Oleh : Gr. Bima Putra, S.Pd, M.Pd
(Guru Agama SMAN 1 Enam Lingkung & GPAI SDN 01 Ulakan Tapakis)
Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menyelesaikan amanah dengan baik. Termasuk menjadi pemimpin di dalam nagari atau desa. Kita tahu bahwa pemimpin dalam nagari secara pemerintahan dikenal sebagai Wali Nagari. ketika kita dipercayai oleh masyarakat untuk memimpin mereka, ada hal yang musti seorang Wali Nagari atasi yaitu mengatasi emosi.
Menurut penulis marah adalah musuh terbesarnya akal. Ketika seseorang marah, akal tidak akan memaksimalkan fungsinya. Gelap dan bahkan buta dan tidak mampu melihat kebenaran.
Imam Syafi’i rahimahullah menuturkan,
“Mata yang Ridha itu melihat seluruh aib sebagai sebuah keindahan. Namun mata kemarahan akan menampakkan semua keburukan.”
Sebagai wali nagari perlu kita sadari bahwa orang marah adalah berbicara tanpa aturan atau berbuat di luar kesadaran sehingga nanti ia akan sesali. betapa banyak kalimat talak diucapkan suami ketika marah, dan setelah kemarahannya reda ia sangat menyesal. Betapa banyak kemarahan menyebabkan hubungan persaudaraan menjadi putus, harta benda dirusak dan dihancurkan, betapa banyak pula wali nagari bermusuhan dengan masyarakatnya akibat kemarahan dari salah melakukan kebijakan pemerintahan.
Terkadang emosi ketika saat menjabat menjadi wali nagari dan sebelum menjabat kita cenderung berubah drastis. Contohnya saja waktu belum menjabat wali nagari, kita sering berkunjung ke rumah-rumah warga, bercengkrama sambil mengopi mendengarkan keluh kesahnya, memberikan solusi terhadap permasalahan ia hadapi. Bahkan rajin menyapa tiap hari. Lalu setelah dilantik sebagai wali nagari kita lupa semua itu. Lebih parahnya kita ingin diberlakukan seperti Tuan. tanpa kita sadari. Wali Nagari itu adalah jabatan pelayan masyarakat. Artinya Wali Nagari adalah pelayan.
Pada saat kesadaran kita berkurang, pada saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidak tak bertulang ini menjerumuskan kita ke dasar neraka. Oleh karena itu jika kita bisa mampu menahan amarah dengan berdiam, inshaallah kita bisa mengendalikan kata-kata yang terlontar dari mulut kita, dan inshaallah kita akan selamat dari murka Allah.
Sebagian ahli hikmah mengatakan bahwa Allah menciptakan satu lisan dan dua telinga. Diantara hikmahnya ialah agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sungguh, berbicara dalam keadaan marah, apalagi tujuannya hanya untuk melampiaskan kemarahan akan merugikan. Tentu yang keluar adalah hal-hal buruk yang akan kita sesali kelak. Marah karena ego adalah marah yang tercela. Maka, lebih baik kita diam, sebab pada saat itulah diam akan menjadi emas bagi kita.
Seperti pesan kebaikan dari imam Syafi’i : “jika engkau hendak berkata maka berpikirlah terlebih dahulu. jika yang tampak adalah kebaikan, ucapkanlah perkataan tersebut. Namun, jika yang tampak adalah keburukan atau bahkan engkau ragu-ragu, tahanlah dirimu (dari mengucapkan perkataan tersebut).”
Lalu bagaimana mengatasi emosi, yakni meredamkan amarah. meredam amarah adalah dengan mengambil posisi lebih rendah. Sebab, kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi, tinggi dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarah sepuasnya. Karena itulah, rasulullah memberikan saran agar marah ini bisa diredam dengan mengambil posisi lebih rendah dan lebih rendah.
“Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendaknya dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Seyogyanya jika kita posisikan dalam jabatan kita sebagai wali nagari. kita tahu banyak kesalahan atas emosi kita lakukan. Maka hendaklah kita sportif melakukan permintaan maaf kepada masyarakat kita. Lalu di periode berikutnya kita tidak mencalonkan diri kembali untuk dipilih serta tak ikut campur apapun lagi. Di akhir jabatan gunakan untuk bertaubat dan beristighfar kepada Allah SWT. Semoga dengan hal itu pada kesempatan berikutnya kita diberikan amanah lebih tinggi lagi dari wali nagari.
Penulis teringat pesan kebaikan dari Ibnu Qayyim al Jauziyyah : “Manusia masuk ke dalam neraka melalui tiga pintu ; pintu syubhat yang menimbulkan keraguan dalam agama Allah; pintu syahwat yang mendorong seseorang mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan dan ridha Allah; dan pintu amarah yang menimbulkan permusuhan di antara sesamanya.”
Percayalah! Jangan berputus asa untuk menahan emosi, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga kita minta bantuan orang sekitar kita, suami, istri, anak kita, pegawai, dan orang sekitar kita. Agar mereka segera mengingatkan kita dengan bahaya amarah.
Apabila penulis diberi amanah menjadi Wali nagari, maka penulis berupaya bisa melatih emosi. Karena pemimpin yang di cintai rakyatnya. Ia memimpin yang berhasil mengendalikan emosinya.