26 C
Padang
Selasa, April 23, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Terapi Antiretroviral (ARV) Pada Penderita HIV/AIDS
T

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Fitri Mailani

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan pathogen yang menyerang sistem imun manusia, terutama sel yang memiliki penanda CD 4+ dipermukaannya seperti makrofag dan limfosit T. HIV termasuk kelompok retrovirus yang berarti terdiri atas untai tunggal RNA virus yang masuk ke dalam inti sel pejamu dan ditranskripkan kedalam DNA pejamu ketika menginfeksi pejamu. Seseorang yang terinfeksi HIV, akan mengalami infeksi seumur hidup. Kebanyakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap asimtomatik (tanpa tanda dan gejala dari suatu penyakit) untuk jangka waktu lama. AIDS (acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah bentuk lanjut dari infeksi HIV, yang merupakan kumpulan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV berjalan sangat progresif merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga penderita tidak dapat menahan serangan infeksi jamur, bakteri atau virus.

Seiring dengan semakin memburuknya kekebalan tubuh. Penderita HIV/AIDS mulai menampakan gejala akibat infeksi oportunistik (penurunan berat badan, demam lama, pembesaran kelenjar getah bening, diare, tuberculosis, infeksi jamur, herpes, dan lain-lain). Sehingga penderita HIV/AIDS tidak akan meninggal dunia karena penyakit HIV/AIDS nya tapi karena penyakit komplikasi yang disebabkan oleh buruknya kekebalan tubuh penderita HIV/AIDS.

Sampai saat ini, belum ada jenis pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini, sehingga virus HIV akan menetap di dalam tubuh penderita seumur hidupnya. Namun, terdapat beberapa metode pengobatan yang dapat memperlambat perkembangan penyakit ini dan memperpanjang umur penderitanya, salah satunya dengan metode terapi antiretroviral (ARV). Terapi antiretroviral (ARV) adalah jenis pengobatan untuk perawatan penderita HIV/AIDS. Obat ARV ini tidak dapat menyembuhkan AIDS, namun dapat memperlambat perkembangan virus HIV. ARV telah terbukti mampu memperpanjang masa hidup penderita dan memperbaiki kualitas hidup penderita. ARV di minum seumur hidup oleh seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS.

Terapi antiretroviral (ARV) digunakan untuk memelihara fungsi kekebalan tubuh mendekati keadaan normal, mencegah perkembangan penyakit, memperpanjang harapan hidup dan memelihara kualitas hidup dengan cara menghambat replikasi virus HIV. Terapi antiretroviral (ARV) biasanya merupakan kombinasi dari tiga atau lebih obat dari beberapa kelas obat yang berbeda. Pendekatan ini efektif untuk menurunkan jumlah HIV dalam darah. Obat ARV juga terdiri dari beberapa kelas. Pemberian satu atau kombinasi beberapa obat ARV tergantung kepada kondisi medis penderita HIV/AIDS. Terdapat beberapa jenis obat ARV, dantaranya; Nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI), Nucleotide reverse transcriptase inhibitor (NtRTI), Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI), Protease inhibitor, Fusion inhibitor dan lain sebagainnya. Cara kerja obat ARV ini adalah mencegah virus HIV menggandakan dirinya sendiri, sehingga jumlah virus HIV dalam darah (viral load) bisa berkurang. Dengan menjaga virus HIV dalam tubuh tetap di jumlah yang sedikit, memberi waktu dan kesempatan kepada tubuh untuk memulihkan sistim imun dan memproduksi lebih banyak sel CD4. Meskipun masih ada beberapa HIV di dalam tubuh, sistem imun menjadi cukup kuat untuk melawan infeksi dan komplikasi yang bisa disebabkan oleh virus HIV. Dengan mengurangi jumlah HIV dalam tubuh, risiko penularan virus tersebut juga bisa dikurangi. Dengan demikian, tujuan utama dalam pengobatan terapi ARV ini adalah mencegah berkembangbiaknya virus HIV dalam tubuh dan menjaganya dalam jumlah yang tetap sedikit sekaligus mempertahankan sistim kekebalan tubuhnya tetap kuat.

Keberhasilan terapi ARV ini ini sangat tergantung kepada kepatuhan penderita dalam meminum obat sesuai resep dan waktu yang sudah ditentukan tanpa melewatkan dosis satu kali pun. Kepatuhan dalam menjalani pengobatan menjadi tantangan terberat bagi penderita yang menjalani terapi ARV ini mengingat pengobatan ini harus dilakukan seumur hidup penderita. Komunikasi terus-menerus dengan perawat dan dokter juga harus terjaga agar kondisi kesehatan penderita dapat terus terkontrol dan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas dari proses pengobatan. Perlu juga dicek secara berkala kepada dokter dan perawat tentang bagaimana respons tubuh terhadap obat-obatan yang dikonsumsi, karena berberapa obat ARV memiliki efek samping yang mungkin saja tidak bisa diterima oleh tubuh penderita.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img