Saat  ini bagi saudara-saudara kita ummat Islam yang mempunyai kepangan rezki dan giliran waktu yang telah didapatkan, sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci mekah. Mereka melaksanakan ibadah, yang merupakan rukun Islam yang kelima itu dengan harapan dan mencari Ridha Allah subahanahu wata’ala.

Hanya dengan ikhlas dan mengharapkan Ridha-Nya itulah keutamaan dan kemuliaan ibadah haji itu dapat di raih. Ibadah haji yang dilaksanakan merupakan ibadah hati (qalbu), fisik, dan harta sekaligus. Tanpa keikhlasan dalam jiwa, maka keletihan raga akan sangat dirasakan menyiksa. Lalu pengeluaran harta dan biaya menjadi beban yang bernilai sia-sia.

Bagi kita yang belum mempunyai kelapangan harta, waktu, atau giliran belum tiba disyari’atkan pula melaksanakan ibadah qurban. Ibadah qurban sangat besar nilainya disisi Allah subahanahu wata’ala itu.

Qurban merupakan salah satu bentuk perwujudan syukur kepada-Nya atas segala Rahmat dan Karunia yang telah diberikan-Nya. Sebagaimana Dia telah berfirman, yang tercantum alam Al-Quran Surat Al-Kautsar [108]: 1-2 “Sesungguhnya Kami telah memberikan karunia sangat banyak kepadamu, maka sholatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah qurban.”

Ayat ini (QS Al-Kautsar [108]:1-2) telah menegaskan bahwa, katrunia yang telah diberikan-Nya itu sangat banyak. Bahkan dengan tegas Allah subahanahu wata’ala juga telah berfirman bahwa jikalah seorang hamba ingin menghitung-hitung karunia yang diberikan kepadanya, maka sungguh dia tidak akan sanggup menghitungnya (QS Ibrahim [14]:34 dan An-Nahl [16]:18).  Qurban hanyalah mengeluarkan sedikit saja dari karunia yang telah diperloleh itu.

Lalu, dengan Sangat Pemurahnya Allah subahanahu wata’ala, setiap bentuk syukur yang kita lakukan akan dikembalikan kepada hambanya itu. Padahal dibandingkan dengan segala Rahmat dan Karunia yang telah diberikan-Nya dibandingkan dengan nilai qurban yang kita keluarkan tidaklah seberapa.

Namun, Dia telah menjanjikan bahwa bagi hambanya yang bersyukur itu, Dia akan menambah Rahmat dan Karunia yang telah diberikan-Nya (QS Ibrahim [14]:7). Pertambahan itu bisa dalam bentuk pertambahan jumlah dan nilainya serta bertambahkan keberkahan dari karunia yang telah diperoleh itu. Inilah salah satu makna apa yang telah difirmankan-Nya juga, bahwa setiap hamba yang melakukan kebaikan, maka kebaikan itu sejatinya akan kembali bagi dirinya juga (QS Al-Isra’ [17]:7 dan 15).

Betapa pentingnya setiap mukmin untuk berkurban sebagai salah satu bentuk kewajiban bersyukur kepada-Nya, dalam hadits dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda “Siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat salat kami” (HR Imam Ahmad dan juga Ibnu Majah).

Hadits ini jelas menegaskan bahwa sangat kerasnya perintah berkurban itu, sampai-sampai Baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengancam, menolak dan tidak memandang orang yang enggan berkurban padahal ia mempunyai kemampuan untuk itu.  Berdasarkan hadits ini Imam Hanafi, menegaskan bahwa qurban bagi seorang muslim (mukmin) baligh adalah wajib. Meskipun Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal memandang bahwa hukum melaksanakan ibadah kurban adalah “Sunah muakkad” atau sunah yang sangat kuat.

Pada akhirnya, bukan soal ia dipandang dari sisi hukum fikih wajib atau sunah muakkad. Namun bagaimana seorang mukmin melaksanakannya dengan ikhlas sebagai bentuk perwujudan syukurnya.

Ibadah Qurban yang dilaksankan mestilah dengan hati yang ikhlas dan lapang dada semata-mata mengharapkan Ridha-Nya. Sesungguhnya disinilah letak nilai qurban itu. Bukan persoalan besar dan kecil hewan yang disembelih, bukan soal mahal murahnya iuran dalam berkurban, akan tetapi sebarapa besar yang kita keluarkan yang sesuai dengan batas optimal kemampuan kita yang diiringi dengan keikhlasan.  Sebagaimana Firman-Nya “Daging-daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS Al Hajj [22]:36-37).

Inilah makna qurban sesungguhnya, melahirkan ketaqwaan yang berasal dari dalam jiwa, yang terpancar dalam bentuk perbuatan yang ringan baginya mengeluarkan hartanya untuk kemaslahatan.

Pengurbanan yang dilandasi dengan keikhlasan dan melahirkan ketaqwaan menjadi cerminan bagaimana seseorang mampu berbuat kebaikan bagi lingkungan sosialnya. Qurban yang dilakukan dengan sedikit harta itu akan menghantarkan dan menyuburkan nilai-nilai ukuwah.

Hewan yang disembelih, lalu kemudian daging yang dibagi-bagikan kepada fakir miskin dan segenap warga sekitar menjadi cerminan kepedulian bersama. Ada mereka yang selama setahun ini tidak pernah mencicipi daging yang harganya sangat mahal bagi mereka. Pada saat ‘Idil Adha atau Hair Raya Qurban inilah mereka dapat menikmatinya.

Ikhlas dalam berkurban tercermin dalam kata, sikap dan perbuatan. Berkurban bukan untuk memenuhi nafsu syahwat dan menunjukkan eksistensi diri “Siapa saya.” Sebagaimana bermala dengan harta secara umum, maka berkurban yang akan mendapatkan keutamaannya itu adalah dengan tidak menyebut-nyebutnya dan tidak menyakiti penerimanya (QS Al-Baqarah [2]:262).

Dalam berkurban banyak kemungkinan seseorang terpeleset kepada apa yang dilarang oleh Allah tersebut. Bisa saja seseorang mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli hewan yang palaing baik, lalu dia membangga-banggakan bahwa hewannya yang paling bagus dan paling mahal.

Bisa saja saja, bagi mereka yang berkurban, menyebut-nyebut bahwa dengan kurban merekala keluaraga “Si A atau si B” yang tidak mampu itu bisa menikmati makan daging, yang tentunya akan menyakiti. Atau bisa juga, mereka yang berkongsi berkurban melalui panitia Masjid, lalu mencela penyelenggara, karena hewan yang dibeli tidak sesuai dengan harapannya.

Inilah yang diingatkan oleh Allah subahanahu wata’ala bahwa pemberian harta, termasuk didalamnya qurban yang menampakkan riya dan menyakiti tiada akan bernilai disisi-Nya. Ibadahnya ibarat tanah debu diatas batu licin yang kemudian ditimpa hujan lebat, hilang tak berbekas (QS Al-Baqarah [2]:264).

Nilai ikhlas yang telah disimbolkan dengan berkurban, juga harus tercermin dalam kehidupan kesehariannya. Orang yang berkurban harus ada tegur sapa dan kata-kata yang damai dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakatnya.

 

Oleh: Hardisman, PhD

Dosen Universitas Andalas Padang

loading...