Padang,BeritaSumbar.com,-Tahun 2019 ini kita kembali menggelar pemilihan presiden (Pilpres) untuk menjabat lima tahun ke depan. Pilpres tahun ini lebih lebih hangat tidak hanya karena dilaksanakan dala pemilu serantak dengan pemilihan anggota legislatif, namun lebih karena faktor psikologis dukungan dari kedua kandidat yang sudah berlangsung lama. Pilpres tahun ini ibarat pengulangan Pilpres tahun 2014 silam antara Joko Widodo  dan Prabowo Subianto. Psikologis para pendukung kedua calon telah terjadi dalam waktu yang berlangsung lama, semenjak sebelum terpilihnya Presiden Jokowi tahun 2014 silam, hiruk-pikuk selama masa pemerintahannya, hingga pencalonan mereka pada Pilpres saat ini.

Secara historis dan ideologis, kedua calon sudah memiliki masa pendukung dari partai-partai pendukungnya. Militansi dan keberpihakan tokoh-tokoh dari parta-partai yang berada pada kubu yang berbeda ini telah ditunjukkan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Penempatan posisi sebagai partai pendukung pemerintah atau sebaliknya secara defakto sebagai partai oposisi sudah nyta memperlihatkan itu, yang dipertontonkan dalam argumentasi perdebatan kedua pendukung di berbagai media nasional. Argumentatif masing-masing kubu selalu diaminkan oleh kedua massa pendukung.

Psikologis dukungan massa masing-masing calon ditambah  dengan berbagai isu yang berkembang, seperti isu agama, kedaulatan bangsa dan opengaruh asing, ketersediaan tenaga kerja dan ekonomi rakyat kecil. Hal ini tergambar pada Tarik-menarik kepentingan dan berbagai kepentingan kedua calon dalam menetapkan pasangannnya sebagai calon wakil presiden.

Joko Widodo yang akhirnya memilih Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden yang jelas menunjukkan pertimbangan psikologis massa dan isu yang berkembang. Daya tarik suara pemilih dan meredam isu-isu negatif terhadap sentien agama jelas terlihat sebagai pertimbangan utama dengan kasat mata. K Ma’ruf Amin yang sebelumnya adalah Rais Aam dan kemudian Mustasyar PB-NU dan sekaligus juga sebagai Ketua Umum MUI tentu diaharapkan dapat meningkatkan dukungan psikologis warga nahdiyin di lapisan bawah. Dilain pihak Prabowo Subianto akhirnya memilih Sandiaga Salahuddin Uno sebagai calon wakil presiden yang akan mendampinginya, juga tidak terlepas dari perhitungan yang serupa. Kiprah Sandiaga Uno dalam perekonomian kerakyatan dan kedekatannya dengan generasi milenial diharapka juga mampu meningkatkan pemilih lapisan bawah dan generesai muda.

Fanatisme pendukung yang sudah berlangsung lama, kemudian ditambah dengan kepiawaian kedua kubu memainkan peran dalam menarik kelompok-kelompok tertentu menjadi pendukung masing-masing menjadikan perseteruan para pendukung menjadi lebih ‘panas.’ Tambahan lagi, di era keterbukaan, dan ketersediaan media sosial yang tanpa saringan dan tampa batas; perseteruan itu menjadi sangat kentara di depan mata.

Adalah boleh dan wajar dalam mendukung dan menyuarakan aspirasi yang menurut kita benar, berdasarkan informasi dan persepsi yang kita punyai. Adalah sebuah keniscayaan menunjukkan keberfihakan. Boleh dan tidak melanggar aturan, para pendukung menyampaikan aspirasi dengan simbol dua jari dan tagar ganti presiden, ataupun sebaliknya dengan satu jari dan ingin bertahan dengan pilihan. Namun yang menjadi tidak tepat bila keberfihakan dan dukungan membutakan pandangan terhadap kebanaran, sehingga tidak melihat secara objektif dan berimbang. Atau yang lebih naif lagi bila melihat posisi lawan selalu salah atau  bahkan dengan pandangan merendahkan.

Dalam tahapan Pilpres tahun ini, KPU telah melaksanakan Debat Capres pertama tanggal 17 Januari yang lalu. Kalau mau jujur, debat malam itu antara kedua pasangan calon tersebut adalah biasa-biasa saja, tidak ada yang panas dan tidak ada nada-nada permusuhan.  Namun justru, perseteruan lebih hangat terjadi di “Luar gelanggang” antara masyarakat yang mengatasnamakan atau merasa menjadi pendukung masing-masing kandidat. Pada akhir artikel ini penulis ingin mengajak pembaca, berfikir dan merenung sejenak agar kemudian melahirkan sikap yang lebih bijak dalam hal ini.

Dalam perspektif Islam, secara hakiki dan mendalam, apa yang kita jalani dalam kapasitas keduniaan ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Allah tabaraka wata’ala berkali-kali menyampaikan itu (Lihat QS Al-Hadid [57]:20, Al-An’am [6]:32, Al-Ankabut [29]:64 dan Muhammad [47]:36).  Semua kita sudah tahu itu, tapi yang tidak ada barangkali adalah pemahaman yang terinternalisasi dalam diri, sehingga menjadi seperti orang yang tidak tahu dan tidak menyadarinya.

Kita tahu, jika disebut sebagai permainan maka seharusnya sesuatu itu hanyalah penghibur dan pelengkap. Tapi sayangnya mental kita orang-orang yang usianya telah dewasa juga persis seperti anak-anak, yang mana lebih suka mainan dibandingkan yang lebih berharga. Jika kita lihat anak-anak, mereka mau mengorbankan waktu belajarnya karena mainan. Anak-anak rela berkelahi dan bermusuhan dengan teman dan sahabatnya hanya karena berebut mainan.

Ternyata mental kita orang-orang yang sudah dewasa usianya juga sama; yang mana kita rela bermusuhan, kehilangan sahabat, dan saling hina hanya karena permainan yang tak seberapa. Padahal ukhuwah, kebersamaan, dan silaturrahmi adalah masalah serius dan bernilai mutiara. Bahkan ternyata Lebih bodoh lagi, “Kita tidak ikut bermain” tapi seolah-olah kita yang berebut permainan, dan malahan lebih parah permusuhannya dari orang-orang yang ikut dalam permainan itu. Atau mungkin saja: “Orang-orang yang ikut dalam permainan itu lebih dewasa berfikir dari kita, sehingga bagi mereka tidak ada beban tidak ada permusuhan pada diri mereka, mereka sadar, yang mereka lakukan hanyalah permaianan dan gurau belaka.”

 

Oleh: Hardisman, PhD

Dosen Universitas Andalas, Padang

loading...