Sejarahwan Asal Luak Limopuluah Itu Berpulang

Limapuluh Kota,BeritaSumbar.com,-Innalillahi Wainna Illaihi Rojiuun, Kabar duka kembali datang di Ranah Minang Khususnya Luak Limopuluah. Sejarahwan asal Nagari Batu Hampa Kecamatan Akabiluru pada Minggu 1/9 pagi sudah berpulang Kerahmatullah. Prof. Dr Mestika Zed MA, Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP. Meninggal dunia di RS M.Djamil Padang sekitar Jam 09.00 wib.

Sebelum dibawa ke Batu Hampar Kabupaten Limapuluh Kota dimana almarhum akan dimakamkan, jenazah almarhum dishalatkan serta lepas secara kedinasan di Mesjid Al Azhar oleh Rektor UNP. Tampak dihadiri jajaran Forkopimda Provinsi Sumatera Barat. Tak kurang dari seribuan jamaah menyalatkan almarhum Prof. Mestika Zed, di Mesjid Raya UNP, Minggu (1/9/2019), siang.

Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Azwar Ananda, Rektor Universitas Baiturrahmah yang juga mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Musliar Kasim, dan mantan Walikota Padang, Dr. Fauzi Bahar.

Sebelum dishalatkan setelah penyelenggaraan shalat Dzuhur, jenazah almarhum sempat disemayamkan di Gedung rektorat UNP sekitar satu jam untuk mendapatkan penghormatan terakhir. Menjelang azan Salat Dzuhur, dipindahkan dari rektorat ke mesjid Al Azhar dengan digotong karena jaraknya yang dekat.

“UNP berduka. Kita telah kehilangan salah satu dosen terbaik,” kata Ganefri, rektor UNP.
“Buku karya besarnya itu sejarah UNP. Beliau yang menulis. Beliau juga yang mengubah hari lahir UNP dari tanggal 1 September ke 31 Oktober. Itu akan kami kenang selalu,” pungkasnya.

Setelah pelaksanaan salat Dzuhur langsung dilanjutkan dengan salat jenazah. Sekitar pukul 13.00 WIB mobil jenazah diiringi puluhan kendaraan roda empat dan beberapa buah roda enam terlihat meninggalkan gerbang UNP.

Sekitar jam 15.00 wib jenazah sampai di kampung halaman di Batu Hampar Limapuluh Kota, dari rumah duka jenazah di sholatkan di masjid Jami. Almarhum dimakamkan di pemakaman kaum  pasukuan Pagar Cancang Nagari Batu Hampar Kecamatan Akabiluru Limapuluh Kota usai sholat Ashar.

Ady Surya SH.MH aktivis Hukum asal Luak Limopuluh saat bincang bincang dengan beritasumbar usai menerima kabar duka tersebut menyatakan sangat berduka. Sumatera barat kehilangan akademisi yang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi serta pelaku perubahan sosial. Sosok akademisi seperti MESTIKA ZED ini langka dimiliki oleh perguruan tinggi di Indonesia khususnya di Sumbar. Da Mes adalah orang yang bergaul dan bergabung dengan semua golongan tanpa memandang umur serta strata untuk perubahan sosial. Da Mes salah seorang sosok yang dibutuhkan untuk perubahan sosial baik dikalangan akademisi maupun ditingkat komunitas yang hiterogen dan masyarakat luas.

, Semoga Almarhum di terima di Sisi Yang maha Kuasa dan ditempatkan di SorgaNya. ucap Ady Surya SH MH kepada BeritaSumbar pada Minggu 1/9 siang.

Sekilas biografi armarhum.


Prof. Dr. Mestika Zed, M.A. (lahir di Batu Hampar, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, 19 September 1955),  merupakan salah seorang ahli sejarah Indonesia. Selain menjadi guru besar sejarah di Universitas Negeri Padang dan Universitas Andalas, dia juga aktif menulis buku, diantaranya  Buku catatan perjalanan tentang PDRI yang berjudul JEJAK YANG TERLUPAKAN. Dia juga aktif menulis buku serta sebagai kolumnis.

Lahir 19 September 1955 (umur 63) di Batu Hampar, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, Indonesia, Kebangsaan Indonesia. Almamater Universitas Gadjah Mada, Universitas Vrije, Universitas Indonesia, Pekerjaan Sejarawan.

*Pendidikan*
Mestika memperoleh gelar kesarjanaan di Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada pada tahun 1980. Kemudian dia melanjutkan ke Vrije Universiteit, Amsterdam dan meraih gelar MA pada tahun 1983. Setahun kemudian dia mengikuti program penyetaraan S2 di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia. Pada tahun 1991 dia mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang sejarah di Vrije Universiteit.

*Profesi keseharian*
Mestika Zed merupakan sedikit dari sejarawan Indonesia yang saat ini giat meluruskan dan mengoreksi sejarah bangsa. Terutama terkait dengan peran tanah kelahirannya, Sumatra, yang selama ini selalu dipinggirkan dalam buku-buku sejarah nasional. Dia aktif meluruskan sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan sejarah Giyugun Sumatra, tiga peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang berpusat di Bukittinggi dan Padang (Sumatra Barat), yang selama ini diabaikan dan bahkan mendapat tempat tak terhormat dalam sejarah Indonesia.

Selain melalui media dan pengajaran, peran pelurusan sejarah Indonesia tersebut dia lakukan dengan menulis berbagai buku. Beberapa karyanya antara lain:

Somewhere in the Jungle : Pemerintah Darurat Republik Indonesia, Pustaka Utama Grafiti, 1997

Sumatra Barat di Panggung Sejarah, 1945-1998, Pustaka Sinar Harapan, 1998

Ahmad Husein: Perlawanan Seorang Pejuang, Pustaka Sinar Harapan, 2001
Kepialangan Politik dan Revolusi, Palembang 1900-1950, LP3ES, 2003

Giyugun: Cikal-bakal Tentara Nasional di Sumatra, LP3ES, 2005

Metode Penelitian Kepustakaan, Yayasan Obor Indonesia, 2008.

“Buku karya besarnya itu sejarah UNP. Beliau yang menulis. Beliau juga yang mengubah hari lahir UNP dari tanggal 1 September ke 31 Oktober. Itu akan kami kenang selalu,” pungkas Ganefri saat melepas secara kedinasan.

*Perjalan hidup*
Semasa hidupnya, alharhum  aktif meluruskan sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan sejarah Giyugun Sumatera, tiga peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang berpusat di Bukittinggi dan Padang (Sumatera Barat), yang selama ini diabaikan dan bahkan mendapat tempat tak terhormat dalam sejarah Indonesia.

Beliau juga pernah menjadi pembicara pada acara Konferensi Internasional tentang tragedi 1965/66 yang bertajuk Rekonsiliasi Sejarah dengan Tragedi 1965/66 diselenggarakan di Universitas Goethe Frankfurt Jerman pada 10-12 November 2016 dihadiri para ilmuwan, sejarawan, peneliti, para ahli, mahasiswa, seniman,  pegiat HAM dan Demokrasi serta Korban Pelanggaran HAM 65 yang datang dari berbagai negara termasuk Indonesia.

Dalam menguak kebangkitan komunisme dia mengajak masyarakat untuk mewaspadai kebangkitan PKI di tanah air. Terutama banyaknya kasus yang beredar di negeri ini atas pernyataan agar pemerintah meminta maaf kepada PKI.

Dalam sebuah stasiun televisi Prof Mestika Zed menjelaskan secara jelas bagaimana asal mula PKI serta sepak terjang kebangkitan PKI di tanah air.

“Anak muda yang tidak menyadari akan hal ini akan mudah sekali terombang ambing oleh sistem global yang sekarang sudah sangat merasuk kedalam masyarakat” jelas prof Mestika Zed “Kita harus mempelajari kembali sejarah bangsa kita agar kita tidak terseok-seok lagi” ujar Prof Mestika Zed.

*Tokoh sejarawan itu telah pergi selamanya*
Di rumah duka, Batu Hampar tempat kelahiran almarhum mulai dipadati pelayat. Tampak hadir jajaran pemkab Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh menyampaikan duka mendalam kepada ahli waris. Ikut hadir Ketua MUI Provinsi Sumatera Barat Buya H. Gusrizal Gazahar.

“Beliau dikenal gesit dalam memperjuangkan sejarah keminangkabauan, termasuk jejak PDRI. Kita kehilangan tokoh sejarah nasional yang vokal hingga ke dunia internasional,”ungkap buya Gusrizal saat bincang ringan dengan Wabup Limapuluh Kota H Ferizal Ridwan di rumah duka.

“Ya. Kita kehilangan tokoh. Semoga akan lahir tokoh penerus yang gigih layaknya almarhum,”balas Ferizal Ridwan di hadapan pelayat.

Bupati Irfendi Arbi yang setia mendampingi almarhum hingga dimakamkan juga sampaikan rasa belasungkawa terdalam masyarakat Limapuluh Kota.

“Berpulangnya Prof. Dr. Mestika Zed, M.A, sontak mengagetkan masyarakat Luak Limopuluah (Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh. ‘Innalilahi Wa Inna ilaihi Rajiun. Masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota berduka yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Prof. Dr. Mestika Zed, M.A. Kabupaten Limapuluh Kota telah kehilangan putra terbaiknya seorang sejarahwan yang telah banyak memberikan kontribusi positif terhadap negeri ini. Semoga almarhum Prof. Dr. Mestika Zed, M.A, diberikan tempat yang mulia di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan ini. Amin Yarabbal Alamin,”ungkap Irfendi Arbi.

Walikota Payakumbuh Riza Falepi juga sampaikan ungkapan dukanya.

“Innalillahi wainailaihi rojiun. Atas nama pribadi, keluarga besar dan jajaran pemko Payakumbuh ikut berduka atas wafatnya Pak Prof kebanggaan kita semua. Semoga almarhum ditempatkan Allah ditempat yg sebaik-baiknya dan keluarga diberi kesabaran,”tulis Riza Falepi.(*)

loading...