Konon, Camat Pauh Wardas Tanjung sempat dibawa orang bunian atau makhluk halus yang diyakini warga sebagai penunggu hutan. Kabar itu beredar ketika Wardas melakukan pendakian bersama rombongan Walikota Padang H. Mahyeldi menuju sungai Padang Janiah di hulu Batang Kuranji kawasan hutan Batu Busuak Kecamatan Pauh, Jumat (27/2).
Kronologis hilangnya Camat Pauh ini, dituturkan warga setempat, Rajo Bujang yang turut memandu rombongan Walikota Mahyeldi.
Menurut Rajo Bujang, sesampai di pertemuan dua anak sungai Padang Karuah dan Padang Janiah yang disebut Patamuan, Wardas sudah mendua hati untuk melanjutkan ke hulu. Sebab, jalan menuju hulu, dimana Tim Pembersihan Hulu Sungai berposko, sangat ekstrim.
”Kemudian Pak Camat melanjutkan perjalanan juga karena dimotivasi oleh Kepala BPBD. Tetapi tidak bersama anggota rombongan lain, karena beliau bersama dua orang lainnya memilih berjalan lebih santai,” ujar Rajo Bujang.
Sementara rombongan lain terus berjalan, Camat Wardas dan dua temannya mengikuti dari bekakang.
”Menjelang malam, semua rombongan sudah tiba di posko, namun Pak Camat tidak kelihatan,” ujar Rajo Bujang.
Mursalim, Kabag Humas Kota Padang menambahkan, mengetahui Camat Wardas ‘hilang’, seketika itu di posko geger. ”Walikota memerintahkan beberapa orang untuk melacaknya. Juga ditanya siapa yang menjadi penanggungjawab Camat Pauh,” kata Mursalim.
Menurutnya setiap pejabat ikut dalam ekspedisi itu sudah ditentukan pemandu yang bertanggung jawab.
Ia menambahkan, beberapa orang berupaya melakukan pencarian di tengah gelapnya hutan belantara malam itu. ”Pak Wali sangat mengkhawatirkan Pak Wardas,” imbuhnya.
Setelah hampir empat jam, menjelang tengah malam, Camat Wardas dan yang lain termasuk beberapa orang yang diutus, akhirnya muncul di posko.
Begini penuturan Wardas Tanjung, ”Sebelumnya memang agak berat untuk melanjutkan perjalanan, tapi kami paksakan. Lalu entah kenapa kami memilih jalan yang salah. Padahal kami yakin jalan itu merupakan jalan yang sering ditempuh orang. Dan ketika melaluinya, hari sudah malam, hujan lebat, dan tanjakannya makin tinggi. Namun saya seperti bertenaga menempuhnya. Sementara dua orang yang mendampingi saya malah tertatih-tatih. Padahal mereka saya tugaskan untuk membantu saya dalam perjalanan ini karena saya tidak kuat melalui jalan yang mendaki,” jelas Wardas.
Setelah hampir berjalan selama dua jam, kata Wardas, belum juga sampai. Seharusnya satu jam perjalanan dari lokasi setelah Patamuan mereka sudah sampai di hulu Padang Janiah.
Ia sudah berusaha mencari lokasi yang ada sinyal seluler, menghubungi ‘dunia luar’ namun tidak bisa. Ia nyaris putus asa. Di tengah kebuntuan komunikasi itu ia dan kawan – kawan beristirahat sambil berpikir bagaimana upaya selanjutnya. Beruntung, HP di kantongnya tiba – tiba bergetar pertanda sinyal bersahabat.
”Saya dihubungi Ibu Walikota karena ingin menitip sesuatu buat Pak Wali. Saya bilang saya belum di lokasi, dan tidak tahu berada di mana. Beberapa saat kemudian istri saya yang menghubungi. Yang ketiga kali saya dihubungi oleh anggota BPBD yang berada di Posko PLTA Kuranji,” tuturnya.
Pertanyaan petugas Posko tersebut kepada saya, “Pak Camat dimana lokasinya sekarang? Jangan kemana-mana! Tetap di situ! Sebentar lagi ada tim yang akan menjemput,” kata Wardas.
Saat itulah, Wardas langsung memberikan gambaran tentang lokasi dan area yang telah ditempuhnya. Perkiraan, dia sudah berada di Bukik Batuang, yang tidak beberapa jauh berbatas dengan Salayo, Kabupaten Solok.
“Lebih kurang empat puluh lima menit setelah telepon Petugas Posko tersebut saya terima, alhamdulillah tim penyelamat yang ditugaskan Walikota datang,” ucap Wardas.
Ada yang meyakini Wardas dibawa orang bunian, namun banyak yang menampik, lantaran Wardas dikenal sebagai orang alim di lingkungannya.
“Saya hanya pasrah kepada Allah ketika tersesat di hutan. Sambil berdzikir Laa ilaaha illallaah dan berdoa, saya yakin Allah SWT akan menyelamatkan saya dan menuntun langkah saya,” tutup Wardas.
Editor: Rumi Gagarin Sumber: Humas Kota Padang / DU