25 C
Padang
Sabtu, Februari 14, 2026
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Mengingat Kembali Terjadinya Tragedi Kanso/Kansas 44 di Pariaman
M

- Advertisement -

Penulis: Sherlie Shandy

Mahasiswi Strata 1 Prodi SPI UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Tragedi Kanso 44 di Pariaman merupakan salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Sumatera Barat selama masa pendudukan Jepang pada Perang Dunia II. Pada tahun 1944, ketegangan etnis memuncak ketika pejuang pribumi mencurigai sebagian warga keturunan Tionghoa sebagai pengkhianat yang bekerja sama dengan penjajah Jepang. Peristiwa ini tidak hanya menewaskan korban, tetapi juga memicu eksodus massal komunitas Tionghoa dari kota tersebut, meninggalkan warisan trauma yang bertahan hingga kini.

Pariaman, kota kecil di pesisir pantai barat Sumatera Barat, dikenal sebagai Ranah Minang yang kental dengan adat istiadat. Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942-1945, suasana semakin tegang karena perlawanan bawah tanah terhadap penjajah. Pejuang pribumi sering bersembunyi di hutan dan kampung, tetapi lokasi persembunyian mereka kerap diketahui tentara Jepang, memicu kecurigaan terhadap siapa pun yang berinteraksi dengan musuh.

Kedai-kedai milik warga keturunan Tionghoa menjadi pusat perhatian karena sering dikunjungi prajurit Jepang. Pejuang pribumi, yang mengalami banyak korban, memutuskan mengutus anak-anak muda untuk memata-matai aktivitas di kedai tersebut. Pengamatan ini mengungkap tiga oknum keturunan Tionghoa yang diduga melaporkan informasi rahasia kepada Jepang, menyebabkan tertangkapnya rekan-rekan pejuang.

Malam itu, ketiga oknum tersebut ditangkap secara diam-diam oleh kelompok pejuang. Interogasi dilakukan di tempat tersembunyi, di mana mereka mengaku telah membocorkan lokasi persembunyian demi imbalan atau tekanan dari Jepang. Pengakuan ini memicu kemarahan besar di kalangan pejuang yang telah kehilangan banyak nyawa saudara mereka.

Eksekusi pun dilaksanakan dengan cara yang mengerikan menggunakan “kanso”, yaitu potongan seng tebal yang diambil dari kaleng roti bekas dan diasah menjadi pisau kasar. Kanso ini digunakan untuk menggorok leher korban hingga nyaris putus, metode yang cepat namun brutal untuk memberikan efek jera. Peristiwa ini terjadi di Simpang Kampuang Cino, lokasi strategis yang kini berada tepat di depan Tugu Tabuik.

Setelah eksekusi, mayat ketiga korban dibiarkan tergeletak di simpang tersebut dengan kanso masih tertancap di leher mereka sebagai peringatan bagi siapa saja yang melihatnya. Pagi harinya, warga Pariaman yang lewat menyaksikan pemandangan mengerikan itu, menyebarkan ketakutan ke seluruh komunitas keturunan Tionghoa di kota. Nama “Kanso 44” pun melekat, merujuk pada tahun kejadian 1944.

Meskipun hanya tiga oknum yang dieksekusi, prasangka rasial menyebar luas di tengah situasi perang yang penuh ketidakpastian. Seluruh warga keturunan Tionghoa merasa terancam, takut menjadi korban berikutnya meski tidak bersalah. Dalam semalam, eksodus massal terjadi; mereka meninggalkan rumah, toko, dan harta benda tanpa sempat membawa banyak barang.

Aset-aset milik komunitas Tionghoa, seperti bangunan toko dan rumah, dijual secara murah melalui perantara ke luar kota seperti Padang atau Bukittinggi. Tidak ada rampasan paksa secara resmi, melainkan negosiasi darurat untuk menghindari konflik lebih lanjut. Pariaman dengan cepat berubah menjadi kota tanpa kehadiran etnis Tionghoa yang signifikan.
Fenomena ini membuat Pariaman dikenal sebagai satu-satunya kota di dunia tanpa etnis Tionghoa secara permanen hingga era modern. Bahkan wisatawan keturunan Tionghoa jarang berkunjung, meninggalkan jejak trauma kolektif yang sulit pudar. Komunitas tersebut tersebar di kota-kota tetangga, membawa cerita keluarga tentang Pariaman sebagai tanah kelahiran yang ditinggalkan tragis.

Peristiwa Kanso 44 menjadi bagian dari narasi lebih luas tentang gesekan etnis di Ranah Minang selama masa revolusi kemerdekaan. Buku seperti “Tragedi Kanso: Trauma Etnisitas Cina di Pariaman 1945” menggali kedalaman trauma ini, menyoroti bagaimana prasangka perang merusak harmoni sosial. Bedah buku tersebut bahkan dibuka oleh Wali Kota Pariaman Genius Umar pada 2023.

Hingga kini, diskusi tentang tragedi ini masih menyisakan pertanyaan: apakah pengkhianatan itu nyata atau hasil paranoia perang? Beberapa sumber menekankan bahwa tidak semua keturunan Tionghoa terlibat, dan peristiwa ini lebih mencerminkan dinamika survival di masa sulit. Rekonsiliasi etnis diperlukan untuk menyembuhkan luka lama di masyarakat Minang.

Mengingat kembali Tragedi Kanso 44 mengajarkan pelajaran yang berharga tentang bahaya prasangka rasial di tengah krisis. Pariaman kini maju sebagai kota wisata, tetapi bayang-bayang masa lalu tetap ada sebagai pengingat untuk menjaga toleransi. Sejarah ini harus diceritakan secara netral agar generasi muda memahami akar konflik dan membangun perdamaian abadi.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img