BeritaSumbar.com,-Siapa tak kenal dengan Andre Rosiade tokoh muda dari Sumatra Barat, namanya melambung saat di dapuk menjadi juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo – Sandi dalam Pilpres 2019 lalu, wajahnya menghiasi hampir semua media mainstrim seantero nusantara,

Pada Pilpres dan Pileg lalu, Selain sebagai juru bicara BPN, alumnus Trisakti Jakarta kelahiran Padang 7 November 1978 ini juga merupakan caleg partai Gerindra untuk DPR-RI daerah pemilihan Sumatra Barat satu (Dapil 1 Sumbar), dan melenggang ke Senayan, saat ini Andre duduk sebagai anggota komisi Vl dari fraksi Gerindra dengan nomor keanggotaan 65. Seperti diketahui komisi Vl ini membidangi masalah Perindustrian, Perdagangan, Koperasi UKM, BUMN, Investasi dan Standarrisasi.

Paska pesta demokrasi berakhir, seiring dilantiknya pasangan Jokowi-M Amin sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 dan ditunjuknya Prabowo oleh Jokowi sebagai Mentri Pertanahan, nyaris nama Andre Rosiade hilang dari hiruk pikuk pemberitaan media.

Tak ada angin, tak ada badai, tiba-tiba Prabowo memecat Nasrul Abit sebagai ketua DPD partai Gerindra Sumbar dan menunjuk Andre Rosiade sebagai PLT ketua DPD, sementra Nasrul Abit yang juga Wakil gubernur Sumbar itu disuruh konsentrasi mempersiapkan diri maju sebagai calon gubernur Sumbar pada pilkada serentak yang sebentar lagi ditabuh.

Andrepun langsung tancap gas, dia mengumpulkan seluruh anggota DPRD propinsi Sumbar dan memerintahkan fraksi Gerindra menginterpelasi gubernur Irwan Prayitno atas perjalanan dinas gubernur ke luar negeri setiap bulan, sehingga membuat istri Gubernur Nevi Irwan Prayitno merasang, karena dikritik habis-habisan oleh Andre atas kebijakan gubernur dua periode tersebut, dalam sebuah group WhatsApp Nevi mengancam tembak mati dan menganggap tindakan Andre seperti LSM serta akan membuat citra partai Gerindra di Sumbar jadi buruk, Screen Shot ancaman Nevi beredar secara massif dimedia sosial,

Nevi Irwan Prayitno sendiri merupakan kolega Andre di komisi Vl DPR-RI, dari fraksi PKS, hubungan mereka sempat memanas, namun setelah Andre bertemu dan cipika cipiki dengan Irwan Prayitno, semua kembali mencair.

Berhentikah Andre sampai disitu, tentunya tidak, dengan label sebagai anggota DPR-RI sekaligus ketua DPD partai Gerindra, Andre kembali membuat gerbrakan, bersama dengan anggota DPRD kota Padang dari fraksi Gerindra dan satpol pp, dia melakukan razia di beberapa tempat hiburan malam dan karaoke, dalam razia tersebut mereka menemukan dilpangan banyaknya beredar minuman keras, narkotika dan praktek mesum terselubung, semua itu di unggahnya ke media sosial serta diliput langsung oleh wartawan cetak maupun televisi.

Puncaknya minggu 26/1/20 lalu , Andre bersama dengan aparat kepolisian melakukan penggerebekan di kamar 606 hotel berbintang dikawasan jalan bundo kanduang kota Padang. Pada penggerebekan itu mereka menemukan adanya praktek esek esek dikamar tersebut, dengan barang bukti berupa kondom yang belum dipakai, uang sebesar Rp.750.000 serta handphone, sekaligus diamankannya seorang wanita berinisial NN yang diduga sebagai PSK.

Bak bola liar, kasus penjebakan dan penggerebekan lalu dilakukan penangkapan terhadap PSK Ini menjadi trending dan memenuhi ruang maya, begitu juga media massa cetak, media online dan televisipun menjadikan kasus ini sebagai headline.dalam berbagai kesempatan, saat dikonfirmasi oleh awak media, apa yang dilakukannya adalah bentuk keresahannya, sebagai warga kota Padang ditambah banyaknya laporan yang diterimanya tentang dunia esek esek termasuk prostitusi online dikota Padang.

Dalam berbagai kesempatan paska penggerebekan Andre mengatakan,

“Saya perlu jelaskan bahwa betul penjebakan itu, tapi dilakukan bekerjasama dengan kepolisian Kota Padang. Jadi bukan tindakan pribadi saya,”

Ia juga merespon adanya pemberitaan yang menyebutkan PSK yang ditangkap dalam operasi penjebakan tersebut protes, lantaran saat dilakukan penjebakan, dia ‘sempat dipakai ‘ oleh orang yang disuruh untuk menjebaknya.

Andre menjelaskan kronologi kasus tersebut berawal dari adanya laporan masyarakat di Kota Padang kepadanya, yang mengaku resah dengan praktek prostitusi yang makin marak, Termasuk prostutisi Online melalui aplikasi Michat.

“Saya ini kan wakil rakyat, dapat laporan dari masyarakat dan saya harus tindak lanjuti. Untuk membuktikan bahwa betul praktek itu ada saya dibantu oleh seorang sahabat yang berperan menjadi pelanggan PSK, lalu mengontak PSK dimaksud melalui aplikasi Michat, lalu janjian di hotel dan memang terbukti bahwa praktek prostitusi itu ada dan saat itu polisi langsung menangkapnya,”

Andre menyatakan kalau aksi penjebakan tidak melanggar hukum karena bekerjasama dengan kepolisian.

“Ini kan strategi saja untuk mengungkap suatu kasus. Saya bekerjasama dengan Polres Kota Padang dan terjadilan peristiwa penangkapan itu. Dan saya perlu tegaskan bahwa PSK yang tertangkap memang profesinya PSK sebab sudah berkali-kali menjalankan kegiatannya, dengan harapan kejadian ini dapat menghilangkan prostitusi di padang.

Di kutip dari pemberitaan Suara.com, PSK yang tertangkap itu keberatan karena sesaat sebelum dilakukan penangkapan, dia sempat ‘dipakai’ oleh seorang yang dipakai Andre untuk melakukan penjebakan.

Dari penuturan NN, PSK yang dijebak Andre, dia komunikasi dengan kliennya melalui aplikasi Michat. Keduanya lalu sepakat berjumpa di hotel Kyriad Bumi Minang, Kota Padang, kamar 606 yang sebelumnya sudah dipesan oleh kerabat Andre.

“Pertama kali masuk, dia bertanya tentang harga. Lalu aku bilang tadi bukannya sudah deal di chat (dengan AS)? Ya, berapa (tanyanya)? Aku bilang delapan ratus ribu kan! (Dia jawab) lima ratus ribu bagaimana, tiga ratus ribu lagi ditransfer. Kebetulan aku punya e-bangking. Oh ya sudah boleh, aku bilang. Kan sama.” “Ternyata, (pria itu mengaku bahwa) e-bangking-nya tidak bisa digunakan. (Dia menawarkan) bagaimana kalau nanti setelah ‘main’, sisanya dia ke bawah, aku pegang handphone-nya. Aku jawab tidak bisa. Kalau mau, abang turun saja dulu. Ambil uangnya. Lanjut, dia lalu bilang gimana Rp 750.000, ini aku ada nih, ini uang jajanku enggak ada lagi ni. Dia akhirnya mengeluarkan uang Rp 750.000 yang kemarin jadi barang bukti,” kata NN menceritakan kronologi penangkapannya.

Setelah menyepakati soal tarif, NN dan pria tersebut melakukan hubungan badan di kamar mandi hotel tersebut. Namun, dari penggerebakan yang direncakan itu, ada hal yang mengganjal bagi NN, ialah mengapa dirinya ‘dipakai’ terlebih dahulu baru digerebek. “Mengapa harus ‘pakai’ aku dulu,” ujarnya.

Atas tudingan ini, Andre membantah bahwa PSK tersebut ‘dipakai’ terlebih dahulu sebelum ditangkap.

Sementara itu Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto Membantah kalau penggerebekan itu diawali dengan penjebakan. Semua sudah sesuai prosedur (kompas. Com 5/2/2020)

Stefanus menjelaskan, kronologi penggerebekan berawal saat mendapat laporan dari anggota DPR RI Andre Rosiade terkait adanya praktik prostitusi online di salah satu hotel berbintang di Padang.

Saat digerebek, polisi mengamankan sejumlah barang bukti.

“Kami menemukan barang bukti uang tunai Rp 750.000, alat kontrasepsi.

Saat ini tersangka NN sudah ditahan oleh pihak kepolisian, dia dan mucikarinya dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Pasal 27 ayat (1) jo pasal 45 ayat (1), serta pasal 296 jo pasal 506 KUHP. Polisi menemukan bukti keduanya aktif menawarkan jasa prostitusi online lewat aplikasi pesan singkat.

Berbagai komentar masyarakat atas gebrakan Andre, Ini bahagian dari pencitraan menjelang pilkada karena partai Gerindra mulai tergerus di Sumbar akibat bergabungnya Prabowo ke pemerintahan Jokowi, Gerindra perlu panggung dan mengambil hati konstituennya. Gerindra perlu menghabisi PKS, seperti kita ketahui gubernur Sumbar dipegang PKS, termasuk walikota Padang, jadi perlu dimatikan PKS dipusat pemerintahan Sumbar tersebut, cara yang paling gampang dan itu sudah jadi issue masyarakat adalah praktek dunia esek esek di kota Padang, ada juga menilai apa yang dilakukannya ini benar, sebab dengan penggerebekan ini akan membuka mata masyarakat kalau di Padang praktek prostitusi itu ada,bukan hanya issue belaka.

Seorang sahabat Alumnus UII jogya yang berdomisili lereng gunung Marapi Agam menulis dalam laman FBnya,

Maaf beribu maaf sebelumnya. Masih seputar pembuktian tentang adanya praktek prostitusi yang dilakukan oleh politisi pusat sungguh sangat mulia sekali.

Ingin saya katakan sbb:

Jika ada orang yang mengatakan kalau praktek prostitusi tidak ada atau diragukan keberadaannya di kota Padang atau di kota2 yang ada di Sumbar, maka ada 2 kemungkinan tentang kemunculan orang itu ditengah-tengah masyarakat:

1. Orang itu baru keluar dari kerangkeng/kandang sejak umur 5 tahun sampai dia dewasa pada tahun 2019 atau 2020. Dimana letak kerangkeng/kandang tempat dia bersemayam berada di tengah hutan belantara.

2. Orang itu baru turun dari puncak gunung Marapi sejak lahir sampai tahun 2019 atau 2020.

Apapun komentar dan tanggapan masyarakat, terlepas Andre keluar dari kontek atau tupoksinya sebagai anggota DPR-RI, hari ini Andre menjadi sosok yang fenomenal dan cukup punya nyali mengungkap praktek prostitusi, semoga kedepan seluruh pemerintah daerah di Sumbar mau serius menangani penyakit masyarakat ini.

(bersambung, “Ditinjau Dari Yuridis,Bisakah Andre Di Pidanakan?”)

penulis: Donny Magek Piliang
(Wartawan & Pemerhati Sosial)

loading...