28 C
Padang
Rabu, Oktober 20, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

BODEM: Karya Kependudukan
B

Kategori -
- Advertisement -

Artikel Berseri:

Seribu Asa untuk Bahagia

(ABSAB)

Seri13/1000

“BODEM: Karya Kependudukan”

————————————————————————-

Oleh : H. Nofrijal, MA

Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Utama/IV-e

Penyebutan aslinya adalah “demographic transisition” lalu terkenal dengan istilah “demoghraphic bonus”, bonus demografi yang disingkat dengan sebutan “bodem” merupakan transisi demografi, dimana terjadi pergeseran turunnya angka kelahiran total, “Total Fertility Rate (TFR)” yang berdampak langsung kepada menurunnya angka ketergantungan “dependency ratio” di singkat dengan “DR”, penurunan tersebut adalah ratio perbandingan usia produktif (usia kerja) dengan usia non produktif penduduk (usia non kerja). Indikator ikutannya adalah “Net Reprodukti Rate (NRR)” ketika TFR mendekati angka 2 per wanita usia subur, maka rata-rata anak lahir hidup yang berjenis perempuan adalah 1.

Angka ketergantuan (DR)  merupakan perbandingan (rasio) antara jumlah penduduk usia non produktif (0-14 tahun dan 65+tahun) dengan jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun). Pada tahun 2020 adalah 47,7 dengan wilayah terendah adalah DKI 42,0 Bali 43,3 (angka yang sama dengan Kalimantan tengah) dan Jawa Timur 43,9. Sementara pada tingkat global DR adalah 54,0. Pada puncak bodem pada tahun 2030 atau 2035 (karena masih ada perdebatan akademis tentang puncak bonus demografi Indonesia) maka  DR Indonesia diproyeksikan pada angka 46,9-47,3, sementara wilayah provinsi yang rendah DR nya adalah Kepulauan Riau 38,1-37,9, DKI 40,1-39,5, Kalimantan Tengah 40,3-39,9.

Keberhasilan Indonesia dalam menghadirkan transisi demografi-bonus demografi tidak terlepas dari hasil karya program kependudukan dan keluarga berencana Indonesia yang mulai ditangani oleh pemerintah semenjak tahun 1970. Apa yang menjadi buah bibir banyak orang, mulai dari Presiden sampai dengan Kepala Desa tentang bonus demografi, merupakan “karya nyata” BKKBN dengan jajaran dan jejaringnya sampai dengan tingkat desa/kelurahan. Pahlawan bodem yang paling berjasa adalah petugas lapangan, provider tenaga kesehatan, para kader institusi masyarakat pedesaan, kader PKK dan para pemegang kepentingan di semua lini kepemerintahan. Satu dari sekian keberhasilan pemerintahan orde baru adalah keberhasilan pengendalian kelahiran dari jumlah anak rata-rata wanita usia subur sebesar 5,6 tahun 1970 orang menjadi 2,6, tahun 1997 pada saat reformasi menjadi momentum baru penyelenggaraan kepemerintahan dan pembangunan Indonesia.

Pada awal kelahiran BKKBN, DR Indonesia berada di angka 80-an dan setelah 40 tahun program pengendalian kelahiran dilaksanakan, DR sudah berada pada angka 47,7 suatu prestasi pembangunan bidang kependudukan dan keluarga berencana. Perlu diingat dan dicermati bahwa keberhasilan tersebut baru dalam komposisi umur yang memperlihatkan usia produktif, Indonesia masih memerlukan analisa dan kerja berat bagaimana bonus kuantitatis tersebut bisa dimanfaatkan menjadi peluang-produktifitas dan kompetitiveness anak bangsa di dunia internasional dan di negara mereka sendiri.

Bodem ditunjukan oleh dua signal terang kependudukan (1) Replacemen level, ketika TFR sudah berada di angka 2,0 perwanita usia subur dengan NRR 1 yakni kelahiran bayi perempuan hanya 1 untuk menggantikan ibu atau perempuan yang melahirkannya. Ditemukan analisa sosiologis padangan tentang TFR dan NRR 1, dengan jumlah anak 2 laki-laki atau perempuan dan anak 1 perempuan setiap PUS/WUS menjadi keinginan/cita-cita spirit keluarga berencana bahwa 1 anak perempuan dimungkinkan untuk menggantikan posisi ibunya dalam “life span” kehiduan keluarga, kemudian 2 anak rata-rata akan menggantikan posisi demografis kedua orang tuanya setelah tidak memiliki produktifitas kesehatan reproduksi lagi.

Antara bonus dan pemanfaatan sering mengalami “kesenjangan”, ilustrasinya sebagai berikut: Pengendalian Kelahiran (KB) menghasilkan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk; pertumbuhan penduduk menghasilkan Bonus Demografi; Bonus demografi menghasilkan “Jendela Kesempatan”; Jendela Kesempatan bila dimanfaatkan menghasilkan tenaga dan pelaku kerja yang produktif; Tenaga kerja & pelaku usaha akan menghasilkan tabungan individu dan keluarga meningkat; Tabungan masyarakat meningkat, maka pasar dan ekonomi bergerak; dan akan menghasilkan peningkatan pendapatan/income per-kapita penduduk yang menjadi salah satu indikator kesejahteraan suatu negara.

Bagaimana memanfaatkan bodem sebagai kekuatan dan penyangga ekonomi nasional dan daerah masa depan, (1) Setiap wilayah kepemerintahan memiliki kebijakan yang jelas, terpadu dan terukur tentang pemanfaatan bodem menjadi kekuatan ekonomi daerah dengan penyediaan data, analisis  dan peta peluang untuk memanfaatkannya. Kebijakan ini tertuang dalam narasi induk atau lampiran Grand Design Program Kependudukan (GDPK), memuat kondisi saat ini, proyeksi, perkembangan dan tantangan dalam mengelola bonus demografi. (2) Menyediakan dan membuka lapangan pekerjaan yang banyak, menyediakan berati agenda pemerintah untuk menjalankan UUD 1945 dan memberikan kesejahteraan kepada rakyat, sementara membuka dapat berarti pencari kerja, pihak swasta dan masyarakat memberikan kesempatan kerja kepada angkatan kerja, ini juga mendorong pencari kerja untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri dengan life-skill yang dimiliki, peluang dan prospek yang tersedia. Demikian juga para perusahaan asing dan perusahaan nasional memberikan perhatian yang seksama untuk menambah dan menyediakan lapangan pekerjaan. (3) Setiap level wilayah pembangunan dan kepemerintahan melalui Kementerian/Lembaga, dinas/badan dan organisasi daerah yang terkait, memiliki kerangka kerja pemanfaatan bonus demografi di wilayahnya. (4) Setiap wilayah termasuk desa, menempatkan program membuka lapangan/peluang pekerjaan menjadi prasyarat utama bodem dapat dimanfaatkan. (5) Meningkatkan jumlah dan kualitas tenaga kerja yang dikirim/bekerja di luar negeri. Pemerintah Daerah dapat secara langsung dibawah koordinasi pusat melakukan kerja sama bilateral dan multilateral dengan pemasok/penerima tenaga kerja di luar negeri untuk menggerakan “remitten” (income negara dan daerah yang berasal dari luar) sebagai penyangga pendapatan daerah dan pendapatan negara.

Bagaimana caranya “jendela kesempatan dan puncak bonus demografi” di suatu negara bisa memberi manfaat dan berlangsung lebih lama, strateginya adalah: (1) Mempertahankan angka “replacement level kelahiran” di angka 2,0 per-wanita/usia subur dengan NRR 1, berati intensifikasi dan ekstensifikasi pelayaan kontrasepsi untuk pengendalian angka kelahiran tetap harus mengacu kepada unsur pemerataan, keberlangsungan dan kualitas pelayanan, (2) Perhitungan dan rencana penurunan angka dependency ratio dari formula kelahiran di setiap kab/kota, provinsi dan nasional terlaksana secara merata, walaupun “opportunity” nya datang secara berbeda-beda, (3) Memanfaatkanbonus demografi plus”, ketika pemerintah memberikan perhatian kepada produktifitas dan derajat kesehatan penduduk usia lanjut. Kebijakan pro lansia tangguh dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan usia bonus demografi dan memberi manfaat bagi kesejahteraan. Jangan biarkan bonus berlalu, karena bonus demografi yang tidak dimanfaatkan akan menjadi “bencana kependudukan” yang berkepanjangan.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img