25 C
Padang
Sabtu, April 17, 2021
Beritasumbar.com

Payakumbuh Berdoa
P

Kategori -

Oleh : Riza Falepi – Walikota Payakumbuh


Masjid Istiqlal tidak hanya ada di Jakarta. Di Kelurahan Labuahbasilang, Kecamatan Payakumbuh Barat yang penduduknya terkenal heterogen, masjid dengan nama serupa telah lama berdiri. Meski tak seluas di Jakarta, tapi suasana di dalam Masjid Istiqlal Payakumbuh, sama ademnya dengan masjid di ibu kota. Di masjid itulah, Sabtu (10/1) dini hari lalu, digelar Shalat Tahajud berjamaah.

Selain digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, shalat malam bersama itu menjadi pertanda dimulainya gerakan Payakumbuh Berdoa. Terserah, bila ada yang beranggapan, gerakan ini sebatas pencitraan untuk merebut hati umat. Tapi bagi saya, bermunajat kepada Allah adalah pilihan paling tepat. Baik di kala suka atau pun dalam duka. Baik di kala bahagia apalagi sedang lelah.

Saya yakin, anggota DPRD Sumbar Irsyad Syafar beserta pimpinan DPRD Payakumbuh Yendei Bodra Dt Parmato Alam dan Suparman, punya pandangan serupa. Karena itu pula, mereka ikut menghadiri Shalat Tahajud di Masjid Istiqlal Labuahbasilang bersama ratusaan warga. Usai shalat, kami mendengar tausiyah yang disampaikan  pendiri Kontak Tahajud  Indonesia Tengku Fajri Asmi Usman.

Mengutip Hadist Riwayat Muslim, Tengku Fajri yang pendiri Rumah Quran Violet Jakarta dalam tausiyah-nya mengatakan, “sesungguhnya di malam hari, ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, itu berlangsung setiap malam”. Saya haqqul yakin dengan hadis nabi ini. Karenanya, saya terus berdoa untuk kemajuan Payakumbuh.

Saya juga mengajak semua komponen, untuk berdoa bagi kota ini. Kenapa, harus berdoa? Yang awam, sudah pasti menyebut, karena kita adalah Hamba Tuhan. Yang ahli tariqat akan menjawab, berdoa penting, karena tidak akan bergerak barang sesuatu, tanpa ada yang menggerakkan. Saya setuju dua-duanya. Tapi, saya juga ingin berbagi dua pengalaman, kenapa Payakumbuh harus didoakan?

Pengalaman pertama, ada kaitannya dengan salah seorang bupati di Sumbar. Ceritanya begini, awal dilantik menjadi wali kota, saya menjalani hari-hari dengan penuh semangat. Dengan harapan, bisa berbuat terbaik untuk rakyat. Bisa berbakti bagi kampung halaman. Pembaca yang suka cemooh, saya harap tidak mencibir dulu.

Mohon dimaklumi semangat ini sebagai sebuah kewajaran. Karena saya baru pertama kali menjabat sebagai kepala daerah. Wajar, saya punya begitu banyak obsesi. Hingga akhirnya, seorang senior yang sudah lama menjadi bupati, mengingatkan saya lewat sebuah diskusi. Katanya, apa yang saya impikan tidak semudah dibayangkan. Saya sempat kaget dan hendak memotong pembicaraan bupati ini.

Untung saja, sejak kecil saya tak terbiasa memotong lawan bicara. Maka saya putuskan untuk terus mendengarkan nasihatnya. Menurut bupati itu, kalau saya mau bekerja sebagai bagian dari pemerintah, maka bekerjalah sesuai aturan. Sebab, kalau bekerja sesuai dengan apa yang saya bayangkan dan dibayangkan sebagian masyarakat tanpa memakai aturan, dijamin bakal berurusan dengan aparat hukum.

Mendengar dia bilang dijamin, saya cukup lama merenung. Sampai saya menyadari, bisa jadi pandangan bupati ini merupakan salah satu jawaban atas perbedaan persepsi yang terjadi di tengah masyarakat. Ya, selama ini masyarakat sering berharap lebih kepada pemerintah. Akan tetapi daya dukung birokrasi dan aturan yang memayunginya, ternyata tidak terlalu memberi ruang untuk memenuhi harapan-harapan tersebut.

Belum lagi porsi anggaran yang terlalu kecil untuk pembangunan, dibandingkan untuk membayar kebutuhan rutin seperti gaji, listrik, ATK, dan lain-lain. Sehingga banyak tuntutan masyarakat yang belum terpenuhi. Meskipun mungkin hanya untuk urusan sepele, seperti memberi honor guru mengaji beberapa ratus ribu per bulan. Inilah yang kemudian memunculkan persepsi beragam di tengah masyarakat.

Sejujurnya, apa yang dirasakan oleh masyarakat tersebut, sama dengan apa saya rasakan pada awal menjadi wali kota. Begitu banyak harapan-harapan saya. Namun, saat berada ’di dalam’ pemerintahan, barulah saya menyadari, segalanya tidak sesederhana yang dibayangkan kebanyakan orang. Benar, pendapat bupati tadi, bahwa kita adalah pemerintah yang bekerja sesuai aturan. Setiap kegiatan, harus ada landasan hukumnya.

Hanya saja, kenyataannya dunia demokrasi tetap menuntut lebih terhadap pemimpin hasil pilihan langsung. Inilah sisi buruk sekaligus sisi baik demokrasi. Sisi buruk yang saya maksud adalah sepanjang bisa mengelola isu dan citra, maka orang yang biasa-biasa pun akan tetap dianggap berprestasi. Ini juga diakibatkan tuntutan sebagian besar masyarakat yang terlalu mudah untuk dikalahkan oleh citra dan pencitraan yang ada.

Lebih sedih lagi, masyarakat banyak tidak tahu tentang parameter kinerja objektif seorang kepala daerah. Bahkan sebagian mereka merasa cukup, apabila kepala daerah sudah menyapa, sudah memberinya sesuatu, atau bahkan terpengaruh oleh pengkultusan. Sehingga, akal sehat pun kadang tidak dipakai. Namun demokrasi juga ada keuntungan bagi kita. Setidaknya rakyatlah yang memilih pemimpin di era demokrasi.

Itulah, pengalaman pertama yang ingin saya ceritakan. Barangkali, belum terlihat korelasinya dengan pertanyaan, kenapa Payakumbuh harus didoakan? Karena itu, saya lanjutkan dengan pengalaman kedua. Begini, selama dua tahun didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting sebagai kepala daerah, saya sering mendapat pertanyaan dari banyak pihak. Pertanyaan paling sering, diajukan oleh mereka yang melek politik.

Mereka bilang, apa yang bisa kita perbuat untuk Payakumbuh? Saya jawab, pada dasarnya kita akan bekerja sesuai visi-misi yang tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Namun, bila kita memandang jabatan merupakan amanah, tentu RPJMD tersebut hanyalah target kerja ’minimal’. Sementara, target maksimalnya adalah memberikan semua yang kita mampu bagi rakyat Payakumbuh. Tentu kitalah yang tahu posisi dan seperti apa Payakumbuh hari ini.

Sederhananya, kalau diikuti semua prosedur pembangunan yang berlangsung saat ini dengan usaha maksimal, tetap saja perubahan itu lambat terjadi, karena memang APBD dan APBN kita tidak cukup. Sementara secara kasat mata terlihat, daerah yang menggeliat pembangunannya banyak di Pulau Jawa. Sebab itu, kita butuh inovasi untuk menghasilkan PAD agar mampu menciptakan pertumbuhan tinggi dan berkelanjutan.

Dengan kata lain, kita perlu bermimpi dan kreatif, menciptakan peluang baru yang memungkinkan Payakumbuh berlari kencang. Berlari seperti daerah di Pulau Jawa atau bahkan di luar negeri. Baik Malaysia, Turki dan Eropa yang lebih maju. Hanya saja, bisa jadi keinginan ini tidak dipahami dan bukan menjadi tuntutan rakyat. Untuk itu, kepada mereka yang melek politik tadi, saya sampaikan pula harapan, agar mereka ikut meyakinkan rakyat bersama-sama membangun impian Payakumbuh.

Memang, impian ini tidaklah mudah. Apalagi, bila Payakumbuh dibandingkan dengan kota-kota lain di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya yang Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya sudah tinggi. Walaupun kepala daerahnya tetap memikirkan peningkatan PAD dari tahun ke tahun, tapi untuk APBD, mereka tinggal menghabiskan saja. Sementara, kita di Payakumbuh berpikir menaikkan PAD setinggi-tingginya sambil membelanjakan APBD dengan optimal.

Untuk menaikkan PAD ini, saya sampaikan kepada mereka yang melek politik tadi bukanlah pekerjaan satu malam. Karena kita dengan ketersediaan payung hukum yang ada harus bisa membuat terobosan. Kemudian, terobosan itu perlu diyakinkan kepada birokrat yang akan mengeksekusinya, tapi kerap kadang ragu apa bisa dilaksanakan. Selanjutnya, kita perlu mengemas menjadi rencana-rencana yang matang dan terukur. Meminjam istilah Porter, seorang ekonom berpengaruh, kita harus menciptakan sesuatu dengan cara kita sendiri, sehingga kita unggul dalam pencapaian kemakmuran.

Misalnya, jika Kota Bukittinggi sudah begitu menggeliat dengan pariwisatanya. Maka, kita Payakumbuh dengan apanya? Sehingga, itulah yang menjadi ikon pembeda sekaligus pengungkit kemakmuran kota. Kita harus temukan itu. Ibarat permata di dalam lumpur, perlu terus digali dan diasah, agar kilaunya menyinari semua harapan dan mimpi kita. Kerja yang demikian ini, tentu sangat berat. Bisa jadi melelahkan. Kita tidak tahu apakah bisa untuk itu atau hanya sekedar wacana belaka.

Makanya, tidak salah, dari Masjid Istiqlal Payakumbuh, saya mengajak rakyat untuk bermunajat dan berdoa kepada Allah, agar menunjukkan jalan bagi kerja-kerja yang barangkali hampir mustahil ini. Mudah-mudahan dengan jalan yang diberikan-Nya nanti, bisa memberi inspirasi bagi semua orang yang mau merubah nasib. Untuk itu, sekali lagi mari berdoa. Di samping, tetap kerja, kerja, kerja! (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Luncurkan Program Lumbung Air Wakaf, Wako Payakumbuh Apresiasi ACT

Payakumbuh, beritasumbar.com - Aksi Cepat Tanggap (ACT) meluncurkan program Lumbung Air Wakaf di Halaman PT. Multi Rezeki Selaras, di Kelurahan Padang Data Tanah Mati, Kecamatan...
- Advertisement -

Ingin Dapat BPUM Rp1,2 Juta, Ayo Daftar Sebelum 21 April

Bukittinggi, beritasumbar.com -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi, membuat program Bantuan Bagi Pelaku Usaha Mikro (BPUM), untuk pelaku usaha yang terdampak covid-19 di kota itu. Pendaftaran...

Erman Safar Larang Tempat Hiburan Beroperasi di Bulan Ramadhan

Bukittinggi, beritasumbar.com -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi, mengimbau seluruh kegiatan yang berhubungan dengan hiburan, agar dihentikan pada waktu ibadah puasa dan shalat tarawih di...
- Advertisement -

Pemko Payakumbuh Terima Penghargaan Dari BI Sumatera Barat

Payakumbuh,BeritaSumbar.com, – Pemerintah Kota Payakumbuh menerima penghargaan dari Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat sebagai Kota yang telah melaksanakan pembentukan dan penandatanganan SK Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Provinsi Sumatera Barat yang diserahkan secara langsung oleh Gubernur Sumatera Barat yang dalam hal ini diwakilkan oleh Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Benni Warlis di Kantor Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat, Jumat (9/4).

Ingin Dapat BPUM Rp1,2 Juta, Ayo Daftar Sebelum 21 April

Bukittinggi, beritasumbar.com -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi, membuat program Bantuan Bagi Pelaku Usaha Mikro (BPUM), untuk pelaku usaha yang terdampak covid-19 di kota itu. Pendaftaran...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Etika Politik Koalisi PKS dan PAN Dalam Menentukan Wakil Walikota Padang

Kota Padang sudah resmi memiliki walikota. Sejak dilantiknya Hendri Septa pada tanggal 7 April 2021. Dimana sebelumnya Hendri Septa menjabat sebagai wakil walikota dan selanjutnya pelaksana tugas Walikota Padang. Posisi tersebut ditempatinya untuk mengisi kekosongan setelah Buya Mahyeldi Ansharullah dilantik sebagai Gubernur Sumbar.

MARI EFEKTIFKAN LAGI LIMBAGO USALI DI SETIAP NAGARI…!

"SEBAGAI salah seorang yang pertama menggulirkan wacana gagasan "Baliak Banagari"di tahun 1990-an silam (waktu itu beberapa kali saya tulis di Skh. Singgalang yang kemudian direspon banyak pihak sehingga bergulir menjadi polemik konstruktif-pen), menurut Mak Yum apa pangka bala (sumber utama malapetaka atau yang menyebabkan) gagalnya agenda Baliak Banagari yang telah dijalankan sejak tahun 2000?" tanya seorang peserta seminar nasional tentang Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Museum Adityawarman Padang, tahun 2016 lalu.

TAN GINDO; DALAM DILEMA KEHIDUPAN

“Sudah jatuh tertimpa tangga,dibunuh anak mati induknya, dibunuh induk mati anaknya,begitulah masalah kehidupan mejadi dilemamaka ambil lah hikamah dan kebijksanaankarena dia hanya seperti dua...

USTADZ GURU; SANG KOMANDAN

“Pandai mengeluh sudah bawaan manusiaTak dipelajari sepertinya dia datang sendiriTapi jiwa optimis harus dilatih dan ditumbuhkanSebab alam mengajarkan semua makluk bisa bertahanBahkan manusia bisa...

CURHAT NYI BLORO; RATU LAUT KIJING

“Berani karena benar, takut karena salah,Rajin pangkal pandai (pintar), bisa karena biasa,Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin,Maka pelajarilah sebab musababnya itu,& berharaplah takdir bisa...

BANGKITKAN KESADARAN !

“Dunia pasti berobah dan Kiamat pasti kan terjadi juaKebangkitan dan keruntuhan sebuah bangsa pasti silih bergantiBegitu juga bergulir para penguasa, atas nama jabatan dan...

SEBERKAS CAHAYA DI BUMI MEMPAWAH

“Segelap apapun dunia ini, pasti ada cahayaTergantung bagaimana kita menerimanyaKarena kita manusia dibekali akal fikiranOrang bijak kata; jika tak ada kayu rotanpun jadiMaka, setelah...

KERANJINGAN JADI PEJABAT

“Setiap (pejabat) ketua atau sejenisnya adalah PemimpinTapi setiap Pemimpin belum tentu jadi pejabat,Karena Pemimpin adalah amanah terberat dari-Nya,Maka, tidaklah sulit menjadi pejabat ini dan...

TAN GINDO; APA YANG ENGKAU CARI !?

“Mereka-dia yang berjasa dalam hidupmu,semua yang tersedia dalam jagat rayaSekecil apapun itu, sifat dan ragam bentuknyaSemua adalah ayat-ayat Tuhan yang berjalanBerbagai peristiwa adalah bentuk...

SEKOLAH MERDEKA-KU (2)

"Diri kita bukan hanya milik sendiri, tapi juga orang terdekat,bahkan, darah orang tua dan sanak saudara kita mengalir dalam nadi,namun ingat, ada teman-sahabat dan...
- Advertisement -