23 C
Padang
Kamis, Oktober 28, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

7,8 Milyar Penduduk Dunia
7

Kategori -
- Advertisement -

Artikel Berseri:

Seribu Asa untuk Bahagia

(ABSAB)

Seri12/1000

“7,8 Milyar Penduduk Dunia”

————————————————————————-

Oleh : H. Nofrijal, MA

Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Utama/IV-e

Responnya bisa “emang apa dan kenapa” dengan jumlah penduduk dunia sebesar 7,8 milyar di tahun 2021. Jawabannya ini adalah bukti bahwa penduduk bumi ini terus meningkat (jumlahnya), dinamis (pergerakannya) dan punya masalah-masalah mendesak yang harus disepakati dan dillaksanakan oleh bangsa-bangsa di dunia. Look, penduduk dunia dengan jumlah 7 milyar terjadi pada tahun 2011, sebelumnya tahun 1996 adalah 6 milyar. Dengan demikian terjadi lompatan percepatan setiap kenaikan 1 milyar, diproyeksikan jumlah penduduk 8 milyar akan terjadi di tahun depan 2022. Artinya dari 14-15 tahun pertambahan penduduk dunia 1 milyar dari tahun 1996 ke tahun 2011, maka kenaikan 1 milyar dari tahun 2011 ke tahun 2022 adalah 11 tahun atau terjadi percepatan 3-4 tahun, demikian kenaikan selanjutnya menuju angka 9 milyar, dimana akan ada lonceng peringatan kependudukan karena sudah melewati jumlah ideal penduduk dunia.

Pergeseran bisa terjadi pada peringkat jumlah penduduk setiap negara, pada tahun 2021 tidak mengalami perubahan yang signifikan dan 5 (lima) besar peringkat jumlah penduduk terbanyak adalah China dengan 1,4 milyar, India dengan jumlah 1,34 Milyar, Amerika Serikat dengan jumlah 332,4 juta, Indonesia di peringkat keempat dengan umlah 275 juta, Pakistan dengan jumlah 238 Juta. Mari kita lihat fenomena penduduk China dan India, yang diperkirakan akan terjadi pertukaran tempat dalam kenaikan 1 milyar berikutnya.

Perkembangan dan issues kependudukan dunia diobservasi setiap tahun dan diumumkan setiap tanggal 11 Juli yang ditetapkan sebagai “World Population Day atau WPD”. Tujuan utama adalah merefleksikan perhatian dan komitmen global yang di bawah komando Perserikanan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap issue yang mucul tentang kependudukan dan pembangunan yang melintas global. WPD dicetuskan pada tahun 1989 dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kepedulian terhadap issue kependudukan, termasuk hubungannya dengan lingkungan.

Setiap tanggal 11 Juli diselenggarakan peringatan hari kependudukan dunia yang tema dan sub temanya disesuaikan dengan issu-issu global dan kencendrungan arah kebijakan PBB. WPD melakukan review yang disebut dengan “World Populaton Report” secara bertingkat dan bermuara pada sidang tahunan CPD (Commission on Population and Development). United Natios (PBB) memiliki alat kerja untuk memantau dan mengidentifikasi issue-issue penting keadaan penduduk dunia yang saling mempengaruhi kebijakan global yang disebut dengan “Global Agenda” (1) Menyelenggarakan sidang khusus yang disebut dengan CPD (Commission on Population and Development), atas dasar laporan tahunan “world population report”. Pertemuan tahunan kependudukan & pembangunan yang dilaksanakan oleh UN secara bertingkat, nasional, regional dan puncaknya UN meeting markas PBB New York. (2) Mengangkat issue kepedudukan dan pembangunan yang ensensial dan krusial untuk mencari pemecahan masalah terhadap issue yang berkembang dan melibatkan seluruh anggota CPD. (3) Memobilisasi resources untuk disalurkan kepada negara-negara yang memerlukan penanganan cepat terhadap issue kependudukan yang berkembang. (4) United Nations melalui lembaga donor agency UNFPA memperbaharui komitmen dan kesepakatan baru serta perangkat kerjanya di negara-negara yang terwakili.

Tahun 2021 WPD mengambil thema “The impact of the Covid-19 pandemic on fertility”, atau Pengaruh Pandemi Covid- atas Kelahiran”. Kekhawatiran global atas meningkatnya angka kelahiran dan sekaligus memicu meningkatkan angka “unmet need”. Unmet adalah aksesibiltas pelayanan yang terhambat, berarti setiap pasangan/wanita usia subur yang ingin mendapatkan pelayanan kontrasepsi untuk mengatur kelahiran terhalang oleh faktor aksesibilitas berupa tempat, tenaga pelayanan, pembiayaan dan faktor budaya yang menghalangi. Unmet need juga menggambarkan pemenuhan hak-hak asasi manusia di bidang kesehatan reproduksi, pemerintah suatu negara. Peningkatan angka unmet need dalam masa pandemi Covid-19 juga diikuti dengan peningkatan jumlah “droup out, putus pakai pemakaian kontrasepsi, diperkirakan selama pandemi peserta KB aktif yang bersifat ulangan, seperti pil, kondom dan suntikan akan mengalami penurunan pengguna yang signifikant.

Dalam 5 tahun terakhir issues kependudukan dan pembangunan didominasi oleh issue kemiskinan dan ketidak adilan (1) Kematian ibu hamil dan bersalin pada tahun 2020 adalah sebesar 227,22/1000 kelahiran hidup, sedangkan ditargetkan sebesar 91,45/1000 KH, satu jarak yang jauh antara target dan capaian. (2) Terdapat 1 dari 10 pasangan/wanita usia subur di dunia adalah unmet need, secara absolut jumlahnya mendekati angka sebesar 150 juta wanita/pasangan usia subur. (3) Masih terjadi kasus-kasus kekerasan kepada perempuan dan anak, serta perdagangan anak dan perempuan sebagai cerminan ketidak adilan, berbarengan dengan itu jumlah anak perempuan yang terpaksa berhenti bersekolah dan menjadi tenaga kerja anak di bawah umur juga meningkat. (4) Dalam beberapa tahun belakang muncul issue “aging population” yang kenaikannya cukup tinggi, beberapa negara maju sudah memasuki dan berada “aging population countries” yang penanganan kependudukannya memiliki karakteristik tersendiri. (5) Issue tentang pengungsi “refugees” juga muncul ketika beberapa negara Timur Tengah dan negara-negara gurun Sahara Afrika menghadapi persoalan pengungsi yang tidak mudah diselesaikan secara diplomatik, (6) Tahun lalu sampai dengan tahun sekarang, issue pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap kelahiran, kematian dan kekerasan menjadi issue hangat dalam sidang-sidang CPD.

Tema CPD 2021 adalah “Kependudukan, Ketahanan Pangan, Nutrisi dan Pembangunan Berkelanjutan”. Tema ini juga menempatkan issue stunting dan kekurangan gizi menjadi prioritas negara anggota CPD yang dtuangkan kedalam rencana strategis nasional dan kerangka kerjasama global yang dapat saling membantu antar negara-negara anggota di bawah koordinasi United Nations Fund for Population Activities (UNFPA).

Bagaimana dengan Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara yang mempelopori terbentuknya Komisi Kependudukan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-bangsa-United Nations Commission on Population and Development (CPD) 54 tahun yang lalu, kemudian satu dari sedikit negara yang terlibat dalam mempersiapkan conferensi khusus berkenaan dengan kependudukan dan pembangunan yang disebut dengan “International Conference on Population and Development (ICPD) tahun 1994”, yang telah meletakan dasar-dasar komitmen global atas pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi di seluruh dunia. Peranan Indonesia yang strategis ini juga menempatkan program keluarga beberencana Indonesia menjadi “kiblat dan rujukan” negara-negara berkembang dalam pendekatan dan metode yang digunakan, sehingga banyak negara memperoleh pengalaman baik dari Indonesia.

Issu-issu gelobal yang disebutkan di atas, tidak bisa terhindarkan dari akibat pandemi Covid-19 yang telah memberi pengaruh besar terhadap upaya pembangunan kependudukan Indonesia. Dalam beberapa catatan statitisk tahun 2020, ketika Pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia,  kekerasan terhadap perempuan yang disingkat dengan KtP adalah sebesar 299.911 kasus, terdiri dari kasus yang ditangani Pengadilan Negeri/Pengadilan Agama sejumah 291.677 kasus; kasus yang ditangani Lembaga layanan mitra Komnas Perempuan sebesar 8.234 kasus; Unit pelayanan dan rujukan (UPR) Komnas Perempuan sebanyak 2.389 kasus baik kasus yangberbasis gender sebesar 2134 dan berbasis selain gender sebanyak 255 kasus. Dilaporkan juga terdapat peningkatan kasus kekerasan kepada perempuan yang drastis sebesar 60 % tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2020 dengan angka absolut sebesar 1.413 di tahun 2019 menjadi 2.389 kasus di tahun 2020. Di bidang keluarga berencana, tercatat rata-rata ibu hamil dan melahirkan adalah sekitar 5 juta orang, 2 juta diantaranya adalah kehamilan dari pasangan baru menikah. Problematik utama yang dihadapi, termasuk dalam masa pandemi Covid-19 adalah kelahiran bayi/anak stunting yang diperkirakan pada tahun 2021 sebesar 32%, ditambah dengan kasus anak/bayi yang bermasalah sebesar 7-10% yakni anak autis, cacat fisik dan cacat mental. Terjadi peningkatan jumlah ibu hamil baru (tambahan) selama pandemi Covid-19 sekitar 400-500 ribu sebagai kehamilan yang tidak diinginkan “unwanted pregnancy” (Kompas, Mei 2020). Indonesia, masih akan tetap bekerja untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kesejahteraannya melalui komitmen dan kerjasama yang kuat dan efektif.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img