Oleh: Virtuous Setyaka
Salah satu pembelajaran penting bahkan pokok dalam Modul Nusantara yang harus diikuti oleh para peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) 2 yang inbound di Universitas Andalas adalah refkleksi sambil rekreasi.
Alam Takambang Jadi Guru, Rekreasi, dan Refleksi
Alam takambang jadi guru dari Bahasa Minangkabau, jika dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia adalah alam yang terkembang menjadi guru kehidupan manusia. Sebagaimana pepatah lainnya bahwa dimanapun tempat adalah sekolah, dan siapapun orang adalah guru. Maka siapapun diri kita sebagai manusia, harus mau dan mampu belajar dari apapun dan siapapun yang ada di luar diri kita agar menjadi manusia yang arif bijaksana dengan pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan.
Rekreasi secara harfiah berarti ‘membuat ulang’, adalah kegiatan yang dilakukan untuk penyegaran kembali jasmani dan rohani seseorang. Hal ini adalah sebuah aktivitas yang dilakukan seseorang di samping bekerja. Kegiatan yang umum dilakukan untuk rekreasi adalah pariwisata, olahraga, bermain, dan hobi.
Refleksi adalah istilah yang dikenal juga sebagai cerminan, gambaran, bayangan, pantulan, introspeksi, kontemplasi, pemikiran, dan perenungan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), refleksi adalah gerakan, pantulan di luar kemauan (kesadaran) sebagai jawaban atas suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar. Cara bagi (maha)siswa untuk meresapi atau mendalami pengetahuan yang baru dipelajari dengan bantuan guru/dosen. Proses ini menjadi bagian penting dalam pendidikan.
Kegiatan mengunjungi Ekowisata Sungkai Green Park (ESGP) yang berada di Sungkai, Lambung Bukik, Pauh, Padang, Sumatera Barat, Indonesia, adalah sebuah kegiatan untuk mengajak sekitar 80 orang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta yang berada dari Banten sampai Merauke tersebut untuk menyegarkan kembali keadaan mereka secara jasmani dan rohani di akhir pekan di sela-sela Ujian Tengah Semester (UTS) dalam perkuliahan yang mereka ikuti di Universitas Andalas.
Mengambil kegiatan dengan nama Alam Takambang Jadi Guru, selain rekerasi, mereka diajak dan diawasi oleh para dosen Modul Nusantara (MN) yaitu Yunarti, Virtuous Setyaka, Eli Ratni, dan Bobby Febri Krisdianto; serta mahasiswa liaison officer (LO) yaitu Aprilia Nofita, Darul Islam, Muhammad Nabil Khaini, dan Shifa Jauzaa Martabaya, untuk melakukan refleksi. Di ESGP, para dosen, LO, dan peserta PMM 2 disambut oleh sosok petani dan keluarganya yang sehari-hari bekerja dan hidup di sana, yaitu Rimbra Syaiful.
Rekreasi yang dilakukan adalah menikmati pemandangan atau panorama yang indah dan masih terjaga karena dirawat oleh keluarga petani yang hidup di situ. Selain beragam jenis tanaman yang dipelihara di pekarangan, di lahan pertanian, juga di lanskap perbukitan yang ada di sana; ada sungai dengan ikan yang terpelihara, ada juga pondok-pondok untuk berteduh dan berkegiatan, serta kolam-kolam dengan beragam kegunaan.
Refleksi dilakukan sejak pertama kali para mahasiswa itu diberangkatkan dari dan dipulangkan ke asrama mahasiswa di Universitas Andalas. Mereka diajak untuk bepergian dengan tujuh angkutan kota (angkot) yang ada di Kota Padang menuju Kantor Kelurahan Lambung Bukik yang berjarak sekitar 4 kilomenter. Mereka menikmati perjalanan yang tidak selalu mulus karena mobil angkot yang mogok dan jalan yang tidak rata dan bergelombang penuh lobang. Setelah itu para mahasiswa diajak untuk berjalan kaki sejauh 1 kilometer menuju lokasi, dari Kantor Lurah Lambung Bukik ke ESGP.
Refleksi berikutnya, akan dipaparkan dalam uraian berikut ini tentang alam dan lingkungan, kehidupan petani, dan relevansinya dengan kehidupan mahasiswa keseharian.
Masalah Lingkungan dan Pertanian Global
Setidaknya ada dua permasalahan besar atau global yang bisa menjadi bahan refleksi para mahasiswa, pertama adalah masalah lingkungan dan kedua adalah masalah pertanian dalam konteks tata kelola kehidupan bersama di dunia.
Isu lingkungan, terutama berkaitan dengan pemanasan global dan perubahan iklim, menjadi masalah yang tidak bisa dielakkan oleh setiap orang. Begitupun isu pertanian yang berkelajutan karena hal itu berdampak langsung kepada isu keamanan dan kedaulatan pangan. Bahkan dalam tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs), yang merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, disebutkan bahwa hal-hal tersebut harus menjadi perhatian guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan.
Petani adalah sosok yang strategis ketika posisi dan peran mereka diperhatikan dalam konteks tersebut. Mereka bukan hanya menjadi sosok kepahlawanan dalam konteks penyediaan bahan-bahan pangan bagi masyarakat dunia. Mereka juga merupakan sosok kepahlawanan kongkrit yang sesungguhnya berkaitan langsung dengan menjaga dan melindungi lingkungan yang dibutuhkan. Permasalahannya adalah mereka juga tidak bisa menjadi sosok pahlawan yang dibutuhkan dengan sendirinya karena kita semua hidup dengan terkoneksi dalam struktur dan sistem global, tidak hanya di tingkat lokal, namun nasional, dan bahkan internasional.
Oleh sebab itu, untuk menjaga dan merawat sumber daya-sumber daya alam dalam berproduksi apapun, para petani juga membutuhkan dukungan secara struktural dan sistemik. Permasalahan global yang seolah hanya menjadi permasalahan petani sampai saat ini setidaknya ada beberapa yang bisa diidentifikasikan.
Pertama, permasalahan internal mereka di mana para petani harus mampu dan mau bekerja untuk berproduksi dan mendistribusikan yang mereka hasilkan secara kolektif. Para petani tidak bisa dan dibiarkan begitu saja bekerja sendiri-sendiri atau secara individual, mereka harus kolektif dan terorganisir. Tidak hanya dalam konteks teknis budi daya pertanian, namun lebih dari itu ada berbagai permasalahan sektoral yang harus dihadapi dan diselesaikan. Secara ekonsomi, sosial, budaya, politik, dan tentu saja terkait lingkungan. Untuk itu, mereka akhirnya harus dilihat dalam posisi dan peran mereka dalam struktur dan sistem yang ada, dan secara langsung melibatkan faktor eksternal mereka.
Kedua, faktor eksternal yang menjadi permasalahan para petani adalah ketika secara struktural dan sistemik mereka harus berhadapan dengan rezim politik, ekonomi, dan lingkungan. Rezim-rezim yang secara relasional ada di arena politik yaitu negara di arena ekonomi yaitu pasar, dan keduanya juga mempengaruhi arena lingkungan dengan ditambah keberadaan organisasi-organisasi masyarakat sipil yang secara global seeingkali justru meminggirkan eksistensi para petani.
Ketiga, masalah-masalah yang dihadapi para petani secara riil dan kongkrit dalam kaitannya dengan isu pangan dan lingkungan masih di seputaran ketersediaan lahan, akses permodalan, sarana produksi dan teknologi pertanian modern, sarana distribusi khususnya pemasaran yang ramah petani, dan juga kebijakan-kebijakan yang seharusnya pro-petani dan pertanian.
Para mahasiswa, khususnya peserta PMM 2 di Universitas Andalas, diharapkan untuk mengetahui, memahami, dan bahkan mampu memberikan solusi dari beragam permasalahan tersebut. Dengan demikian, dalam program ini mereka tidak hanya diajak untuk berrekreasi dan berrefleksi saja, namun mereka juga diharapkan untuk berkontribusi sosial secara nyata. Kepedulian mereka kepada lingkungan, petani dan pertanian, sesungguhnya juga menjadi kepedulian mereka terhadap diri mereka sendiri dan masa depan mereka sebagai generasi yang akan memimpin bangsa, masyarakat, dan negara yang ada di nusantara ini.
Penulis adalah Dosen HI FISIP Unand, Dosen MN PMM2 Unand, dan Ketua Koperasi Mandiri Dan Merdeka (KMDM).