaksanakan oleh Magek Saondoh TV dengan tema “Sumbar Rawan Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak”.

Menurutnya usia lanjut bukan tidak mungkin seseorang melakukan kekerasan kepada anak dan perempuan, karena meski sudah tua mereka masih memiliki libido dan organ intim masih berfungsi untuk melakukan perbuatan terlarang tersebut.

Kemudian, juga orang-orang yang taat agama yang selama ini alim, taat, dan layak dipercaya juga banyak melakukannya. Justru katanya kekerasan kepada perempuan dan anak banyak melibatkan orang yang taat beragama, bahkan di lingkaran sekolah-sekolah agama.

Begitu juga dengan keluarga dekat yang mestinya melindungi dan menyayangi, malah melakukan kekerasan. Banyak kasus sebutnya, banyak melibatkan orang tua, kandung maupun tiri, paman, dan kakek.

“penyangkaan-penyangkaan ini sangat membahayakan korban maupun calon korban dengan memberikan keleluasaan kepada pelaku,” katanya.

Aktivis Nurani perempuan Sumbar, Meri mengatakan dari 2017-2020 ada 245 kasus kekerasan seksual yang diterimanya, itu artinya lebih 60 kasus setiap tahunnya.

Sementara pada 2021, dari januari-November ada 90 kasus,  48 kasus diantaranya adalah kekerasan seksual.  Dari 48 kasus itu, 37 kasus korbannya anak dan 11 kasus usia dewasa

Dari kasus itu pihaknya menilai saat ini rumah bukan lagi tempat yang aman bagi perempuan dan anak, karena yang yang jadi pelaku kejahatan adalah orang-orang terdekat mereka.

“Harusnya orang-orang itu melindungi perempuan dan anak, tapi malah mereka menyerang dengan kekerasan seksual,” katanya.

Adapun, Anggota DPR-RI Rieke Diah Pitaloka mengatakan persoalan kekerasan perempuan dan anak, tidak hanya masalah Sumatera Barat, tapi Indonesia secara umum.

Ia mengajak semua pihak untuk bersama melawan perbuatan tersebut, salah satunya beranggapan baik seseorang kalau dia melakukan kekerasan kepada perempuan dan anak.

“Tak ada ajaran agama apapun yang membolehkan. Coba liat al-quran, injil, wedha dan sebagai, apa boleh melakukan perbuatan tersebut,” kata politisi PDIP itu.

Sebagai wakil rakyat, Rieke berupaya agar ada produk hukum yang melindungi perempuan dan anak, sehingga aparat penegak hukum memiliki landasan hukum yang kuat untuk menangani masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak. (Di)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img