Limapuluh Kota, BeritaSumbar.com,- Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen gambir terbesar di dunia. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, masih ada satu persoalan yang kerap luput dari perhatian, yakni limbah hasil kempaan gambir yang sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal. Selama bertahun-tahun, limbah ini hanya dianggap sebagai sisa produksi, padahal menyimpan potensi besar sebagai bahan baku pewarna alami.
Berangkat dari kondisi tersebut, kami bersama masyarakat Nagari Talang Maur, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, mencoba melihat limbah gambir dari sudut pandang yang berbeda.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, limbah kempaan gambir dikembangkan menjadi pewarna alami untuk menghasilkan Batik Kalincuang, sebuah batik yang lahir dari kekayaan alam dan kearifan lokal nagari.
Batik Kalincuang bukan sekadar produk kerajinan. Ia adalah bukti bahwa inovasi tidak selalu harus berawal dari teknologi yang rumit. Inovasi dapat lahir dari kemampuan melihat potensi yang selama ini terabaikan. Limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi kini mampu memberikan nilai tambah, membuka peluang usaha baru, sekaligus memperkuat identitas daerah.
Bagi saya, inilah makna sesungguhnya dari peran perguruan tinggi. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan penelitian dan publikasi ilmiah. Hasil riset harus mampu hadir di tengah masyarakat, menjawab persoalan nyata, dan menciptakan perubahan yang dapat dirasakan langsung. Pengabdian kepada masyarakat menjadi jembatan agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang laboratorium, tetapi tumbuh bersama masyarakat.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Nasional yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program BIMA Tahun 2025, kami mendampingi masyarakat mulai dari proses pemanfaatan limbah gambir sebagai pewarna alami, pelatihan membatik, hingga pengembangan produk. Pendampingan tersebut melahirkan Batik Kalincuang yang kini mulai diproduksi oleh masyarakat sebagai salah satu produk unggulan Nagari Talang Maur.