Solok ,Beritasumbar.com, — Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Agroteknologi melaksanakan kegiatan Pengabdian Kemitraan Masyarakat (PKM) bersama Kelompok Tani Minang Saiyo di Kabupaten Solok melalui penerapan teknologi granulasi kompos berbasis bahan lokal, seperti kotoran sapi dan hijauan. Kegiatan ini bertujuan mendorong pertanian berkelanjutan sekaligus meningkatkan kinerja usaha kelompok tani.
Kegiatan pengabdian ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Batch 3 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendikbudristek Tahun Anggaran 2025. Pelaksanaan program dilakukan melalui delapan kali kunjungan lapangan secara bertahap dan berkelanjutan.
Dalam setiap kunjungan, tim pengabdian menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi yang berpengalaman dalam pengolahan pupuk organik. Praktisi tersebut mendemonstrasikan secara langsung penggunaan alat granulator, mulai dari persiapan bahan baku hingga menghasilkan kompos granular yang siap dikemas dan dipasarkan.

Ketua tim pengabdian, Meisilva Erona, S.P., M.Si, menyampaikan bahwa pendampingan tidak hanya difokuskan pada aspek teknis produksi, tetapi juga pada penguatan manajemen usaha kelompok tani.
“Kami mendampingi kelompok tani dalam penyusunan manajemen keuangan sederhana agar pencatatan usaha lebih tertata, sekaligus memberikan pelatihan pemasaran online untuk memperluas jangkauan pasar produk kompos granular,” ujarnya.
Hasil dari rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan peningkatan kinerja usaha Kelompok Tani Minang Saiyo. Pendapatan kelompok tani mengalami kenaikan sekitar 25 persen dibandingkan sebelum pelaksanaan program. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kualitas produk yang lebih baik, kemasan yang menarik, serta mulai diterapkannya strategi pemasaran secara daring.
Selain itu, kompos granular hasil inovasi juga diujicobakan pada tanaman hortikultura. Hasil uji coba menunjukkan bahwa kompos granular lebih praktis digunakan dan memiliki potensi pelepasan hara secara bertahap, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
Melalui program ini, Kelompok Tani Minang Saiyo diharapkan dapat menjadi contoh penerapan pertanian sirkular di Sumatera Barat, dengan memanfaatkan limbah peternakan sebagai produk bernilai ekonomi. Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan petani dan ketahanan pangan daerah