24.2 C
Padang
Rabu, Januari 19, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Tahun Berganti Musim Bertukar, Kenangan Itu Selalu Terbawa
T

Kategori -
- Advertisement -

Walau tahun berganti musim bertukar, kenangan masa lalu itu tidak gampang dilupakan. Apalagi masa kanak kanak sampai masa remaja. Dari awal kenal dunia pendidikan alias masuk sekolah sampai sudah beranak cucu memori itu akan selalu dikenang.

Kita coba ambil sepenggal cerita dari anak anak generasi tahun 1970-an hingga tahun 1990-an. Generasi ini membawa beban kenangan yang cukup berat. Dulu mereka terbiasa bermain pasir dan berenang di sungai kali yang dangkal. Dan pada masa pendidikan SD pun mereka juga tidak luput untuk selalu bermain dore, cak bur, kelereng, gambar, ataupun bermain kasti di jam pelajaran olahraga.

Sepulang sekolah pun mereka ada yang mengembalakan sapi atau kambing, menyabit rumput, memelihara ayam, dan lalu sore harinya bermain bola di sebuah lapangan kecil di halaman atau di sebuah kebun yang sudah lama tak diolah. Tak perlu ada wasit dalam permainan itu. Gawangnya cukup mumbang kelapa atau sepasang sandal yang direlakan untuk sementara waktu demi kesuksesan permainan itu. Bagi yang sudah merasa lelah maka dengan tahu diri akan menggantikan dirinya kepada temannya yang sudah antri. Dan memang begitulah, tanpa dikomando, permainan itu akan berhenti sendiri ketika adzan magrib sudah berkumandang.

Kenangan selanjutnya yang mereka simpan dan dibawa ke mana pun sepanjang hidupnya yaitu masa-masa sekolah menengah. Pagi hari mereka ke sekolah berjalan kaki dan pulang sesekali naik angkot. Perjalanan pulang pergi sepanjang 3 km ke sekolah suatu hal yang biasa di jaman dulu. Dan memang, memori tentang menunggu dan naik angkot punya porsi yang khusus bagi setiap orang.

Bisa saja angkot-angkot semakin jarang di kota ini, namun di dalam memori mereka, di dalam perasaan yang paling dalam, angkot-angkot senantiasa terus hidup di dalam pikiran mereka. Dan setelah itu, mereka hidup di dalam dunia yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Satu orang dengan orang yang lain bisa saling berbicara dengan video call di tempat berbeda.

Komputer yang dulu di gadang-gadangkan di bangku sekolah, sekarang sudah menjadi barang dan kebutuhan yang biasa. Mereka telah hidup dan berjalan di zaman instan. Satu-satu teman mereka sudah pergi. Dan satu-satu berangsur-angsur pula gedung-gedung berdiri. Di sisi lain mereka menjadi manusia baru dan di sisi lainnya mereka tak pernah henti membawa beban kenangan yang tak mungkin kembali lagi.


Penulis: Feni Efendi, pencatat memori kolektif.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img