Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

ALHAMDULILLAH, segala puji hanya milik Allah yang Maha menatap dan mengetahui segala tindak-tanduk ciptaan-Nya. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Saw.

Puncak kesuksesan seseorang bermuara pada kelapangan dada dalam menerima kritikan. Namun, anehnya tidak semua orang suka dikritik, karena beranggapan kritik adalah penghinaan yang menurunkan harga diri dan mencemarkan nama baik. Padahal kalau kita bisa menyikapinya, kritikan tidak akan menjadi bumerang melainkan rezeki yang tidak disangka-sangka. Lalu, bagaimana caranya agar kita siap menerima kritikan orang lain?

Cara yang efektif untuk bisa berlapang dada dalam menerima kritikan, dapat diawali dengan teknik mencari tahu kelemahan diri dari kerabat terdekat. Teknik ini bukan untuk mencari kelemahan agar mudah dipersenjatai melainkan memudahkan kita dalam mengetahui kekurangan diri.

Orang terdekat akan lebih terbuka dalam memberikan kritikan. Kritik tersebut tidak hanya dalam hal keindahan, seperti cocok atau tidak baju yang kita pakai, akan tetapi mintalah dikritik mengenai perilaku kita. Apakah sudah sesuai dengan yang mereka harapkan? Juga apakah sikap kita aman bagi orang lain?

Dengan mengetahui kelemahan yang ada, maka akan memperjelas kekurangan diri sehingga termotivasi untuk terus melakukan perbaikan. Apabila teknik mencari tahu kelemahan diri ini dipraktekan secara kontinyu dan konsisten, bisa dipastikan akan terbangun sikap dan perilaku pengendalian diri. Karena ada orang-orang disekitar yang mengawasi sikap dan perilaku kita, selain Allah tentunya.

Ketika teknik mencari kelemahan diri dari kerabat terdekat sudah dikuasai, dengan sendirinya kita akan siap menerima kritikan dari orang lain. Kita tidak akan merasa dilemahkan oleh kritikan. Justru diuntungkan, karena sudah dibantu oleh orang-orang untuk memberikan masukan demi perbaikan diri.

Dan seseorang bisa berlapang dada menerima kritikan jika hatinya bersih. Dalam hati yang bersih terdapat kestabilan dalam mengatur diri. Sepedas apapun kritik akan dihadapi dengan ketenangan. Seandainya kritik itu benar, maka kita akan bersyukur karena ada yang mengingatkan. Dan bila kritik itu berada diluar diri—berupa fitnah—maka berusahalah untuk mengambil pelajaran darinya.

Untuk itu saudaraku, tidak ada kritik yang akan melemahkan diri. Kita tidak akan terhinakan oleh kritik dan kita pun tidak akan dipermalukan oleh pedasnya cacian. Semua perlakuan dari orang lain itu adalah rezeki. Karena ada kritik, kita bisa lebih mendewasakan diri dan karena ada cacian, kita dapat memperbaiki diri. [*]

loading...