24 C
Padang
Senin, April 12, 2021
Beritasumbar.com

Abdul Hamid Hakim, Tokoh Pendidikan islam
A

Kategori -

Oleh : Syaiful Anwar

Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh

A. Riwayat Abdul Hamid Hakim

Abdul Hamid Hakim dilahirkan di desa Sumpur, terletak di tepi Barat Danau Singkarak pada tahun 1311 H, bertepatan dengan tahun 1893 M, dari ayah yang bernama Haji Abdul Hakim dan ibunya yang bernama Cari Abdul Hamid. Abdul Hamid Hakim adalah anak ketiga dari enam orang bersaudara. Abangnya yang tertua bernama Muhammad Nur, yang kedua adalah Husein. Sedang adiknya adalah Hasan, Halimah dan Sofya. (Majalah Hidayah, 2004: 119).

Karena ayahnya adalah seorang pedagang di kota Padang, maka Hamid kemudian tinggal bersama orang tuanya di kota itu. Di sanalah ia memasuki Sekolah Dasar, dan terkenal sebagai seorang murid yang banyak tingkah, tetapi pandai dan cerdas (Majalah Hidayah, 2004: 119).

 Setelah menyelesaikan pelajarannya di Sekolah Dasar di kota itu, ia kembali ke kampung halamannya untuk memasuki madrasah, belajar membaca Al-Quran. Setelah berhasil menamatkan pelajaran Al-Quran, ia berangkat ke sungayang, untuk mempelajari ilmu-ilmu agama kepada Syekh Muhammad Thaib Umar (Edwar, 1981: 87). Dua tahun lamanya Abdul Hamid belajar di sana, kemudian ketika berusia 16 tahun ia pindah ke Maninjau, karena didengarnya kabar bahwa Haji Rasul telah kembali dari Mekkah dan memberikan pelajaran agama di desanya Sungai Batang, Maninjau. Ini terjadi pada tahun 1910 (Edwar, 1981: 199) 

Dua tahun pula lamanya pemuda Abdul Hamid belajar di Sungai Batang, ia menjadi murid kesayangan Haji Rasul, karena kesungguhan dan kecerdasannya, ditambah pula dengan tingkah lakunya yang menyenangkan. Seringkali sampai jauh malam, ia masih terlihat mempelajari kitabkitabnya, diterangi lampu minyak tanah. Kadang-kadang karena payahnya ia tertidur, sedang kitab masih terpegang ditangannya. Pernah gurunya datang memadamkan lampunya karena melihat Abdul Hamid terlalu payah. Tetapi ketika ia terbangun, lampu itu dinyalakan kembali, dan ia melanjutkan membaca kitabnya (Edwar, 1981: 199).

Pada tahun 1912 Abdul Hamid mengikuti gurunya pindah ke Padang karena gurunya itu diminta mengikuti gurunya pindah ke Padang karena gurunya ini diminta pindah ke kota itu oleh seorang sahabatnya, yaitu Abdullah Ahmad. Abdul Hamid merasa gembira dengan kepindahannya ke kota itu bersama gurunya, apalagi orang tuanya masih berada di sana. Ayahnya senantiasa membelikan kitab-kitab yang diperlukan Abdul Hamid, yang semakin tekun mempelajari ilmu-ilmu agama, baik dari Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) maupun dari Abdullah Ahmad (Edwar, 1981: 200). 

Ketika ayahnya mengalami pasang surut dalam perdagangannya, sehingga pernah ditahan karena hutanghutangnya, maka Haji Rasul tidak membiarkan Abdul Hamid bersedih hati dan terhenti dari pelajarannya. Ia memperlakukan Abdul Hamid sebagai anaknya sendiri, dan memberikan keleluasaan untuk membaca buku-buku yang ada pada dirinya, serta mengangkatnya sebagai guru bantu untuk memberikan pelajaran kepada murid-muridnya yang lebih muda dari Abdul Hamid, antara lain Ahmad Rasyid, yang kemudian dikenal sebagai A.R.Sutan Mansur (Edwar, 1981: 200).

Pemuda Abdul Hamid yang amat saleh ini ternyata mampu melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai guru bantu atau Wakil Guru. Oleh sebab itu dalam suatu pertemuan yang berlangsung di rumah Khatib Besar di Pasar Gadang, Padang, Haji Rasul memberikan kepadanya gelar kehormatan Tuanku Mudo (Engku Mudo), yang kira-kira samalah dengan gelar ‗Assisten Guru Besar‘pada masa sekarang ini. Gelar kehormatan hadiah gurunya ini tetap dipakainya smpai akhir hayatnya, bahkan pernah dikokohkan menurut adat di desanya, sehingga gelar pusaka Besar Bandaro‘ yang berhak diterimanya menurut adat sukunya tak pernah dipakaikan kepadanya, karena ia telah populer dengan julukan Tuanku Mudo (Edwar, 1981: 200)

Pada tahun 1914, tiba pulalah saatnya bagi Haji Rasul untuk meninggalkan kota Padang, pindah ke Padang Panjang atas permintaan masyarakat setempat. Abdul Hamid juga pindah ke kota itu bersama gurunya. Setelah mereka berada di sana, murid-murid yang datang belajar semakin banyak. Mereka datang dari berbagai tempat. Untuk melayani muridmurid yang demikian banyak, Abdul Hamid-lah pembantu bagi Haji Rasul. Dan ketika itu Haji Rasul menjabat sebagai Guru Kepala Madrasah Sumatera Thawalib yang didirikan tahun 1915. Abdul Hamid menjabat sebagai Wakil Kepala. Kemudian setelah Haji Rasul mengundurkan diri dari jabatan itu, maka Abdul Hamid tampil menggantikan beliau sebagai Guru Kepala (Edwar, 1981: 201).

Karena ketekunannya dalam mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama semenjak kecilnya, dan kemudian diperkuat pula oleh tugasnya sebagai guru, maka pengetahuannya dalam bidang-bidang tersebut semakin mantap, sehingga Abdul Hamid diakui oleh masyarakat, oleh bekas gurunya dan oleh murid-muridnya sebagai ulama yang tangguh. Disamping itu, ia sangat disegani, karena pengetahuannya yang mendalam, dan kepribadiannya yang kuat. Saleh, berwibawa, disiplin, banyak senyum sedikit bicara, akan tetapi memiliki rasa humor yang sehat, apalagi ketika memberi pelajaran. Walaupun pakaiannya sederhana, terdiri dari kopiah, jas tutup, sarung dan sandal, namun selalu kelihatan rapi. Bahkan beliau senantiasa menyediakan jas khusus untuk dipakainya dalam menunaikan shalat (Edwar, 1981: 201).

Karismanya yang kuat senantiasa membantu Abdul Hamid dalam menjaga keutuhan dan persatuan antara rekanrekan seperjuangannya bila suatu ketika timbul perbedaan paham antara mereka. Lidahnya asin, kata-katanya didengar dan ditaati (Edwar, 1981: 201).

Setelah Abdul Hamid memegang jabatan sebagai Guru Kepala pada Sumatera Thawalib ini, datanglah saatnya baginya untuk memasuki lembaran baru dalam hidupnya. Abdul Hamid mempersuntik seorang gadis sedesanya, bernama ‗Hasna‟. Hanya saja perkawinan ini tidak berlangsung lama. Setahun kemudian mereka berpisah, dan belum sempat memperoleh keturunan. Kemudian Abdul Hamid menikahi Kamsiyah, gadis sedesanya juga. Dari isterinya ini beliau memperoleh enam orang anak, yaitu: Zainal Abidin, Na‘imah, Mustafa, Rasmiyah, Duhniar dan Abdul Aziz. Tidak lama kemudian Abdul Hamid menikah dengan Rafi‟ah di Padang Panjang. Isteri ketiga ini dikaruniai pula lima orang anak, yaitu: Khadijah, Rahmah, Muhammad Amin, Mukhtar dan Syarif. Di antara mereka ini Muhammad Amin inilah yang diharapkan untuk dapat menggantikan beliau sebagai seorang ulama. Akan tetapi takdir Allah telah menentukan lain. Ia wafat dalam usia 25 tahun, pada masa PRRI. Ia sebaya dengan Bakhtiar Rajab, kemenakan Abdul Hamid, anak dari adiknya yang paling bungsu, Sofya (Edwar, 1981: 201).

Pada tahun 1930 Abdul Hamid menikah lagi dengan Syarifah, gadis Padang Panjang juga. Dari istri yang keempat ini, Abdul Hamid dikaruniai empat orang anak yaitu: Hilmi, Mansur, Hilma, dan Hanif. Saudara-saudara mereka sebanyak delapan orang meninggal dunia ketika masih kecil (Edwar, 1981: 201).

Dapat dikatakan bahwa dalam pribadi Abdul Hamid terdapat berbagai aspek, yaitu: Abdul Hamid sebagai ulama, sebagai guru, sebagai penulis, dan sebagai pemimpin masyarakat (Edwar, 1981: 201).

Dalam kedudukannya sebagai salah seorang ulama, Abdul Hamid tak kenal lelah dalam mengembangkan ilmuilmu agama kepada masyarakat melalui wirid-wirid tetap, baik di Masjid Jembatan Besi, di Dinyah, di kampung halaman, maupun di rumah tempat kediamannya sendiri (Edwar, 1981: 201).

Dalam fungsinya sebagai guru, bidang ini telah dimulainya semenjak usianya masih muda, ketika gurunya telah mempercayainya untuk bertindak sebagai guru Muda. Dan tugas sebagai guru ini senantiasa dijalankannya sampai akhir hayatnya. Setelah Abdul Hamid pindah dari Padang ke Padang Panjang, ia juga memberikan pelajaran di Diniyah School yang didirikan oleh Zainuddin Labay El-Yunusy pada tahun 1916. Dan setelah Madrasah Thawalib didirikan dan dipimpin oleh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), maka Abdul Hamid diangkat menjadi Wakil Kepala. Selanjutnya, setelah Haji Rasul mengundurkan diri sebagai Guru Kepala, maka Abdul Hamid naik menggantikan beliau. Jabatan ini ia jalankan sampai akhir hayatnya pula. Di samping itu, ia juga memberikan kuliah pada Fakultas Falsafah Universitas Muhammadiyah yang didirikan di Padang Panjang pada tahun 1948. Kemudian setelah Universitas Islam Darul Hikmah didirikan di Bukittinggi pada tahun 1945, Abdul Hamid pun memberikan kuliah disana. Abdul Hamid merupakan guru yang sangat disegani dan dicintai oleh murid-muridnya, dan oleh siapa saja yang pernah menerima pelajaran yang diberikannya, baik di sekolah maupun pada wirid-wirid pengajiannya. Ia selalu bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang. Kalaupun suatu ketika ia marah, namun ucapannya selalu lembut akan tetapi sentilannya tajam. Tak seorang pun berani mengolok-olok dengannya, baik dari kalangan murid-muridnya, maupun kawan-kawannya (Edwar, 1981: 201).

B. Karya tulis Adbul Hamid Hakim

Sebagai seorang penulis, Abdul Hamid telah memulai karirnya ketika menjadi Wakil Redaktur Majalah Al-Munirul Manar‖ di Padang Panjang yang diterbitkan oleh Sumatera Thawalib, dibawah pimpinan Zainuddin Labay El-Yunusy yang bertindak sebagai Pemimpin Redaksi. Disamping itu, Abdul Hamid mulai menulis buku-buku pelajaran agama terutama mengenai Fiqh dan Ushul Fiqh, untuk memenuhi kebutuhan Madrasah-madrasah yang semakin banyak berdiri di Sumatera Barat. Buku-buku hasil karya Abdul Hamid sampai sekarang masih terus dicetak ulang dan tetap dipakai sebagai buku pelajaran di madrasah-madrasah, tidak hanya di daerah Sumatera Barat, bahkan juga di daerah-daerah lainnya di seluruh nusantara ini (Edwar, 1981: 205-206).

Di antara buku-buku yang ditulisnya adalah:

  1. Mabadi Awwaliyah
  2. Assullam
  3. Albayan
  4. Alhidayah ila Ma Yanbaghi min al-Ziyadah ‗ala alBidayah, dan
  5. Tahdzib al-Akhlaq (Edwar, 1981: 205-206). 

Suatu hal yang perlu dicatat ialah bahwa walaupun ABdul Hamid tidak pernah belajar atau pun merantau ke negeri-negeri Arab, namun penguasaannya terhadap bahasa Arab adalah sedemikian kuatnya, sehingga semua buku-buku hasil karyanya ditulis dalam bahasa Arab yang cukup jelas dan mudah dipahami. Penguasaannya yang sempurna terhadap bahasa Arab ini dimungkinkan oleh kesungguhannya belajar dan banyak membaca, ditambah pula oleh pengalamannya mengajarkan ilmu-ilmu agama selama bertahun-tahun dan terus-menerus semenjak usia mudanya (Edwar, 1981: 205-206).

Pada hari Senin 7 Muharram 1379 H/13 Juli 1959 seorang ulama yang sangat disegani dan disayangi umatnya dipanggil oleh Allah SWT. Kepribadiannya yang kuat, budi bahasanya yang luhur tetap berkesan dan senantiasa menjadi suri tauladan bagi kita semua. Kesalehan dan kesederhanaannya tetap menjadi contoh yang patut ditiru oleh para pemimpin pada masa selanjutnya (Edwar, 1981: 205206).

C. Pemikiran Pendidikan Abdul Hamid Hakim

Dalam memberikan pelajaran, Abdul Hamid selalu merangsang murid-muridnya untuk selalu berpikir dan bersikap kritis. Ia tidak pernah memaksakan suatu pendapat tertentu kepada murid-muridnya. Dikemukakannya beberapa pendapat ulama mengenai masalah tertentu, kemudian diserahkannya kepada mereka untuk berpikir dan menilai mana yang lebih sesuai. Dengan demikian ia membiasakan mereka untuk berpikir merdeka, menjauhi sikap taklid dan ta‘ashub. Walaupun ia mempunyai kecondongan kepada Mazhab Syafi‘i  dalam ilmu Fiqih, namun ia tak pernah mencela pendapat-pendapat lain diluar mazhab itu (Edwar, 1981: 203).

Karena metode pendidikannya yang demikian itu, maka murid-muridnya terbuka. Maka tak heranlah bila banyak di antara murid-muridnya berkembang dan menjadi calon-calon pemimpin yang berpikiran luas, bahkan banyak pula yang aktif mencempunkan diri dalam gelanggang politik, sehingga menjadi incaran para reserse Pemerintah Belanda yang berkuasa di masa itu. Pada suatu kali seorang reserse datang kepada Abdul Hamid dan berkata, Mengapa banyak di antara murid-murid Tuan aktif dalam bidang politik sehingga menambah beratnya tugas kami…?‖ Dengan tenang bercampur humor beliau menjawab, Saya juga heran, satu saya ajarkan, empat mereka dapat. Dan saya tidak pernah menyuruh mereka aktif dalam politik.‖ Jawaban ini sangat diplomatis dan membuat sang reserse tidak dapat berkutik lagi (Edwar, 1981: 203).

Di antara murid-murid Abdul Hamid yang sukses menjadi tokoh yang berrbobot dalam berbagai bidang, baik dalam bidang politik, diplomatik, pemerintahan, pendidikan, masyarakat, sosial dan kebudayaan antara lain: Abdul Rasyid, Zainal Abidin Ahmad, Mansur Daud Dt.Palimo Kayo, Mawardi Muhammad, Hamka, Nazaruddin Latief, Mukhtar Yahya, Prof.A.Hasymi, Rahmah El-Yunusiyah, Rasuna Said, dan Duski Samad.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Pemko Payakumbuh Berduka, Roza Thomas Wafat Usai Tabrakan Dengan Truk Colt Diesel

Payakumbuh,BeritaSumbar.com, - Kabar duka datang dari lingkungan Pemerintah Kota Payakumbuh. Pasalnya Roza Thomas (40), ASN di Kecamatan Payakumbuh Selatan mengalami kecelakaan lalu lintas setelah bertabrakan hebat dengan mobil colt diesel pada Kamis (8/4), pukul 22.30 WIB malam.
- Advertisement -

Indonesia Records Rilis 3 Versi Lagu ‘Bahagia Untukmu’ dari Rara Zen, Luddy Roos, dan Nay X Zul

Indonesia Records akan mengukir sejarah baru di industri musik Indonesia. Label musik tersebut merilis lagu Bahagia Untukmu karya Bagus Aryanto, Musisi asal Kota Malang, Jawa Timur. Lagu tersebut dirilis secara serentak dalam 3 versi pada 23 April 2021 di platform YouTube dan digital musik stores.

Pesisir Selatan,BeritaSumbar.com,- Polres Pesisir Selatan mengadakan Survei Tata Kelola Eksternal Polres 2021 intuk mendorong perbaikan kinerja Kepolisian Republik Indonesia, khususnya di jajaran Polres Pesisir Selata. Penilaian Indeks Tata Kelola (ITK) tersebut bertempat di aula pertemuan Mapolres Pessel, Kamis (8/4/2021).
- Advertisement -

Pemko Payakumbuh Berduka, Roza Thomas Wafat Usai Tabrakan Dengan Truk Colt Diesel

Payakumbuh,BeritaSumbar.com, - Kabar duka datang dari lingkungan Pemerintah Kota Payakumbuh. Pasalnya Roza Thomas (40), ASN di Kecamatan Payakumbuh Selatan mengalami kecelakaan lalu lintas setelah bertabrakan hebat dengan mobil colt diesel pada Kamis (8/4), pukul 22.30 WIB malam.

Kota Payakumbuh kembali Raih Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2021

Payakumbuh,BeritaSumbar.com,– Kota Payakumbuh berhasil meraih juara II Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2021 yang diserahkan langsung oleh Gubernur Provinsi Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah kepada Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi pada acara Musrenbang RKPD tingkat provinsi tahun 2021 di Hotel Grand Inna, Jumat(9/4).
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Padang Panjang Siap Laksanakan Belajar Tatap Muka

Padang Panjang, beritasumbar.com- Wakil Walikota Padang Panjang  Asrul menyatakan daerah tersebut siap menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang akan dimulai Senin, 11 Januari. "Kami meninjau...

Militer Ottoman Mulai Memakai Meriam pada 1420-an

Perkembangan militer yang paling penting selama periode bangkitnya Kerajaan Ottoman adalah pengenalan meriam dan senjata api lainnya. Senjata-senjata ini digunakan di Eropa Barat selama abad ke-14...

Bacaan Niat Puasa Senin Kamis

Puasa Senin Kamis dianjurkan oleh Rasulullah, bagi umat muslim baik laki-laki maupun perempuan.Sesuai dengan namanya, puasa sunnah ini dikerjakan setiap hari Senin dan Kamis. Puasa...

Doa Sebelum Tidur dan Filosofi Maknanya

Tidur adalah salah satu aktivitas semua orang. Tidur selain merupakan bentuk istirahat seseorang setelah beraktivitas, bisa bernilai ibadah, jika memang diniatkan untuk beribadah. Umat Islam...

Niat Mandi Sunah Sebelum Sholat Jumat

Hari Jumat adalah hari yang penuh dengan keberkahan. Di hari itu umat Islam dianjurkan banyak membaca zikir, doa, dan membaca surah-surah pilihan, seperti surah...

M.Natsir, Tokoh Pendidikan Islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup M.Natsir Muhammad Natsir gelar Datuk Sinaro Panjang, dilahirkan di Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Solok,...

Buya Hamka, Tokoh Pendidikan Islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup Hamka Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah atau Hamka,  lahir  di Sungai Batang,...

Daud Rasyidi, Tokoh Pendidikan Islam

DAUD RASYISIDI Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup Daud Rasyidi Daud Rasyidi dilahirkan dalam kalangan keluarga sederhana tahun 1890 H M/1279...

Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Tokoh Pendidikan Islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup Muhammad Jamil Jambek Syaikh Muhammad Jamil Jambek (disingkat Syaikh Jambek) dilahirkan di Bukittinggi...

Rahma El Yunusiyah, Tokoh Pendidikan Islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup Rahma El Yunusiyah Tokoh pendidikan dan Pejuang Islam wanita dari Sumatera Barat ini, lahir...
- Advertisement -