Pesawat AirAsia QZ8510 rute Surabaya-Singapura yang hilang sejak Minggu pagi (28/12) tidak memancarkan sinyal darurat ke bandara-bandara terdekat di sekitar lokasi pesawat tersebut hilang kontak. QZ8510 diduga hilang di antara perairan Tanjung Pandan dan Pontianak.
Direktur Operasi Badan SAR Nasional, Mayjen TNI Tatang Zainudin, menyatakan sinyal darurat seharusnya dikeluarkan oleh alat Emergency Locator Transmitter (ELT) yang ada di pesawat tersebut.
“Kantor Basarnas bisa menangkap sinyal yang dipancarkan ELT. Tapi dari tadi pagi tidak ada sinyal dari AirAsia. Saya cek ke Australia, Singapura, Vietnam, juga tidak ada yang menerima (sinyal darurat),” ujar Tatang di Kantor Pusat Basarnas, Jakarta.
Jika tidak ada sinyal darurat yang terpancar dari AirAsia QZ8510, maka kemungkinan besar ELT di pesawat itu rusak dan tidak berfungsi dengan baik.
Untuk diketahui, ELT ialah alat yang terpasang di salah satu bagian pesawat. Apabila pesawat menyentuh permukaan tanah, ELT akan langsung memancarkan sinyal ke satelit yang bakal terdeteksi oleh alat milik Basarnas.
Basarnas mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya dan ikut menyebarkan berita-berita yang tak jelas kebenarannya terkait hilangnya QZ8510. “Isu yang mengatakan ada penumpang yang selamat, itu tidak benar. Untuk informasi yang pasti, silakan tanya langsung ke Basarnas,” kata Tatang.
AirAsia QZ8501 menghilang dari radar pendeteksi pesawat pukul 06.18 WIB pagi tadi, dan secara resmi dinyatakan hilang pada 07.55 WIB. Pesawat tersebut membawa 155 penumpang, 2 pilot, dan 5 kru kabin. Dari total 162 orang yang berada dalam pesawat, mayoritas merupakan warga negara Indonesia, yakni sebanyak 156 orang. Sementara 3 dari Korea Selatan, 1 Prancis, 1 Singapura, dan 1 Malaysia.
Sumber: CNN Indonesia