spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

WASPADAI DURASI TIDUR PENDEK PADA PENDERITA PENYAKIT JANTUNG
W

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Ns. Mulyanti Roberto Muliantino, S.Kep., M.Kep
Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Tidur merupakan waktu dimana terjadinya penurunan status kesadaran yang terjadi pada periode tertentu, terjadi secara berulang dan merupakan proses fisiologis tubuh yang normal. Proses tidur melibatkan keadaan fisiologis yang dipertahankan oleh kerjasama dari sistem saraf pusat yang berkaitan dengan perubahan pada sistem saraf perifer, kardiovaskular, pernapasan, neuroendokrin, muskular dan berkaitan dengan mekanisme terjaga dan tidur. Tahapan tidur yang normal terdiri dari 2 fase yaitu Nonrapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Selama tidur NREM seseorang mengalami kemajuan dalam 4 tahapan tidur dan diakhir dengan tidur REM selama 90 menit. Selama fase REM terjadi konsolidasi memori dan pemulihan psikologis.

Pusat pengaturan tidur terletak di Reticular Activating System (RAS) yang dapat menerima rangsangan visual, pendengaran, nyeri, perabaan dan dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir. RAS merupakan sel khusus yang mempertahankan kewaspadaan dan terjaga. Neuron dalam RAS akan melepaskan katekolamin dalam keadaan sadar. Pelepasan serotonin dari sel khusus yang terletak di pons dan batang otak tengah yaitu Bulbar Synchronizing Regional (BSR) akan menyebabkan seseorang untuk tidur. Tubuh  mengatur agar kadar hormon melatonin agar tetap tinggi sepanjang malam untuk mempertahankan kualitas tidur (Potter & Perry, 2006; Smeltzer & Bare, 2013).

Saat tertidur individu akan menutup mata dan berada pada posisi rileks. Tidur berfungsi dalam pemulihan fisiologis dan psikologis, sebagai waktu perbaikan dan persiapan untuk periode terjaga berikutnya. Selama tidur gelombang rendah akan dilepaskan hormon pertumbuhan untuk perbaikan dan perbaruan sel epitel. Selain itu tidur berguna untuk menyimpan energi, terjadi relaksasi otot skelet secara progresif, tidak ada kontraksi, penurunan laju metabolik basal dan menyimpan energi untuk proses seluler.

Menurut Wang (2016) terdapat hampir 30% lebih individu tidur kurang dari 6 jam per hari, hal ini mengakibatkan perasaan tidak bugar dan kelelahan saat bangun, mengantuk di siang hari. Penyakit kardiovaskular berkaitan erat dengan perubahan fisiologis tidur dan gangguan tidur. Selain itu perubahan fisiologis tidur juga dapat meningkatkan perkembangan penyakit kardiovaskular. Sistem saraf otonom yaitu sistem saraf simpatis dan parasimpatis memiliki peranan penting terkait hal ini (Tobaldini et al, 2017). Pengaturan fungsi kardiovaskular oleh saraf simpatis dan parasimpatis bertujuan memelihara homeostasis tubuh, aktivitas tersebut dipengaruhi oleh tidur dan dimodifikasi dalam tahapan tidur yang berbeda melalui pengaturan  yang terjadi pada refleks medulary.

Perkembangan penyakit kardiovaskular seperti jantung koroner dan kaitan dengan durasi tidur diakibatkan oleh disregulasi kontrol otonom kardiovaskular, gangguan respon inflamasi dan imunitas, serta deregulasi sistem leptin-ghrelin dan sensitivitas insulin. Kurang tidur akut dapat menginduksi peningkatan modulasi simpatis. Rekomendasi total waktu tidur berdasarkan National Intitutes of Health yaitu 10 jam untuk anak-anak, 9-10 jam untuk remaja dan 7-8 jam untuk dewasa. Studi yang dilakukan Tobaldini et al tahun 2017 menemukan sekitar 50%  pasien penyakit jantung koroner mengalami sleep apnea, obstruktif sleep apnea lebih tinggi pada pasien dengan penurunan fraksi ejeksi. Sleep apnea merupakan episode apnea berulang, yang terjadi selama tidur, yang menyebabkan desaturasi oksigen darah. Selama periode sleep apnea terjadi peningkatan tekanan darah dan fluktuasi denyut jantung mengalami penurunan  dan kemudian takikardia saat pernapasan kembali serta aktivitas berlebihan dari saraf simpatis. Mekanisme utama yang terlibat dalam sleep apnea yaitu hipoksia berulang yang menginduksi kemoreseptor sehingga terjadi depresi spontan dari sensitivitas baroreflek, dan aktivasi sistem saraf simpatis. Pada keadaan sleep apnea ditemukan aktivitas berlebihan saraf simpatik dan peningkatan kadar noradrenalin (Calandra-Buonaura et al, 2016). Selain itu juga terjadi mekanisme respon inflamasi sistemik, aktivasi trombosit dan agregasi platelet, stress oksidatif, gangguan metabolik dan disfungsi endotel (Tobaldini et al, 2017).

Studi Tobaldini et al (2017) juga menjelaskan bahwa insomnia berkaitan erat dengan gangguan kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner, dan meningkatan resiko mortalitas kardiovaskular. Insomnia membuat individu sulit untuk memulai tidur dan semakin mengurangi durasi tidur. Hasil yang ditemukan dari restriksi tidur (4 jam per malam) selama 1 minggu, terjadi penurunan vasodilatasi endotelial dan peningkatan aktivitas inflamasi dan metabolik (Sauver et al, 2015). Gangguan tidur secara umum seperti kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur serta durasi tidur yang terlalu lama atau terlalu pendek menjadi masalah yang sering terjadi pada pasien penyakit jantung koroner.

Beberapa tahun terakhir kebiasaan tidur dan durasi tidur dilaporkan menjadi faktor penting dalam perkembangan dan onset penyakit jantung koroner. Kurang tidur  mengakibatkan gangguan pada sistem metabolik dan endokrin, sehingga akan berefek pada gangguan kardiovaskular. Berbagai penelitian menjelaskan hubungan durasi tidur dengan resiko dan prognosis penyakit jantung koroner. Durasi tidur kurang dari 6 jam per hari menjadi faktor resiko dan gejala klinis penyakit jantung koroner. Sekitar 30% lebih individu tidur kurang dari 6 jam per hari, hal ini mengakibatkan perasaan tidak bugar dan kelelahan saat bangun, mengantuk di siang hari serta fatigue (Wang et al, 2016). Studi yang dilakukan Sharma, Sawhney & Panda (2014) juga membuktikan bahwa durasi tidur yang pendek (kurang dari 6 jam per hari) secara signifikan berhubungan positif dengan penyakit jantung koroner. Studi lain yang dilakukan Matsuda et al (2017) menemukan durasi tidur yang pendek sebanyak 35,3% dari 1071 pasien gangguan kardiovaskular di Keio University Hospital dan berkontribusi 59,3% terhadap kualitas tidur yang buruk. Penelitian yang dilakukan Grandner et al (2012) menjelaskan hubungan signifikan durasi tidur yang pendek dengan infark miokardiumdan penyakit jantung koroner.

Berbagai penelitian menjelaskan bahwa individu dengan tidur malam 7-8 jam beresiko rendah terhadap penyakit jantung koroner. Durasi tidur kurang dari 6 jam memiliki resiko tinggi penyakit jantung koroner, dimana setiap penurunan 1 jam durasi tidur, mengakibatkan kenaikan 11% resiko penyakit jantung koroner. Durasi tidur yang lebih lama 1 jam meningkatkan 7% resiko penyakit jantung koroner dibanding individu yang tidur malam 7-8 jam.

Menurut Wang terdapat berbagai mekanisme yang berkaitan dengan durasi tidur yang singkat sehingga meningkatkan resiko penyakit jantung koroner. Durasi tidur yang pendek mengakibatkan peningkatan level ghrelin dan penurunan leptin, sehingga meningkatkan nafsu makan, intake kalori, menurunkan pengeluaran energi dimana akan meningkatkan berat badan dan penyakit jantung koroner. Hal lain yang terjadi adalah peningkatan konsentrasi glukosa darah, tekanan darah, kadar kolesterol dan resiko kalsifikasi arteri koroner serta aterosklerosis. Pengaktifan sistem saraf simpatis, meningkatkan kortisol dan gangguan pada metabolisme growth hormon juga menjadi resiko. Durasi tidur yang singkat juga meningkatkan agen inflamasi terutama CRP dan interleukin (IL-6) yang berperan dalam perkembangan penyakit jantung koroner. Terakhir kurang tidur biasanya berkaitan dengan status yang tidak sehat, seperti stress psikologis, disfungsi imunitas yang meningkatkan resiko penyakit jantung koroner.

Dengan demikian sangat penting mempertahankan kecukupan waktu istirahat tidur untuk mempertahankan proses fisiologis tubuh dalam me-recharge energi dan menyiapkan kembali fungsi tubuh untuk aktivitas pada periode terjaga berikutnya. Jangan menunda waktu tidur jika mata sudah mengantuk, karena ketika mata mengantuk merupakan sinyal bahwa tubuh butuh beristirahat.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img