27.1 C
Padang
Thursday, November 26, 2020
Beritasumbar.com

Nasib Rupiah dan Ekonomi Berbasis Komoditas
N

Jakarta,-Kurs rupiah terus mengalami pelemahan belakangan ini, mendekati Rp 14.000 per dolar AS. Yang jadi pertanyaan, apa yang menjadi penyebab dari fenomena ini? Kenapa rupiah jadi terlemah di Asia?
Permasalahannya sederhana saja. Rupiah-dolar AS ini mengikuti hukum demand dan supply. Kalau kita lihat pekan lalu, walau tidak besar, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sales) saham sekitar Rp1,5 triliun.
Di samping itu, juga terjadi penjualan obligasi bersih beberapa triliun rupiah. Artinya, ada dana asing yang keluar/outflow, dan outflow itu tentu saja menekan rupiah. Sementara itu, alasan yang diberikan atas terpuruknya rupiah hanya itu-itu saja, yaitu terkait naiknya suku bunga The Fed dan lain-lain. Padahal outflow bisa saja terjadi karena profit taking pihak investor luar yang menguasai pasar saham dan obligasi Indonesia. Sepertinya, bursa saham dan obligasi kita sudah “dimainkan” oleh asing: capital market kita ini sudah jadi ajang cari untung buat mereka.
Di lain sisi, kurs rupiah sangat dipengaruhi neraca perdagangan. Dari merosotnya nilai rupiah dalam seminggu ini, ada indikasi neraca perdagangan dan transaksi berjalan pada April tidak sebaik Maret. Ekspor kita didominasi oleh industri berbasis komoditas seperti sawit, karet, dan batubara, yaitu sekitar 35 persen dari total ekspor kita. Fluktuasi harga komoditas tersebut sangat memengaruhi nilai ekspor kita, dan penurunan harga komoditas akan menekan rupiah.
Di lain pihak, Indonesia sudah menjadi negara net importer minyak mentah dan BBM sehingga kenaikan harga minyak mentah dunia akan meningkatkan defisit perdagangan migas, dan akan menekan rupiah.
Ketergantungan dengan komoditas ini membuat ekonomi kita tidak berdaya ketika harga komoditas runtuh sejak 2012 sampai dengan 2016. Anjloknya harga komoditas dunia seperti batubara, minyak sawit, karet membuat ekspor (barang) kita turun dari 203 miliar dolar AS pada 2011 menjadi hanya 145 miliar dolar AS pada 2016. Penurunan ini membuat pertumbuhan ekonomi turun menjadi  4,78 persen sampai 5,01 persen saja. Seiring anjloknya ekspor ini, rupiah juga merosot terus dari sekitar Rp8.500 per dolar AS pada pertengahan 2011 menjadi Rp14.000 per dolar AS saat ini.
Sementara itu, kita masih belum mampu mengangkat kinerja industri manufaktur untuk meningkatkan ekspor. Yang terjadi malah sebaliknya, yaitu deindustrialisasi. Sejauh ini, belum terlihat industri manufaktur apa yang dapat menjadi andalan ekspor jangka panjang. Tidak ada road map sampai ke sana, bagaimana memperbaiki iklim investasi dalam negeri agar investor asing tidak lari ke negara tetangga seperti Malaysia, Thailand atau Vietnam. Atau bagaimana menciptakan pengusaha manufaktur lokal yang kompetitif di pasar internasional.
Pembangunan industri manufaktur kita sepertinya stagnan, bahkan mundur, sejak reformasi 1998. Pemerintah harus mempelajari kenapa hal tersebut bisa terjadi. Kita mungkin perlu belajar dari Vietnam, negara yang jauh lebih kecil dari Indonesia (dengan jumlah penduduk sekitar 36 persen dari Indonesia), dan yang baru membuka ekonominya tahun 1986.
Vietnam berhasil meningkatkan ekspornya menjadi lebih besar dari ekspor Indonesia. Ekspor Vietnam tahun 2016 sebesar 192,2 miliar dolar AS, dan Indonesia hanya 177,9 miliar dolar AS. Kok bisa?
Yang juga mengkhawatirkan, neraca perdagangan jasa mengalami defisit besar. Khususnya jasa transportasi barang (baca: sektor pelayaran) yang dikuasai asing. Ketika neraca perdagangan barang mengalami surplus, tetapi jasa transportasinya mengalami defisit besar. Artinya, transportasi barang tujuan ekspor kebanyakan menggunakan jasa perusahaan asing, yang tentu saja ikut membuat kurs rupiah tertekan.
Pada 2017, jasa transportasi defisit 6,8 miliar dolar AS, mayoritas dari defisit transportasi barang sebesar 5,6 miliar dolar AS. Oleh karena itu, selain manufaktur, pemerintah harus mempunyai roadmap yang jelas untuk mengurangi defisit sektor transportasi barang (pelayaran) agar mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Dampaknya, pertumbuhan ekonomi kita akan sulit mencapai 5,4 atau 5,3 persen. Kecuali jika harga komoditas, khususnya batubara, karet, minyak sawit membaik terus.

Oleh : Anthony Budiawan
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Kontroversi Taman Nasional Komodo, Urgensi Antara Tempat Wisata atau Konservasi Komodo?

Oleh : Hafshah Mentari Zurisah ~ mahasiswi Program Studi S1 Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Siapa yang tidak tahu Taman...

Ditabrak Pengendara Sepeda Motor,Mobil Dinas Wakil Ketua DPRD Tanah Datar Di Amankan

Tanah Datar,Beritasumbar.com - Ditabrak pengendara sepeda motor,mobil dinas Wakil Ketua DPRD Tanah Datar di amankan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Tanah Datar,...

Andes : “Warga Harau dan Kecamatan Payakumbuh Pilih Darman Sahladi-Maskar No Urut 2”

Limapuluh Kota,BeritaSumbar.com,- Gerakan politisi yang satu ini untuk kemenangan Darman Sahladi-Maskar M Dt Pobo, patut diacungi jempol. Yaitu Marsanova Andesra.

DPP Surosowan Indonesia Bersatu, Bertekad Kuatkan Kearifan Lokal dan Khasanah Budaya

BOGOR - Bangsa Indonesia ini lahir terdiri dari berbagai Suku, adat- istiadat, budaya, agama, dan memiliki kearifan lokal dimasing-masing daerah. Bangsa Indonesia...

Bumerang Microplastic Di Masa Pandemi

Oleh : Annisa Vitri, Arin Simatupang(Mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas, Padang) Seperti yang kita ketahui dunia...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Indikasi Bunuh Diri Relawan Covid-19 China di Brasil, Ada apa dengan Pengujian Klinis Vaksin Covid-19?

Oleh : Ramadhila Sari - Penulis adalah Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Kasus infeksi Covid-19 meningkat di 80 negara sebagian...

Urgensi Vaksin Covid-19

Oleh: Ayu Resti Andrea Suri - Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Baru-baru ini masyarakat telah digencarkan oleh banyaknya vaksin yang...

Nauclea Orientalis, Bunga Yang Mirip Virus Corona.

Oleh: Lidia Gusvita Nasra ~ Mahasiswa Biologi, Universitas Andalas, Padang Tak hanya perkembangan kasus virus corona yang dibicarakan saat...

Kontroversi Taman Nasional Komodo, Urgensi Antara Tempat Wisata atau Konservasi Komodo?

Oleh : Hafshah Mentari Zurisah ~ mahasiswi Program Studi S1 Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Siapa yang tidak tahu Taman...

DIKLATSAR Pecinta Alam Penting Bagi Pendaki Modern Maupun Pendaki Pemula

Oleh : SEPTIANI (Raff 400 Tst) ~ Mahasiswa Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Diklatsar Pecinta Alam, sebuah kata yang...

Waspada, Rumpon Asing Si Pembawa Masalah di Perairan Indonesia

Oleh : Dika Putri Sehati dan Shania Refka Fandesti ~ Mahasiswa Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Laut Natuna merupakan salah...

2021 Tatap Muka, Selamat Tinggal Kuliah Daring

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih ~ Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Sudah hampir 10 bulan semenjak Presiden...

Bumerang Microplastic Di Masa Pandemi

Oleh : Annisa Vitri, Arin Simatupang(Mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas, Padang) Seperti yang kita ketahui dunia...

Gaji THL di Payakumbuh dipastikan berkurang pada 2021

Payakumbuh, BeritaSumbar.com - Meski sempat mendapatkan penolakan dari seluruh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), gaji Tenaga Harian Lepas di Kota Payakumbuh...

Mahyeldi Audy Punya Kedekatan Dengan Pemerintah Pusat

Oleh Reido Deskumar Mahyeldi Audy tidak hanya memiliki visi misi dan program unggulan yang handal, akan tetapi juga memiliki...
- Advertisement -