spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Ini Kata Tim Dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi-Badan Geologi KESDM Tentang Fenomena Sinkhole di Situjuah
I

Kategori -
- Advertisement -

Limapuluh Kota, BeritaSumbar.com – Penanganan sinkhole (lubang amblas) yang sudah terjadi memerlukan langkah-langkah teknis yang hati-hati karena struktur tanah di sekitar lubang biasanya masih tidak stabil. Mengisi lubang secara sembarangan justru bisa memperburuk keadaan jika aliran air bawah tanah terhambat atau beban permukaan bertambah secara tidak merata.

​Berikut adalah prosedur standar penanganan sinkhole berdasarkan kaidah geoteknik:

​1. Tindakan Darurat (Segera)

​Isolasi Area: Pasang garis pembatas atau pagar dalam radius aman (minimal 5–10 meter dari bibir lubang) karena retakan seringkali meluas di bawah permukaan yang tampak utuh.

​Matikan Utilitas: Segera putus aliran listrik, gas, dan air di sekitar lokasi untuk mencegah ledakan, kebakaran, atau kebocoran air yang bisa mempercepat pengikisan tanah bawah permukaan.

​Evakuasi: Jika sinkhole terjadi di dekat bangunan, penghuni harus segera dievakuasi hingga ahli geoteknik menyatakan struktur bangunan tersebut aman.

​2. Metode Perbaikan Teknis

​Ada dua metode utama yang sering digunakan oleh tenaga ahli, tergantung pada lokasi dan ukuran lubang:

​A. Metode Reverse Filter (Penyaringan Terbalik)

​Metode ini paling direkomendasikan untuk sinkhole di lahan terbuka atau daerah karst agar air tetap bisa meresap tanpa mengikis tanah.

​Pembersihan: Sampah dan material lepas di dalam lubang dibersihkan hingga mencapai dasar yang stabil (batuan dasar).

​Lapisan Batu Besar: Bagian dasar diisi dengan batu pecah berukuran besar (15–30 cm) untuk menyumbat “tenggorokan” lubang namun tetap membiarkan air mengalir.

​Lapisan Gradasi: Di atasnya diisi dengan lapisan batu yang lebih kecil, lalu kerikil, dan terakhir pasir.

​Geotekstil: Lembaran kain geotekstil diletakkan di atas pasir untuk mencegah tanah permukaan masuk ke sela-sela bebatuan.

​Penutup (Topsoil): Lapisan terakhir diisi tanah dan ditanami rumput agar menyatu kembali dengan lanskap.

​B. Metode Grouting (Injeksi Semen/Kimia)

​Metode ini digunakan jika sinkhole mengancam fondasi bangunan atau jalan raya.

​Cement Grouting: Menyuntikkan campuran semen cair bertekanan tinggi ke dalam rongga bawah tanah untuk mengisi kekosongan dan memperkuat struktur batuan.

​Chemical Grouting: Menggunakan bahan kimia (seperti poliuretan) yang akan mengembang menjadi busa padat di dalam tanah. Ini efektif untuk mengangkat kembali lantai beton atau jalan yang amblas.

​3. Rehabilitasi dan Pemantauan

​Drainase Permukaan: Pastikan saluran air di sekitar lokasi diperbaiki agar air hujan tidak mengalir langsung ke arah bekas lubang. Permukaan tanah harus dibuat sedikit cembung agar air mengalir menjauh.

​Monitoring: Gunakan alat pemantau seperti inclinometer atau sensor retakan jika lubang berada di dekat infrastruktur penting untuk mendeteksi pergerakan tanah susulan.

​Peringatan Penting: Jangan membuang sampah, puing bangunan, atau limbah kimia ke dalam sinkhole. Hal ini tidak hanya gagal memperbaiki struktur, tetapi juga dapat mencemari sumber air tanah (akuifer) yang biasanya terhubung langsung dengan sistem gua bawah tanah di daerah 50 Koto.

Fenomena tanah amblas atau pergerakan tanah di Kabupaten Limapuluh Kota (50 Koto), Sumatra Barat, secara geologi bukanlah kejadian tunggal, melainkan hasil interaksi antara kondisi batuan purba, aktivitas tektonik, dan pengaruh iklim ekstrem.

​Berikut adalah penjelasan penyebabnya dari sudut pandang geologi:

​1. Struktur Geologi dan Sesar Aktif

​Kabupaten Limapuluh Kota berada sangat dekat dengan Sistem Patahan Besar Sumatra (Sesar Semangko), khususnya Segmen Sianok dan sekitarnya.

​Retakan Batuan: Aktivitas tektonik terus-menerus menyebabkan batuan di bawah permukaan mengalami retakan (joints) dan patahan kecil.

​Ketidakstabilan Lereng: Struktur patahan ini membuat massa batuan tidak lagi solid (kompak), sehingga mudah bergeser atau amblas saat menerima beban tambahan dari air hujan atau getaran gempa.

​2. Karakteristik Batuan dan Tanah (Litologi)

​Daerah seperti Gunung Omeh dan Pangkalan memiliki komposisi batuan yang rentan:

​Batuan Vulkanik Lapuk: Banyak wilayah di 50 Koto tersusun dari batuan hasil letusan gunung api masa lalu (seperti tuff atau batu apung). Batuan ini cenderung berpori, ringan, dan jika mengalami pelapukan, berubah menjadi tanah yang sangat gembur dan mudah jenuh air.

​Likuifaksi dan Rayapan (Creeping): Pada kondisi tertentu dengan curah hujan ekstrem, tanah hasil pelapukan ini kehilangan kekuatannya dan berperilaku seperti cairan (likuifaksi) atau bergerak perlahan menuruni lereng (rayapan), yang terlihat sebagai tanah amblas pada bangunan.

​3. Fenomena Karst (Lubang Amblasan/Sinkhole)

​Beberapa wilayah di Limapuluh Kota (seperti di sekitar Harau atau Pangkalan) memiliki formasi batu gamping (limestone).

​Pelarutan Kimiawi: Air hujan yang bersifat asam bereaksi dengan batu gamping, melarutkannya dan membentuk rongga-rongga atau sungai bawah tanah.

​Sinkhole: Jika atap rongga bawah tanah tersebut sudah terlalu tipis atau kehilangan tekanan air di dalamnya, permukaan tanah di atasnya akan amblas secara tiba-tiba membentuk lubang besar (sinkhole).

Kesimpulan

​Secara geologi, fenomena tanah amblas di Kabupaten Limapuluh Kota merupakan konsekuensi dari kondisi wilayah yang berada di jalur Sesar Semangko, di mana batuan dasarnya telah mengalami banyak retakan dan pelapukan intensif menjadi tanah yang gembur. Kondisi ini diperparah oleh topografi perbukitan yang curam serta adanya potensi formasi batuan kapur (karst) yang dapat membentuk rongga bawah tanah, sehingga ketika curah hujan ekstrem masuk ke dalam celah-celah tersebut, tekanan air meningkat dan memicu pergerakan massa tanah atau runtuhnya permukaan tanah secara tiba-tiba.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img