26 C
Padang
Rabu, Januari 19, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Manfaatkan Gulma Tithonia, Tim Pengabdian Universitas Andalas Bina Petani Membuat Pupuk Organik Cair
M

- Advertisement -

Ryan Budi Setiawan SP, M.Si

Pertanian merupakan salah satu sektor utama penggerak perekonomian Indonesia. Sektor ini terus mengalami perkembangan, baik kelembagaaan, teknis budidaya, aspek pemasaran, sosial dan aspek lain yang terkait. Pembangunan pertanian tidak bisa dilepaskan dari adanya pengaruh revolusi hijau dimana merubah secara drastis sistem pertanian tradisional yang ada di masyarakat. Pembukaan lahan, penggunaan benih unggul, pemupukan anorganik, irigasi, dan penggunaan pestisida merupakan beberapa penerapan pelaksanaan revolusi hijau di Indonesia.

Peningkatan produktivitas hasil pertanian yang dinilai berhasil ternyata memberikan dampak negatif terhadap aspek lain misalnya, hilangnya keanekaragaman genotipe lokal akibat penggunaan benih unggul sejenis, masalah kesehatan akibat residu pestisida pada hasil panen, resistensi hama dan penyakit terhadap pestisida, degradasi lahan akibat residu pemupukan seperti peningkatan kemasaman tanah dan berkurangnya makroorganisme serta mikroorganisme tanah.

Prof Zulfadly menyatakan bahwa “,Degradasi lahan yang menyebabkan penurunan kesuburan tanah menjadi isu utama pembangunan pertanian kedepan. Pemupukan anorganik yang berlebihan tanpa pemberian bahan organik sebagai pembenah tanah akan menjadi bom waktu penurunan hasil pertanian. Konsep pemupukan harus disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Residu yang ditinggalkan dari pemupukan malah akan berdampak negatif terhadap hasil pertanian,”.

“,Kedepan konsep pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan (ecofriendly) harus terus dikampanyekan dan dilaksanakan. Mungkin untuk merubah seratus persen penggunaan pupuk anorganik tidaklah mudah, namun pemupukan berimbang dengan penambahan pupuk organik tentu menjadi solusi. Berbagai sumber bahan organik dapat diproses menjadi pupuk organik misalnya kotoran hewan, sisa biomasa tanaman, hasil pembakaran berupa arang, limbah kota, limbah rumah tangga dan gulma. Bahan – bahan tersebut dapat diolah melalui pengomposan atau fermentasi sehingga siap untuk digunakan sebagai pupuk”, imbuh beliau.

“,Penggunaan gulma sebagai bahan baku pupuk organik juga menjadi solusi pengendalian gulma di areal budidaya, bahkan beberapa jenis gulma mengandung hara yang sangat tinggi dan berpotensi sebagai bahan baku pupuk organik. Contohnya gulma tithonia  yang lebih dikenal dengan nama paitan atau bunga matahari mexico. Tithonia  adalah gulma tahunan yang layak dimanfaatkan sebagai sumber hara bagi tanaman”, ungkap Prof Ardi yang merupakan Guru Besar Ilmu Gulma di Universitas Andalas.

“,Laporan penelitian menunjukkan tithonia mengandung setidaknya nitogen 3,50-4,00%, posfor 0,35-0,38% dan kalium 3,50-4,10%. Bagian yang dapat digunakan sebagai pupuk adalah batang dan daunnya. Tithonia  dapat dimanfaatkan dalam bentuk pupuk hijau segar, pupuk hijau cair, kompos dan mulsa. Pupuk organik ini dapat mengurangi ketergantungan petani dengan pupuk anorganik”, tambah beliau.

Pendampingan kepada petani untuk memulai kemandirian dalam penyediaan pupuk adalah tanggu  jawab semua pihak terkait, terutama akademisi yang memiliki fungsi sebagai fasilitator dan jembatan penyambung antara perguruan tinggi dan masyarakat. Dalam rangka diseminasi iptek tentang pengolahan gulma tithonia menjadi pupuk organik maka tim pengabdian Universitas Andalas ditugaskan oleh Rektor melalui kegiatan Membatu Nagari Membangun untuk mendiseminasikan iptek pembuatan pupuk organik cair berbahan dasar tithonia.

Dr. Yusniwati selaku tim pengabdian menyatakan bahwa “, di tahun 2021 ini kami melakukan pengabdian masyarakat di Payo Kota Solok sebagai pilot projek pembuatan pupuk organik cair tithonia. Keberadaan gulma ini  tidak hanya menjadi pengganggu di lahan pertanian, namun  juga menurunkan nilai estetika karena banyak tumbuh ditepi jalan. Berdasarkan informasi dari masyarakat gulma ini sangat cepat tumbuh dan sulit dikendalikan. Payo saat ini diproyeksikan menjadi kawasan agrowisata di Kota Solok, jika gulma ini  dibiarkan tumbuh dan tidak dimanfaatkan tentu akan mengurangi nilai estetika kawasan agrowisata.

“,Pupuk cair tithonia ini dibuat menggunakan metode fermentasi dengan bantuan mikroorganisme yaitu Saccharomyces cerevisiae, bakteri Asam Laktat (Lactobacillus Sp), Bakteri Fotosintetik (Rhodopseudomonas Sp), Actinomycetes Sp, dan Streptomyces. Proses pembuatan pupuk cair ini sangat mudah, sebanyak 20 kg daun dan batang dimasukkan kedalam ember, kemudian dicampurkan dengan air sebanyak 60 liter, larutan mikroorganisme sebanyak 200 ml dan gula merah 2.5 kg sebagai sumber energi bagi mikroorganisme, kemudian difermentasi selama 14 hari. Aplikasi pupuk cair bisa dengan mencampurkan dengan air pada perbandingan 1 : 10″, ungkapMellyyana handayani.

Tithonia juga memiki peran lain sebagai pestisida organik untuk pengendalian organisme penggngu tanaman. Sebagai contoh dikutip dari Jurnal Bios Logos yang menyatakan bahwa tithonia mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan tanin, dimana senyawa-senyawa tersebut mempunyai aktifitas insektisida penghambatan daya makan (antifeedant). Alkaloid dan flavonoid merupakan senyawa yang dapat bertindak sebagai stomach poisoning atau racun perut, sehingga apabila senyawa alkaloid dan flavonoid masuk ke dalam tubuh serangga maka alat pencernaannya akan terganggu. Senyawa tersebut juga mampu menghambat reseptor perasa pada daerah mulut serangga, sehingga menyebabkan serangga tidak mampu mengenali makanannya, hingga mati kelaparan. Tanin merupakan komponen yang berperan sebagai pertahanan tanaman terhadap serangga yaitu dengan cara menghalangi serangga dalam mencerna makanan. Tanin mengganggu serangga dalam mencema makanan karena tanin akan mengikat protein sehingga proses penyerapan protein dalam sistem pecemaan menjadi terganggu

Pupuk cair ini dapat diberikan pada semua jenis tanaman, baik tanaman tahunan ataupun palawija. Harapan kedepan lebih banyak  petani di Payo memanfaatkan dan mengadopsi teknologi pembuatan pupuk cair ini, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik yang harganya cenderung terus mengalami kenaikan. Selain itu pupuk organik akan memperbaiki kualitas tanah dan pada akhirnya akan membantu peningkatan produksi pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img