31 C
Padang
Kamis, Januari 20, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Penyuluhan Pengelolaan Panen dan Pascapanen Benih Padi pada KWT Semangat Berkarya di Nagari Sungai Batang, Kec. Tanjung Raya, Kab. Agam
P

- Advertisement -

Oleh:Prof. Irfan Suliansyah, MS.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas

Agam,BeritaSumbar.com,-Tahapan terakhir dari proses budidaya tanaman adalah memungut hasil atau memanen (harvesting). Hal yang terpenting dalam pemanenan adalah “kriteria panen”. Setiap tanaman mempunyai kriteria panen tertentu, terutama sekali terkait dengan bentuk panen yang diinginkan manusia (nilai ekonomis), apakah dalam bentuk buah, biji, daun, getah, tampilan/nilai estetika, kandungan bahan kimia dan lain-lain. Misalnya: padi dipanen untuk mendapatkan buah dan bijinya atau yang kita sebut dengan istilah “gabah”.

Setelah selesai proses memanen, umumnya setiap produk tanaman membutuhkan beberapa kegiatan lanjutan sebelum sampai ke tangan konsumen atau dimanfaatkan sendiri oleh petani. Kegiatan ini disebut dengan “pascapanen”.  Sesuai dengan bentuk produknya, teknologi pascapanen juga sangat tergantung dengan produk yang dihasilkan.

Pada tanaman yang nilai ekonomisnya ada pada biji, maka pascapanen yang paling umum dilakukan adalah pengeringan dan pembersihan. Proses pascapanen memiliki tujuan untuk mengurangi kehilangan hasil, menekan tingkat kerusakan hasil panen, meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas pertanian, meningkatkan nilai tambah dan pendapatan, meningkatkan devisa negara dan perluasan kesempatan kerja.

Kegiatan pascapanen ada yang langsung dikerjakan oleh petani sendiri, namun sebagian besar melibatkan tenaga kerja dari luar rumah tangga petani. Di negara maju, kegiatan panen dan pascapanen pada umumnya sudah melibatkan teknologi modern seperti Combine Harvester, Box Dryer, Air Screen Machine dll.

Oleh karena itu, kriteria panen dan teknologi pemanenan juga disesuaikan dengan bentuk produk tanaman tersebut yang akan dipanen atau dengan istilah lain “nilai ekonomisnya”. Harus diupayakan jangan terjadi banyak kehilangan hasil karena kriteria panen dan cara panen dan pascapanen yang tidak tepat. Usahakan memanen tanaman sesuai kriteria panennya dan carilah teknologi panen dan pascapanen yang efektif dan efisien.

Secara umum, kriteria panen padi dapat dilihat secara visual yaitu dengan melihat perubahan warna daun, batang dan gabah. Warna daun dan batang dan gabah sudah menguning kecoklatan serta gabah jika ditekan sudah terasa keras. Kriteria panen padi yang lebih maju adalah dengan mengukur kadar air gabah dengan moisture tester. Kadar air panen yang dianjurkan adalah 20-25%.

Padi yang telah dipanen kemudian perlu dipisahkan antara gabah dan malainya dengan cara dirontokkan menggunakan beberapa metode yaitu diinjak atau iles, pukul atau gedig, banting atau gebot, pedal thresher, dan mesin perontok. Thresher sebagai salah satu alat perontok padi modern terdiri dari 2 tipe berdasarkan posisi pemotongan, apabila dipotong bawah menggunakan pedal thresher dan apabila dipotong tengah atau atas menggunakan power thresher.

Setelah didapatkan gabah dari proses perontokan, proses pascapanen selanjutnya adalah pembersihan padi dari kotoran. Proses penampian dapat dilakukan sebelum atau sesudah proses pengeringan, apabila proses pascapanen padi menggunakan combine harvester maka proses penampian tidak perlu dilakukan karena produk dari mesin combine harvester sudah dalam kondisi bersih dari kotoran dan gabah hampa, namun bila tidak menggunakan combine harvester maka proses pembersihan padi perlu dilakukan untuk memperoleh gabah bersih. Prinsip penampian adalah menggunakan hembusan angin baik secara alami maupun dengan aliran angin buatan(artificial wind).

Pengeringan diperlukan untuk mengurangi kadar air dari gabah, hal ini dikarenakan standar kadar air maksimum gabah untuk disimpan adalah 14%. Air yang berada pada gabah sangat beresiko menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme yang dapat merusak kualitas gabah. Terdapat dua cara pengerigan yaitu pengeringan alami (paparan sinar matahari langsung) dan pengeringan buatan (mekanis). Pengeringan alami biasanya dilakukan dengan cara menyebarkan gabah diatas terpal atau lantai penejemuran dan ditempatkan di areal terbuka.

Cara ini memiliki kekurangan yaitu intensitas cahaya matahari yang tidak dapat dikontrol, losses karena faktor cuaca maupun hewan disekitar dan rentan terkena kotoran disekitar areal penjemuran sehingga cara ini mulai ditinggalkan dan berpindah ke cara pengeringan mekanis yang lebih terkontrol, bersih dan losses dapat dikurangi. Tipe pengering mekanis bermacam-macam bergantung terhadap kebutuhan, contoh batch dryer, recirculated dryer, continuous dryer, dan lain sebagainya.

Gabah yang bersih dan kering kemudian disimpan baik dalam keadaan curah (tanpa dikemas) atau dikemas. Penyimpanan gabah dalam keadaan curah memerlukan sebuah bangunan khusus yang berfungsi sebagai penampung gabah dengan karakteristik dan rancangbangun yang telah diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan penyimpanan, secara garis besar bangunan simpan curah dibedakan menjadi dua yaitu bunker dan silo. Sedangkan untuk penyimpanan dengan pengemasan, gabah dapat dikemas dengan mengunakan pengemas berbahan goni atau plastik.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih kemasan yaitu kemasan harus dapat melindungi gabah dari efek pengangkutan dan penyimpanan, kemasan tidak boleh mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari gabah dan tidak boleh membawa organisme penganggu (hama), kemasan harus berasal dari material yang kuat dan mampu menahan beban tumpukan, dan mampu mempertahankan keseragaman dari kualitas gabah.

Pengetahuan panen dan pascapanen tersebut dipaparkan kepada KWT Semangat Berkarya dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam pada dua minggu yang lalu. Kegiatan tersebut sekaligus kegiatan terakhir kegiatan Pengabdian tahun 2021 ini. Pada waktu kegiatan ini tim pengabdian Unand dan KWT Semangat Berkarya kedatangan tim Monev dari Unand.

KWT Semangat Berkarya pun menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian yang digagas oleh Dr. Indra Dwipa dkk ini sangat bermanfaat sekali dan sangat berterima kasih karena mengajarkan kami menjadi penangkar padi bersertifikat dan kami juga berharap adanya keberlanjutan kegiatan di Tahun 2022. Harapan yang sangat dititipkan KWT Semangat Berkarya yaitu adanya bantuan alat-alat panen dan pascapanen padi dari Universitas Andalas pada kegiatan pengabdian berikutnya, ujar Bu Neva, “Ketua KWT Semangat Berkarya Nagari Sungai Batang, Agam”. Terakhir kegiatan ditutup dengan makan dan foto bersama KWT Semangat Berkarya dengan Tim Pengabdian dan Tim Monev Unand.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img