26 C
Padang
Minggu, Januari 17, 2021
Beritasumbar.com

Makna Kemerdekaan
M

Kategori -

Oleh: Sulton Kamal

Orang merdeka itu cukup baginya isyarat
sedangkan bagi seorang budak
(manusia yang belum merdeka)
tidak akan mengerti dan tidak akan bertindak
kecuali jika dicambuk terlebih dahulu

AGUSTUS bagi bangsa Indonesia adalah bulan spesial, karena pada bulan inilah setiap tahun rakyat dan pemerintah Republik Indonesia pada 17 Agustus memperingati hari lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setiap warga Negara Republik Indonesia mungkin pernah mengikuti upacara tersebut dan masing-masing mempunyai perasaan dan pemaknaan tersendiri tentang apa itu arti kemerdekaan bagi bangsa Indonesia dan rakyatnya.

Bagi penulis ketika mengikuti upacara HUT RI dengan pengibaran bendera Sang Merah Putih oleh Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera) sambil diiringi lagu Indonesia Raya, benak ini tak kuasa diajak untuk membayangkan para leluhur founding fathers kita yang berjuang mati-matian melawan penjajah dan akhirnya pada 17 Agustus 1945 mereka dengan semangatnya memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, dan menolak segala bentuk macam penjajahan di atas dunia.

Mereka para pendiri bangsa mengharapkan sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan yang telah direbut oleh bangsa Indonesia dari penjajah Belanda, juga menjadi menjadi hak bagi segala bangsa, dan pada saat yang sama hakikat kemerdekaan itu harus menjadi hak asasi bagi setiap rakyat penghuni NKRI.

Jauh-jauh hari leluhur kita sadar sesadarnya, bahwa demi mewujudkan makna kemerdekaan pada setiap diri pribadi rakyat Indonesia, mereka mengamanahkan kepada pemerintahan yang baru dilahirkan ketika itu agar berusaha untuk menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa secara menyeluruh.

Dua hal tersebut di atas adalah prasyarat bagi terciptanya kemerdekaan. Rakyat tidak akan menikmati dan merasakan arti kemerdekaan tanpanya. Bagaimana mungkin kemerdekaan akan dinikmati kalau ketidaksejahteraan (kekurangan, kedhoifan, dan ketakutan) selalu dirasakan dalam kehidupan, terus mungkinkah kemerdekaan juga bisa dirasakan beriringan dengan mengentalnya kebodohan di tengah-tengah kehidupan masyarakat? tentu tidak bukan.

Persoalannya, tafsir kemerdekaan kadang diartikan berbeda oleh setiap pribadi, dan dinilai sesuai dengan ukuran masing-masing orang yang menafsirkan, bahkan tidak jarang pula diartikan dengan standar material yang semu. Sehingga banyak muncul di tengah masyarakat pertanyaan apakah benar kita sudah merdeka? Adakah pemerintah yang diamanahkan oleh para leluhur bangsa sudah mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, karenanya masyarakat sudah merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya?

Benarkah kemerdekaan itu ukuran-ukurannya hanya materi semata? sehingga betulkah hanya orang-orang yang berpunya saja yang bisa merasakan kemerdekaan?

Hakikat Kemerdekaan

Sekadar memberi makna seperti apakah kemerdekaan itu? Tentu masing-masing kita bisa saja mengungkapkannya sesuai dengan apa yang kita pahami dan kita rasakan sendiri. Bisa jadi merdeka itu ada yang mengartikan seperti yang dirasakan anak-anak kecil di kampung yang mengibar-ngibarkan bendera kasana-kemari menyambut peringatan hari 17 Agustus-an.

Bisa juga (mungkin) seperti (maaf) abang becak yang tertidur pulas di becaknya menunggu penumpang, atau seperti seorang ilmuwan yang bebas berekpresi dan bereksperimen, atau bebas seperti seniman berkreasi dengan improvisasinya, atau seperti sang pujangga yang menyanjung dan berfantasi dengan puisi-puisi rindu cintanya kepada kekasih pujaan hati.

Bahkan jangan-jangan ada pula yang mengartikan merdeka itu seperti pemimpin yang bebas menikmati “kekuasaannya”, dan pastinya masih banyak lagi makna yang lain, pun pembaca boleh saja memberi tafsir tersendiri tentang apa itu kemerdekaan.

Dalam memberi makna hakikat kemerdekaan, ada sepenggal bait syair dari penyair Arab Yazid bin Mufrigh al-Hamiry, yang dalam hal ini relatif bersesuaian untuk menjadi dasar makna apa itu merdeka. Pada salah satu baitnya beliau mengatakan: al-hurru takfihil isyaroh wal ‘abdu yuqro’u bil ‘asho, yang artinya kurang lebih sebagaimana yang tersirat pada awal tulisan ini.

Lewat petikan syair ini sang penyair menerangkan tentang perbedaan yang hakiki antara orang yang merdeka dan orang yang belum merdeka; masih menjadi budak (hamba sahaya), yang kehidupannya masih dikuasai serta terjajah oleh pihak lain. Digambarkan sebagai akibat fatal dari keadaan raganya yang tidak merdeka ini, seorang budak secara kejiwaan dan wawasan berpikirnyapun turut serta terbelenggu, kerdil, dan tidak berkembang.

Cerita tentang keberadaan budak (manusia yang tidak merdeka), pada zaman dimana masih berlangsungnya praktik perbudakan, eksistensi mereka (para budak) sama saja seperti halnya benda yang bisa dimiliki, dimanfaatkan, dirusak, disakiti, bahkan merekapun bisa dijual-belikan oleh sang empunya kalau mau.

Jiwa raga mereka sangat terkekang dan tidak memiliki kebebasan, selalu dalam ketakutan. Akibat yang terjadi adalah, seorang budak tidak akan melakukan sesuatu kecuali atas kehendak tuannya. Keadaan ini berbanding terbalik, dan sangat berbeda dengan orang yang merdeka; bebas tidak dikendalikan oleh siapapun, mau berbuat apa saja tidak takut, karena jiwa raganya hanya dia sendiri yang memilikinya.

Konon dulu kehidupan seorang budak sangat tergantung sekali dengan majikannya, sehari-hari hanya menunggu perintah yang harus dikerjakannya. Si budak tidak akan berani berbuat ini dan itu kecuali apabila tuannya yang memerintahkan. Karena dia tahu kalau melakukan sesuatu tanpa disetujui tuannya, pasti akan dimarahi dan akibatnya akan disakiti atau disiksa, (Ingatkah kita akan kisah Bilal bin Rabah budak kepada Umayyah bin Khalaf yang mengalami siksaan berat karena melakukan hal yang tidak dikehendaki majikannya?).

Akibat dari keadaan yang terakumulasi sekian lama, kondisi psikologis seorang budak akan selalu terkekang baik jiwa maupun raganya, lahir serta bathinnya, bahkan mindset pikirannya juga ikut beku tidak terbiasa merespon dan mengambil prakarsa untuk bertindak. Sebagai contoh seandainya dihadapan dia ada sesuatu yang bisa mencelakakan orang, dia tidak akan menyingkirkannya karena takut perbuatannya itu dipandang salah majikannya, bahkan bila ada isyarat untuk menyingkirkannya, dia juga tidak melakukannya karena fikirannya tidak terbiasa digunakan untuk mengerti akan isyarat atau tanda. Dia baru akan melakukan jika disuruh (dipukul) untuk melakukan oleh majikannya.

Iktibar dari cerita di atas adalah setiap manusia memiliki hak kemerdekaan dalam hidupnya, keadaan yang mengekang dan menjajah kita, bisa saja menyebabkan jiwa dan raga bahkan wawasan berfikir kita tidak berkembang dan takut untuk berbuat dan mengambil risiko.

Tetapi memiliki jiwa yang merdeka lebih penting dan menjadi keutamaan bagi setiap orang untuk memilikinya, setelah itu tentu raga kita juga harus merdeka.

Dalam hal ini pepatah Arab juga mengingatkan kepada kita tentang pentingnya jiwa kita yang merdeka, karena dengannyalah kejatidirian manusia mewujud dan dihargai: Aqbil ’alan nafsi wastakmil fadhailaha, Fa-anta bin nafsi la biljismi insanu. Artinya kurang lebih sebagai berikut: Berikanlah perhatian pada jiwa, dan sempurnakan keutamaannya, sebab dengan jiwa itulah kamu disebut manusia bukan dengan badanmu.

Di alam kemerdekaan ini masih banyak kita jumpai, sebagian dari saudara-saudara kita yang ternyata masih belum “merdeka” jiwanya, boleh jadi raga dan lahir mereka merdeka tapi wawasan dan mindset berfikir mereka masih terkungkung seperti budak, buktinya untuk menjalankan hal-hal yang baik, benar, dan bermanfaat saja masih harus disuruh-suruh, iingatkan, dibuatkan peraturannya, ditunjukkan contohnya, bahkan harus ditegur dulu, diperingatkan dulu, dan dihukum dulu baru mau melakukannya.

Dari sini bisa dipahami kalau pahlawan kemerdekaan kita sejak zaman penjajahan Belanda mengutamakan dan mendahulukan kondisi kemerdekaan jiwa dibanding lainnya, seperti tertuang dalam lagu kemerdekaan Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”.

*Penulis adalah Guru Sekolah Indonesia Kuala Lumpur / Staff Lokal KBRI Kuala Lumpur.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Bupati Limapuluh Kota Serahkan Bantuan Kepada Korban Kebakaran Di Simalanggang

Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi memberikan bantuan korban kebakaran rumah semi permanen, Selasa(12/1) di Nagari Koto Baru Simalanggang Kecamatan Payakumbuh.
- Advertisement -

Irfendi Arbi Serahkan APD Bantuan Donatur

Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi menyerahkan bantuan mesin hand sprayer, cairan desinfektan, masker dan hand sanitizer serta vitamin bagi sekolah-sekolah, kantor wali nagari, kantor camat dan lainnya di Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Limapuluh Kota. Ia berharap bantuan donatur yang disalurkan melalui forum peduli Sumatera Barat itu mampu mencegah penyebaran Covid-19 di daerah ini.

Turun Tinjau Lokasi Banjir Dan Longsor, Kapolres Pessel Serahkan Bantuan

Kapolres Pesisir Selatan AKBP. Sri Wibowo, S.Ik turun menuju lokasi longsor di Kampung Langgai, Nagari Ganting Mudiak Utara Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan. Lokasi longsor ini ada sekitar 35 km dari jalan nasional yang melintasi kabupaten ini.
- Advertisement -

Polres Pessel Gelar Giat AYO PAKAI Masker

Anggota Satlantas Polres Pesisir Selatan memasang stiker bertuliskan " Ayo Pakai Masker", di kendaraan roda dua dan roda empat, yang melintas di kota Painan, Jum'at (15/1). Selain stiker, juga dibagikan masker pada warga, juga pengendara di wilayah Hukum Polres Pessel, Jum'at (15/1).

Melalui Disperkim, Pemko Payakumbuh Lanjutkan Program peningkatan Kualitas RTLH

Pemerintah Kota (Pemko) Payakumbuh melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (Perkim) Kota Payakumbuh kembali lanjutkan program kegiatan bantuan swadaya peningkatan kualitas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Payakumbuh untuk tahun 2021.
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Polri Ambil Langkah Cepat Antisipasi Peningkatan Kasus Covid-19

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) segera mengambil langkah cepat sebagai antisipasi melonjaknya jumlah kasus terkonfirmasi dan kematian akibat COVID-19 periode 1-14 Januari 2021.

Seleksi LTMPT Terbuka untuk Jalur Vokasi

Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) siap mendukung seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi vokasi se-Indonesia. Selain Politeknik, perguruan tinggi yang memiliki jalur vokasi dapat bergabung pada seleksi yang khusus dibuka untuk jenjang Diploma IV atau Sarjana Terapan.

Ketua MPR RI Apresiasi, Ormas Surosowan Indonesia Bersatu, yang Peduli Adat dan Budaya Nusantara

Organisasi Masyarakat (Ormas) Surosowan Indonesia Bersatu menjalin silaturahmi dengan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menerima silaturahmi DPP Surosowan Indonesia Bersatu di Black Stone, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat pada Kamis (14-01-2021)

Ini Pesan Dewan Kehormatan PWI Sumbar Didepan Peserta KLW

Sebanyak 35 orang wartawan muda Tanah datar mengikuti kegiatan karya latihan wartawan ( KLW) yang diselenggarakan oleh PWI Tanah datar di pendopo Indojalito Kamis (14/01) kemarin.

13 Paket Kecil Sabu Ditemukan Polres Pessel, 3 Tersangka Diamankan

Pesisir Selatan, beritasumbar.com- Tim Ospnal Satnarkoba Polres Pesisir Selatan kembali membekuk tiga orang tersangka penyalagunaan narkoba, berinisial RE (46) warga Pasar 60, Kecamatan Batang...

AMPERA, Komjen. Pol. Dr. Drs. Boy Rafli Amar, M.H Sosok yang tepat menjadi Kapolri

akarta,Minggu (3/1/21). Ditengah akan habisnya jabatan KAPOLRI Idham Aziz Bapak presiden Ir. Joko widodo meminta wakil komisi 3 DPR RI diminta memanggil Komjen. Pol. Dr.Drs. Boy Rafli Amar untuk menjalani ujian kelayakan sebagai KAPOLRI.

Di Hari Jadi Ke 46, Perumda Air Minum Kota Padang Luncurkan Air Minum Dalam Kemasan

Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kota Padang meluncurkan produk Air Minum Dalam Kemasan ( AMDK) pada momen hari jadinya yang ke-46 tahun, Rabu (30/12) kemaren.

Antisipasi Jadi Zona Merah, Wilayah Zona Oranye Diminta Perketat Penanganan Covid-19

Zona Oranye atau daerah berstatus risiko sedang penularan Covid-19 bukanlah zona yang aman untuk ditempati. Sayangnya, dalam zona ini diisi mayoritas kabupaten/kota di Indonesia. Satgas Penanganan Covid-19 menyoroti sejumlah daerah yang saat ini masih menghuni zona oranye, jumlahnya mencapai 378 kabupaten/kota berdasarkan data terakhir.

Antisipasi Varian Baru Covid-19, Pemerintah Tutup Sementara Perjalanan WNA ke Indonesia

Adanya informasi ditemukannya strain atau varian baru virus Covid-19, yang menurut berbagai data ilimiah memiliki tingkat penyebaran lebih cepat, Pemerintah memutuskan untuk menutup sementara masuknya warga negara asing ke Indonesia sebagai upaya pencegahan.

WMI Kecam Pelecehan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Ketua Umum Wahana Muda Indonesia (WMI), Handriansyah mengecam aksi pelecehan yang dilakukan oleh Nitizen Malaysia terhadap lagu Kebangsaan Indonesia Raya dalam sebuah content YouTube, menurutnya hal ini merupakan pelecehan terbesar terhadap harga diri dan Martabat Bangsa Indonesia yang berdaulat.
- Advertisement -