Padang,BeritaSumbar.com,- Dosen dituntut serba bisa, tidak menguasai satu ilmu saja. Bobby misalnya, dosen UNAND memiliki backround di dunia kesehatan namun diminta untuk mengampu mata kuliah Modul Nusantara. Hal ini merupakan tantangan yang menarik. Menjadi dosen modul nusantara yang merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi 237 mahasiswa pertukaran dari 96 perguruan tinggi se Indonesia yang belajar di Universitas Andalas.
Tujuan modul nusantara yaitu membangun karakter mahasiswa yang menjalani pertukaran agar memiliki kemampuan berbaur dengan beragam latar belakang untuk meningkatkan nilai persatuan dan nasionalisme.
Mahasiswa akan merasa bosan dan kurang antusias jika pembelajaran hanya ceramah seputar teori yang terkesan metode monoton. Saya ingin memberikan pembelajaran yang menyenangkan agar materi dapat dijangkau dengan mudah oleh mahasiswa
Kegiatan mengenai kebhinekaan kali ini dilaksnakan di Meseum Etnografi Mentawai pada Minggu 22 Oktober 2022 yang diguide langsung oleh dosen antropologi Universitas Andalas yang juga sebagai dosen pengelola meseum etnografi tersebut, yaitu Maskota Delfi. Beliau merupakan dosen yang memang memiliki kajian yang fokus di kebudayaan sehingga belau mampu dengan lihainya menjelaskan segala pernak-pernik peralatan khas suku Mentawai yang digunakan dalam upacara adat Mentawai.. Melihat, mengenal, menelaah, dan membaca terkait Mentawai membawa sensasi tersendiri bagi Isti, mahasiswa Unand pertukaran dari Gorontalo. Bagi dirinya, mendengar nama Mentawai masih asing ditelinga, tanpa mengetahui apa Mentawai itu sebenarnya.
Suasana seram dirasakan mahasiswa ketika disambut dengan “gerbang” atau “gate” yang tertulis kalimat pembuka yakni “hati-hati dengan arwah” di depan Museum Mentawai. Sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Delfi, hal itu bermakna dimana orang suku Mentawai tidak menyukai hal yang terburu-buru atau “grasak grusuk”. Selain itu, hal terebut orang-orang suku Mentawai sangat menakuti arwah karena menurut mereka arwah itu ketika sudah mengincar salah satu jiwa manusia maka dikhawatirkan arwah tersebut akan membawa petaka bagi si pemilik jiwa tersebut.
Tidak hanya berbicara hal mistis tentang Mentawai, melainkan juga melihat tentang bagaimana cara suku Mentawai hidup, bertahan hidup dan berketurunan. Dimulai dari dari mereka kecil hinga menikah itu diatur dalam adat mereka secara turun temurun. Aspek paling menarik yang dijelaskan yaitu tato, mahar perkawinan, dan cara komunikasi.
Membahas tentang tato Mentawai, tato sendiri adalah sebuah seni yang dituangkan dalam bentuk tulisan dan gambar dimana wadahnya adalah tubuh makhluk hidup. Akan tetapi, di Mentawai sendiri tato melambangkan bahwa mereka adalah bagian dari Mentawai. lambang suku Mentawai berbeda anatar jenis kelamin dan asal suku mereka.
Tato di Mentawai digambar untuk mencirikan kekuatan mereka, contoh ada seorang laki-laki yang hebat memburu monyet maka laki-laki tersebut bisa menggambar tato ditubuhnya seekor monyet. Jika ada pemuda yang menggambar hewan namun ia tidak hebat dalam memburu hewan tersebut maka itu diibaratkan aib bagi laki-laki tersebut. Maka dari itu dalam hal membuat tato bukan hanya terkait seni melainkan banyak hal yang dapat dimaknai melalui tato tersebut di suku Mentawai.
Selanjutnya membahas tentang mahar perkawinan di Mentawai, secara general mahar perkawinan biasanya direalisasikan dalam bentuk uang atau emas. Hal tersebut berbeda di Mentawai. Hewan babi, pohon durian, tambak ikan, dan pohon sagu sangat umum digunakan sebagai mahar di pernikahan.
Di Mentawai juga dikenal dengan musyawarah, maka dari itu pembahasan tentang mahar masih bisa untuk ditekan atas kesepakatan musyawarah bersama antar kedua belak pihak. Biasanya, pemuda di Mentawai yang sudah berumur 20 tahun sudah dituntut untuk bisa membuat rumah terlebih dahulu baru ia bisa meminang seorang perempuan untuk ia jadikan sebagai seorang istri.
Terakhir membahas tentang cara orang-orang berkomunikasi khas Mentawai. Selain pengunaan bahasa yang berbeda, cara orang-orang berkomunikasi antar sesama secara simbolis dengan tuddukat. Penggunaan tuddukat ini tidak bisa digunakan oleh sembarang orang, hanya digunakan oleh sikerei (tetua adat). Tuddukat dapat digunakan untuk komunikasi apabila ada orang yang meninggal, orang yang mendapatkan buruan yang banyak, dan lainnya.
Penggunaan alat ini jika dibunyikan oleh sembarang orang dan menghasilkan bunyi yang tidak seharusnya maka orang tersebut dapat dihukum. Contoh, ada seorang warga bernama A meninggal dan diumumkannya lewat tuddukat, namun ternyata bunyi yang dihasilkan dimaknai bahwa yang meninggal adalah si warga bernama B maka warga tersebut Bersama keluarganya dapat menutut kepada yang membunyikan tuddukat atas informasi yang salah tersebut. maka diperlukan kehati-hatian dalam membunyikan tuddukat tersebut.
Ketika mahasiswa berbeda budaya yang tidak sesuai atau tidak sesuai dengan budaya lokal Indonesia, di sinilah Bobby, dosen modul nusantara berperan untuk mengidentifikasi, menganalisis, serta mengarahkan mahasiswa untuk selalu melihat dari segi kepantasan moral sesuai nilai-nilai dan budaya bangsa Indonesia yang penuh dengan Keragaman. Pengetahuan budaya autentik dari daerah lain tidak hanya untuk menambah wawasan, namun juga mengenalkan Keragaman budaya agar melatih rasa empati dan simpati mereka dengan budaya luar daerah mereka yang masih dalam kesatuan Republik Indonesia.