23 C
Padang
Minggu, September 19, 2021
Beritasumbar.com

M.Natsir, Tokoh Pendidikan Islam
M

Kategori -

Oleh : Syaiful Anwar

Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh

A. Riwayat Hidup M.Natsir

Muhammad Natsir gelar Datuk Sinaro Panjang, dilahirkan di Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat (Umar, 2009: 211). Ia lahir pada hari Jumat 17 Jumadil Awal 1326 H (17 Juli 1908). Ayahnya bernama Muhammad Idris Sutan Saripado, seorang pegawai rendah yang pernah menjadi juru tulis pada Kantor Controleur di Maninjau. Pada tahun 1918, Sutan Saripado dipindahkan dari Alahan Panjang ke Makassar (Sulawesi Selatan) sebagai sipir (Penjaga tahanan) (Luth, 1999: 21-22).

Di tempat kelahirannya, Natsir melewati masa-masa sosialisasi keagamaan dan intelektualnya yang pertama. Ia menempuh pendidikan dasar di sekolah Belanda dan mempelajari pendidikan agama dengan tekun pada beberapa alim ulama. Sejak umur delapan tahun, ia berkeinginan masuk Sekolah Government di Maninjau (Umar, (Umar, 2009: 211) . Ia juga berkeinginan melanjutkan pendidikannya ke sekolah rendah berbahasa Belanda (HIS). Keinginan tersebut tidak terlaksana karena ia hanya anak seorang pegawai rendahan. Lalu ia masuk HIS Adabiyah, sebuah sekolah partikulir di Padang. Setelah beberapa bulan belajar di Padang, ia dipindahkan ayahnya ke HIS Pemerintah Solok.  Di Solok, ia juga mempelajari bahasa Arab dan hukum Fiqh kepada Tuanku Mudo Amin yang dilakukannya pada sore hari di Madrasah Diniyah dan mengaji Al-Quran pada malam harinya (Umar, 2011: 211-212).

Setelah lulus dari HIS, Natsir mengajukan permohonan untuk mendapat beasiswa dari MULO (Meer Uitgebreid Lager Orderwijs), dan ternyata lamarannya itu diterima. Di MULO Padang inilah Natsir mulai aktif dalam organisasi. Mula-mula ia masuk Jong Sumatranen Bond (Sarikat Pemuda Sumatera) yang diketuai oleh Sanusi Pane. Kemudian ia bergabung dengan Jong Islamieten Bond (Sarikat Pemuda Islam), dan di situ pun, Sanusi Pane aktif sebagai Ketua, dan menjadi anggota Pandu Nationale Islamietische Pavinderij (Natipji), sejenis Pramuda sekarang. Menurut Natsir, organisasi merupakan pelengkap selain didapatkannya di sekolah, dan memiliki andil yang cukup besar dalam kehidupan bangsa. Dari kegiatan berbagai organisasi inilah mulai tumbuh bibit sebagai pemimpin bangsa pada Natsir.

Aktivitas Natsir semakin berkembang ketika ia menjadi siswa di Algememe Midelbare School (AMS) di Bandung. Di kota ini ia mempelajari agama secara mendalam serta berkecimpung dalam bidang politik, dakwah dan pendidikan. Di tempat ini pula Natsir berjumpa dengan A. Hasan (18871958), seorang tokoh pemikir dan pendiri Persatuan Islam (Persis). Natsir mengakui bahwa A. Hasanlah yang memengaruhi alam pikirannya (Nata, 2005: 75).

Selain itu pada saat belajar di AMS Bandung, Natsir juga mulai tertarik pada gerakan Jong Islameten Bond (JIB) yang anggotanya adalah pelajar-pelajar bumi putra yang belajar di sekolah Belanda. Organisasi ini memeroleh pengaruh intelektual dari H. Agus Salim (Umar, 2011: 213).

Minat dan perhatian Natsir terhadap persoalan keislaman dan kemasyarakatan sebagaimana tersebut di atas menyebabkan Natsir menolak tiga kesempatan yang ditawarkan kepadanya, yaitu melanjutkan studi ke Fakultas Ekonomi atau Fakultas Hukum di Rotterdam, menjadi pegawai negeri dengan gaji besar sebagai hadiah atas keberhasilannya menyelesaikan studi di AMS dengan nilai tinggi. Minat tersebut direalisasikannya dengan aktif dalam bidang pendidikan secara luas yang dirintisnya dengan melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan studi Islam yang dilaksanakan oleh Persatuan Islam (Persis) di Bandung, yang dimulai sejak tahun 1027-1932 di bawah pimpinan A. Hasan.

Perhatian Natsir terhadap kondisi pendidikan pada masa itu mendorongnya untuk mengikuti kursus guru diploma (Lager Orderwijs) selama setahun (1931-1932).

Setelah belajar di AMS, Natsir tidak melanjutkan kuliah, melainkan mengajar di salah satu sekolah di MULO Bandung. Ini merupakan panggilan jiwanya untuk mengajarkan agama, yang pada masa itu dirasakan belum memadai. Sadar terhadap keadaan sekolah umum yang tidak mengajarkan pelajaran agama, Natsir mendirikan lembaga Pendidikan Islam (PENDIS), suatu lembaga pendidikan modern yang mengkombinasikan kurikulum pendidikan umum dengan pendidikan pesantren. Natsir menjabat sebagai direktur PENDIS selama 10 tahun semenjak 1932. Lembaga pendidikan ini berkembang di daerah Jawa Barat dan Jakarta.

Selanjutnya tahun 1938, Natsir mulai aktif di bidang politik dengan melibatkan diri sebagai anggota Persatuan Islam Indonesia (PII) cabang Bandung. Pada tahun 1940-1942, Natsir menjabat Ketua PII, dan pada tahun 1942-1945, ia merangkap jabatan sebagai Kepala Biro Pendidikan Kotamadya Bandung, serta sebagai Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta yang merupakan Perguruan Tinggi Islam pertama yang berdiri pasca kemerdekaan.

Karier politik Natsir pasca kemerdekaan diawali sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), berlangsung dari tahun 1945-1946. Kemudian menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia pada kabinet Syahrir ke-1 dan ke-2 serta kabinet Hatta ke-1. Dari tahun 1949 sampai 1958 ia diangkat menjadi Ketua Masyumi, hingga partai ini dibubarkan. Puncak karier Natsir dalam bidang politik terjadi ketika Natsir diangkat sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia (1950-1951). Dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 1995 Natsir terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan dari tahun 1956-1957, ia menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia.

Tampilnya Natsir di puncak pemerintahan sebagaimana tersebut di atas, tidak terlepas dari langkah strategisnya dalam mengemukakan mosi pada sidang parlemen Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 3 April 1950 yang lebih dikenal dengan Mosi Integral Natsir‖.

Dalam keadaan yang demikian itu, Natsir meneruskan perjuangannya dengan menggunakan media dakwah melaui Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang didirikannya bersama mantan aktivis-aktivis Masyumi lainnya. Walaupun format perjuangannya sudah mengalami perubahan, tapi tidak demikian dengan sikap kritis dan korektifnya terhadap pemerintah. Keadaan inilah yang menyebabkan hubungannya dengan pemerintah dalam keadaan tidak mesra, bahkan penuh ketegangan.

Keberaniannya ikut menandatangani Petisi 50 pada tanggal 5 Mei 1980, menyebabkan ia dicekal ke luar negeri tanpa proses hukum yang jelas, dalam keadaan ini berjalan hingga ia wafat.

Kepiawaian, kredibilitas dan kemampuan Natsir dalam bidang kenegaraan, keislaman dan perjuangan tidak hanya diakui oleh kalangan nasional, bahkan juga internasional. Pada tahun 1956 misalnya, Syekh Maulana Abul A‘la al-Maududi (Lahore) dan Abu Hasan al-Nadwi (Lucnow), Natsir memimpin sidang Muktamar Alam Islamy di Damaskus. Selain itu ia juga pernah menjadi Wakil Presiden Kongres Islam se-Dunia yang berpusat di Pakistan dan Muktamar Alam Islamy yang berpusat di Arab Saudi, dan pada tahun yang sama ia juga berkesempatan menunaikan ibadah haji.

Dalam dunia akademik, Natsir memeroleh gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Islam Libanon (1967) di bidang sastra. Dan pada tahun 1991, ia menerima gelar yang sama dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Saint Teknologi Malaysia dalam bidang pemikiran Islam.

Akhirnya Natsir pulang ke rahmatullah pada tanggal 6 Februari 1993 M. bertepatan dengan 14 Sya‘ban 1413 Hijriah di Rumah Sakit Cipto Mangkunkusumo Jakarta dalam usia 85 tahun. Berita wafatnya ini menjadi berita utama dalam berbagai media cetak dan elektronik. Berbagai ungkapan belasungkawa muncul baik dari kawan seperjuangan maupun lawan politiknya. Mantan Perdana Menteri Jepang yang diwakili Nakajima mengungkapkan berita wafatnya Natsir lebih dahsyat dari jatuhnya bom di Hirosima (Umar, 2011: 216-2017).

B. Karya Tulis M.Natsir

Sekalipun Natsir tercatat sebagai tokoh negarawan yang super aktif, tapi ia termasuk pula tokoh intelektual Muslim yang produktif. Menurut Yusuf Abdullah Puar, Natsir telah menulis lebih dari 52 judul buku yang ditulis sejak tahun 1930. Di antara karya tulisnya itu adalah Islam Sebagai Ideologi, Agama dan Negara, Falsafah Perjuangan Islam, Kapita Selekta Ilmu, Islam Sebagai Dasar Negara, Some Observation, Concerning the Rule of Islam Indonesia National and International Affair, dan Fiqhud Da‟wah (Anwar, 2017: 90).

Dari beberapa buku yang disebutkan di atas, terlihat jelas bahwa Natsir di samping memiliki perhatian terhadap perlunya pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, juga meningkatkan dan mengembangkan pendidikan umat. Hubungan antara pelaksanaan ajaran Islam memainkan peranan yang signifikan dalam memberdayakan umat. Melalui pendidikan ini, Natsir ingin agar umat Islam sesuai ketentuan Al-Quran dan Al-Hadis, yaitu umat yang memiliki ketangguhan dalam penguasaan ilmu agama dan ilmu umum secara sekaligus ((Anwar, 2017: 90).

C. Konsep Pendidikan M.Natsir

Sehubungan dengan pendidikan, Natsir berbicara beberapa komponen, yaitu: peran dan fungsi pendidikan, tujuan pendidikan, dasar pendidikan, idiologi dan pendekatan pendidikan serta fungsi bahasa asing.

1.      Peran dan Fungsi Pendidikan

Dalam hubungan ini paling kurang terdapat enam rumusan yang dimajukan Natsir. Pertama, pendidikan harus berperan sebagai sarana untuk memimpin dan membimbing agar manusia yang dikenakan sasaran pendidikan tersebut dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani secara sempurna. Kedua, pendidikan harus diarahkan untuk menjadikan anak didik memiliki sifat-sifat kemanusiaan dengan mencapai akhlak al-karimah yang sempurna. Ketiga, pendidikan harus berperan sebagai sarana untuk menghasilkan manusia yang jujur dan benar (bukan pribadi yang hipokrit). Keempat, pendidikan agar berperan membawa manusia agar dapat mencapai tujuan hidupnya, yaitu menjadi hamba Allah Swt. Kelima, pendidikan harus dapat menjadikan manusia yang dalam segala perilaku atau interaksi vertikal maupun horizontalnya selalu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Keenam, pendidikan harus benar-benar mendorong sifatsifat kesempurnaannya dan bukan sebaliknya, yaitu menghilangkan dan menyesatkan sifat-sifat kemanusiaan.

Sehubungan dengan peran yang harus dimainkan oleh pendidikan tersebut, Natsir mencoba mengkritik kebijakan pemerintah Belanda dalam bidang pendidikan. Dalam hubungan ini Natsir berkata sebagai berikut:

Salah satu usaha pemerintah kolonial Belanda yang juga merupakan tantangan adalah apa yang dikenal sebagai asimilasi atau Indonesiasi, yaitu upaya untuk mengajak golongan elite Indonesia agar merasa dan menganggap sebagai orang Belanda yang sama-sama berkiblat ke Den Haag,  sehingga terlepas dari pandangan hidupnya sebagai bangsa Indonesia yang memiliki budaya asli Indonesia. Murid-murid sekolah yang otaknya brilian dititipkan kepada keluarga Belanda atau keluarga yang beragama Kristen. Salah satu korbannya adalah  Amir Syarifuddin yang lahir sebagai anak Islam, namun kemudian menjadi  seorang  Kristen  Protestan (Natsir, M. 1987: 4).

Berkenaan dengan yang demikian itu, bagi Natsir pendidikan harus dapat melahirkan lulusan yang dapat melepaskan diri dari sifat ketergantungan kepada orang lain serta menumbuhkan sifat berinisiatif untuk mandiri.

Selanjutnya Natsir menekankan agar pendidikan dapat berfungsi membebaskan, yaitu ikhtiar sadar dan berkesinambungan untuk memanusiakan manusia guna mencapai aktualisasi diri. Dengan demikian, pendidikan dapat membebaskan manusia dari ketergantungannya pada orang lain (Anwar, 2017: 91).

Dari uraian tersebut di atas terlihat jelas bahwa pandangan pendidikan Natsir terhadap peran pendidikan tampak dipengaruhi oleh situasi penjajahan Belanda yang cenderung memperbudak  rakyat jajahannya. Natsir ingin agar pendidikan dapat membebaskan manusia dari belenggu, tekanan, dan intimidasi. Pendidikan harus membuat manusia merdeka, bebas dari perbudakan, dan memiliki rasa percaya diri.

2.      Tujuan Pendidikan

Menurut Natsir, tujuan pendidikan pada hakikatnya akan merealisasikan idealitas Islam yang ada pada intinya adalah menghasilkan manusia yang berperilaku islami, yaitu manusia yang  beriman dan bertakwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.  Ketaatan kepada Allah yang mutlak itu mengandung makna menyerahkan diri secara total kepada Allah, menjadikan manusia menghambakan diri hanya kepada-Nya.

Selanjutnya Natsir mengatakan bahwa apabila manusia telah menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, berarti ia telah berada dalam dimensi kehidupan yang menyejahterakan di dunia dan membahagiakan di akhirat. Menurut Natsir, dalam menetapkan tujuan pendidikan Islam, hendaknya mempertimbangkan posisi manusia sebagai ciptaan Allah yang terbaik dan sebagai khalifah di muka bumi.

Dengan mengacu kepada surat Adz-Dariyat ayat 56 yang artinya Dan Aku (Allah) tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Aku, Natsir sampai pada rumusan tujuan pendidikan yang pada hakikatnya sama dengan tujuan hidup manusia, yaitu menghambakan diri kepada Allah. Tujuan pendidikan yang demikian itu menurutnya wajib diberikan kepada murid yang sedang menghadapi kehidupan.

Perkataan menyembah Aku sebagaimana terdapat dalam potongan surat Adz-Dzariyat tersebut di atas menurut M. Natsir memiliki arti yang sangat dalam dan luas sekali, lebih luas dan lebih dalam dari perkataan-perkataan itu yang biasa kita dengar dan pakai setiap hari. Menyembah Allah‖ itu melengkapi semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah Ilahi yang membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan di akhirat, serta menjauhkan diri dari segala larangan yang menghalangi tercapainya kemenangan di dunia dan di akhirat itu (Natsir, 1954: 82).

Selanjutnya dengan mengacu kepada surat Fathir ayat 28, yang artinya: Bahwa yang sebenar-benarnya takut kepada Allah itu, ialah hamba-Nya yang mempunyai ilmu, Natsir mencoba menghubungkan penghambaan kepada Allah dengan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan melalui pendidikan. Menurutnya, suatu syarat terpenting untuk menjadi hamba Allah yang sebenarnya adalah memiliki ilmu pengetahuan. Menurutnya, seorang hamba Allah, bukanlah seorang yang mengasingkan diri dari kenikmatan dunia dan pergi bertapa ke hutan belukar atau hanya sekadar mengerjakan shalat dan puasa saja.  Menghambakan diri kepada Allah termasuk di dalamnya mengupayakan terciptanya kemakmuran dengan menggali kekayaan alam sebagai sumber rezeki yang halal.

Menurut Natsir, seorang hamba Allah adalah orang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah, sebagai pemimpin manusia. Mereka menjalankan perintah Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia, menunaikan ibadah terhadap Tuhannya sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 177 yang artinya:

Bukanlah kebaikan itu dengan  menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, akan tetapi kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikatmalaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. 

Berdasarkan ayat tersebut di atas, seorang hamba Allah adalah mereka yang memiliki enam sifat sebagai berikut. Pertama, memiliki komitmen iman dan tauhid yang kokoh kepada Allah serta terpantul dalam perilakunya sehari-hari. Kedua, memiliki kepedulian dan kepekaan sosial dengan cara memberikan bantuan dan santunan serta mengatasi kesulitan dan penderitaan orang lain. Ketiga, senantiasa melakukan hubungan vertikal dengan Tuhan dengan menjalankan ibadah shalat secara kontinyu. Keempat, senantiasa melakukan hubungan horizontal dengan sesama manusia dengan cara memberikan sebagian harta yang dimiliki kepada orang lain. Kelima, memiliki akhlak yang mulia yang ditandai dengan kepatuhan dalam menunaikan janji yang telah diucapkannya. Keenam, memiliki jiwa yang tabah dalam menghadapi situasi dan kondisi yang kurang menyenangkan, bahkan menakutkan (Nata, 2005: 84).

Berdasarkan pada petunjuk ayat di atas, Natsir lebih lanjut menegaskan bahwa itulah sekurang-kurangnya sifat dan amalan seseorang yang mempunyai predikat sebagai hamba Allah. Menghambakan diri yang semacam ini bukan hanya bermanfaat bagi yang mengerjakannya melainkan bagi orang lain.

Pemikiran di atas menunjukkan bahwa Natsir menginginkan lahirnya manusia-manusia yang produktif, menghasilkan karya-karya yang nyata bagi kemajuan dirinya, bangsa dan negaranya. Namun  dalam waktu yang bersamaan, apa yang dilakukan oleh manusia tersebut harus dilihat sebagai bagian dari penghambaan diri kepada Allah Swt. Ia menginginkan bahwa penghambaan yang dilakukan manusia bukanlah penghambaan dalam arti yang hanya terbatas pada menjalankan ibadah khas saja. Ibadah dan penghambaan tersebut harus dilihat dalam kerangka perjuangan hidup untuk kemakmuran umat manusia. Selanjutnya agar penghambaan dalam arti yang luas itu dapat dilakukan secara profesional, maka diperlukan adanya pendidikan yang berkualitas tinggi, yaitu pendidikan yang dapat memberikan bekal ilmu pengetahuan baik agama maupun umum yang luas, penguasaan terhadap teknologi modern, keterampilan, pengalaman, hubungan yang luas serta akhlak yang mulia. Melalui rumusan tujuan pendidikannya itu, Natsir sesungguhnya telah melakukan koreksi dan proses terhadap tujuan pendidikan Islam yang selama ini dilaksanakan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional, yang menekankan hanya pada bidang ilmu agama dan akhlak saja. Tujuan tersebut harus dilengkapi dengan memberikan ilmu pengetahuan umum, teknologi, keterampilan, pengalaman, dan lain sebagainya.

3. Dasar Pendidikan

Dalam tulisannya yang berjudul Tauhid Sebagai Dasar Didikan, Natsir menceritakan tentang pentingnya  tauhid dengan mengambil contoh pada seorang profesor fisika bernama Paul Ehrenfest yang mati bunuh diri. Ia berasal dari keluarga baik-baik dan telah memeroleh pendidikan Barat tingkat tinggi. Telah banyak penemuan-penemuan rahasia alam yang dihasilkannya dan telah menjadi bahan rujukan dalam dunia ilmu pengetahuan. Pekerjaan sehari-harinya tak pernah tercela. Demikian pula pergaulannya selalu dengan orang yang baik-baik, bahkan ia sendiri termasuk orang yang ramah. Masalahnya adalah mengapa ia mati bunuh diri? Melalui surat yang ditinggalkannya menjelang mati, dapat diketahui bahwa ia  tidak  memilliki  kepercayaan kepada Tuhan. Ia mengatakan bahwa agama itu perlu, maka barangsiapa yang tak memiliki agama, ia mungkin binasa karena itu. Kata-kata tersebut ia tulis dalam surat dan ditutup dengan doa yang sangat mengharukan hati sahabatnya. Doa tersebut berbunyi: Mudah-mudahan Tuhan akan menolong kamu, yang amat aku lukai sekarang ini.

Dari suratnya itu dapat diketahui bahwa perbuatan yang menewaskan jiwa itu bukan suatu pekerjaan yang terburu nafsu, melainkan yang telah dipikirkannya sejak lama, yaitu berasal dari suatu pergolakan rohani sejak lama, yaitu berasal dari suatu pergolakan rohani yang  telah  mendalam, tapi semuanya itu tak dapat diselesaikan hanya dengan ilmu yang ada padanya. Sia-sialah apa yang selama ini ia jalani. Rohaninya dahaga kepada suatu pegangan yang teguh, suatu yang absolut dan mutlak benar. Tempat menambatkan sauh (jangkar kapal)  bila  ditimpa gelombang kehidupan, tempat bernaung yang teduh bila datang panca-roba rohani. Semua ini tak mungkin dapat dicapai dengan puluhan teori, ratusan aksioma dan hipotesis. Pegangan yang teguh itu hanya dapat dicapai dengan iman kepada Allah.

Pentingnya tauhid sebagai dasar pendidikan ini menurut Natsir berhubungan erat dengan akhlak yang mulia. Tauhid dapat terlihat manifestasinya pada kepribadian yang mulia seperti yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan. Yaitu pribadi yang memiliki keikhlasan, kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas atau kewajiban yang diyakini kebenarannya (Nata, 2005: 85-86).

Berkaitan dengan perlunya tauhid sebagai dasar pendidikan, Natsir bersama 53 orang pimpinan dan tokoh masyarakat mengajukan tuntutan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) agar meninjau kembali buku Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Menurut Natsir dan kawan-kawannya itu, sebagian isi buku tersebut terdapat bagian yang mengarah kepada pendangkalan akidah, menyamaratakan semua agama dan mempertentangkan Pancasila dan agama (Umar, 2009: 224).

3.      Ideologi dan Pendekatan dalam Pendidikan

Salah satu masalah yang muncul dalam wacana perdebatan di kalangan ilmuwan pada masa Natsir antara lain soal dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Masalahnya adalah bagaimana caranya mengembalikan masalah pendidikan ini kepada pokok pangkal semua?

Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas, Natsir mengajukan konsep pendidikan integral, harmonis dan universal. Dalam pidato yang ia sampaikan pada rapat Persatuan Islam (Persis) di Bogor, 17 Juni 1934 dengan judul Ideologi Didikan Islam‖, serta dalam tulisannya di Pedoman Masyarakat pada tahun 1937 dengan judul Tauhid sebagai Dasar Pendidikan‖, dengan gamblang menggariskan ideologi pendidikan umat Islam dengan bertitik tolak dan berorientasi kepada tauhid sebagaimana tersimpul dalam kalimat syahadat.

Melalui dasar tauhid tersebut akan tercipta integrasi pendidikan agama dan umum. Natsir selalu menekankan bahwa  sesungguhnya tidak ada dikotomi antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Menurut Natsir, bagi orang Islam modernis tidak ada pertentangan antara dunia dan akhirat. Semua jenis pendidikan menurutnya bertumpu pada dasar maupun tujuan tertentu. Dasar dan tujuan tersebut adalah ajaran tauhid.

Konsepsi pendidikan yang integral, universal dan harmonis menurut Natsir, tidak mengenal dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum, melainkan antara keduanya memiliki keterpaduan dan keseimbangan. Semua itu dasarnya agama, apa pun bidang dan disiplin ilmu yang ditekuninya.

Dalam salah satu tulisannya, Natsir membagi keseimbangan antara pendidikan Islam yang meliputi tiga hal. Pertama, keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Kedua, keseimbangan antara badan dan roh dan ketiga, keseimbangan antara individu dan masyarakat (Umar, 2009: 225-226).

Konsep pendidikan yang integral, harmonis dan universal tersebut oleh Natsir dihubungkan dengan misi ajaran Islam sebagai agama yang bersifat universal. Menurut Natsir, bahwa Islam bukan sekadar agama dalam pengertian yang sempit yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan saja, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan manusia.

Pandangan Natsir tentang Islam yang integral antara dunia dan akhirat tersebut selanjutnya memengaruhi pandangannya tentang integrasi pendidikan agama dan pendidikan umum yang selanjutnya mengarah pada penghapusan dikotomi antara keduanya. Hal yang demikian sejalan dengan pandangan para tokoh pembaharu Islam seperti Muhammad Abduh.

4.      Fungsi Bahasa Asing

Menurut Natsir, bahasa Asing amat besar perananannya dalam mendukung kemajuan dan kecerdasan bangsa. Dalam kaitan ini, Natsir selalu ingat pada ucapan Dr. G. Drewes yang mengatakan bahwa hanya dengan mengetahui salah satu bahasa Eropa, yang terutama sekali bahasa Belanda, masyarakat bumi putra dapat mencapai kemajuan dan kemerdekaan pikiran.

Lebih lanjut Dr. Drewes sebagaimana dikutip oleh Bukhari Umar (2019: 226) mengatakan bahwa dasar bagi kecerdasan salah satu bangsa adalah bahasa ibunya sendiri. Bahasa erat kaitannya dengan corak berpikir suatu bangsa. Bahasa dari salah satu bangsa adalah tulang punggung dari kebudayaannya. Mempertahankan bahasa sendiri berarti mempertahankan sifat-sifat dan kebudayaannya  sendiri. Kultur  suatu  bangsa berdiri atau jatuh bergantung pada bahasa dari bangsa itu sendiri. Sejalan dengan itu, maka bahasa merupakan salah satu faktor terpenting yang mendorong mutu dan kecerdasan suatu bangsa. Bahasa ibu, bahasa kita sendiri, adalah menjadi syarat bagi tegaknya kebudayaan kita.

Namun demikian, suatu kebudayaan yang hidup tidak hanya berdiri tegak saja, melainkan ia juga perlu tumbuh, bertambah, berubah, bergerak secara dinamis dan inovatif. Untuk itu perlu adanya pertukaran udara, tambahan pupuk, dan air yang menjadi syarat tumbuh dan berkembangnya kebudayaan itu. Tidak ada suatu kebudayaan dapat hidup dengan baik apabila ia dikurung dan diikat dengan tradisi masa lalu. Kebudayaan itu akan hidup, bertambah kuat, tumbuh berkembang dan semakin bermunculan tunastunasnya yang tersembunyi apabila memeroleh kesempatan berhubungan dengan sumber-sumber kebudayaan yang berada di sekitarnya, termasuk dari kebudayaan yang berasal dari luar dengan syarat bersikap selektif, kritis dan sejalan dengan nilainilai islami.

Sehubungan dengan pandangan Natsir terhadap pentingnya bahasa asing, khususnya bahasa Belanda dan bahasa Arab, ia menyarankan agar kepada para siswa diberikan kemampuan berbahasa asing dan dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Perlu adanya upaya membasmi semangat anti Arab atau anti Islam yang diciptakan oleh kolonialis linguistik dan penguasa pribuminya yang taat dan setia.
  2. Status linguistik yang bebas dari bahasa Arab harus diakui, dan bahasa Arab harus diperlakukan tidak lagi sebagai karya teologis.
  3. Negara-negara Islam berbahasa ibunya bukan bahasa Arab, harus menerima bahasa Arab sebagai bahasa kedua setelah bahasa nasional ibunya.
  4. Negara-negara Islam non-Arab harus bekerja sama dengan negara-negara berbahasa Arab untuk mendirikan suatu universitas yang berbahasa Arab dan sepenuhnya diabadikan untuk meliput segenap dimensi pendidikan dan riset di bidang bahasa.
  5. Bahasa Arab harus diwajibkan di Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan maupun Akademi. Kalau tidak demikian, maka universitas atau sekolah tersebut tidak akan memiliki banyak mahasiswa berbahasa Arab.
  6. Pengetahuan bahasa Arab harus diwajibkan kepada semua pelayanan yang melibatkan urusan-urusan Timur Tengah seperti hubungan diplomatik, perdagangan dan bisnis, perbankan, tukar-menukar wisatawan, dan delegasi dengan tujuan agar mereka menganggap  negara-negara  berbahasa Arab sebagai rumah mereka sendiri.
  7. Para mahasiswa yang cakap dan terampil berbahasa Arab harus dikirim ke negara-negara Arab, penataran bahasa dan literatur Arab dengan syarat mereka harus kembali dan mengabdi bagi bahasa Arab di negaranya.
  8. Silabus pengajaran bahasa Arab yang ada sekarang harus ditolak dan diganti dengan yang baru, hidup, kuat, bertenaga, dan indah. Demikian pula gramatika juga harus disusun secara mudah, karena kerumitan dan metodemetodenya yang kaku dan digunakan selama ini telah menciptakan suasana belajar yang menjemukan dan kurang menghasilkan orang-orang yang mampu menggunakan bahasa asing.
  9. Bahasa Arab sekarang harus memeroleh perhatian yang sama dengan bahasa Arab klasik, untuk membaca dan memahami berita-berita yang ada di surat-surat kabar, televisi, dan bahasa resmi pemerintahan yang bergandengan dengan terminologi-terminologi hukum, politik, diplomatik atau pidato-pidato, perjanjianperjanjian dan laporan-laporan rutin resmi yang tidak ada dalam bahasa klasik.
  10. Kecenderungan yang semakin meningkat untuk mengajarkan Islam tanpa mengenal bahasa Arab di Dunia Islam dan non-Arab sangatlah berbahaya. Hal ini hanya akan menyebabkan manusia jauh dari sumber aslinya, kendati saat ini belum ada ilmu atau pendidikan yang diterima keberlakuannya tanpa mengenal langsung sumber aslinya. Harus diingat bahwa yang asli tidak dapat diganti dengan terjemahan-terjemahannya. Akibat kecenderungan ini, para pelajar atau mahasiswa Islam di universitas-universitas Muslim, tidak mengenal bahasa Arab secara baik.
  11. Literatur utama haruslah diterjemahkan dengan akurat ke dalam bahasa-bahasa yang dominan, sehingga minat terhadap bahasa Arab dapat lebih melonjak dan semakin memperkenalkan sumber-sumber asli kepada para mahasiswa. Cendekiawan-cendekiawan yang bekerja di bidang ini harus digalakkan dan dipublikasikan karyakaryanya.
  12. Metode-metode pengajaran bahasa yang ilmiah, linguistik atau fonetik, harus digunakan untuk memacu kecepatan pengajaran bahasa Arab kepada mahasiswa non-Arab, dalam waktu  yang  sesingkat-singkatnya (2005: 1992).

Pemikiran tentang bahasa Arab sebagaimana tersebut di atas, menunjukkan bahwa Natsir memiliki perhatian yang amat besar dan serius tentang pentingnya bahasa untuk dikuasai oleh umat Islam. Bagi kaum Muslimin, bahasa Arab adalagh bahasa Al-Quran, satu bahasa yang tak mungkin dapat dicarikan penggantinya, bahasa kunci dari perbendaharaan ilmu dan memahami ajaran Islam. Kerugian dan kerusakan akan menimpa kita, apabila bahasa ini diabaikan dan dikesampingkan.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Berikut Hal Yang Tidak Boleh Disebar di Internet

Limapuluh Kota,BeritaSumbar.com, — Warga Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, diminta untuk waspada mengumbar data pribadi di internet. Berikut sederet hal yang tidak boleh disebar di internet menurut pakar yang dihadirkan Kemenkominfo via webinar.
- Advertisement -

Kemenkominfo RI Sentuh Warga Solsel melalui Literasi Digital dan Literasi Dakwah

Solok Selatan,BeritaSumbar.com, — Direktri Radio Citra Solok, Erna Yuliarti menjabarkan sifat yang harus diperhatikan dalam berinternet. Katanya, informasi yang akan diunggah akan sulit bisa dihapus.

Ikut Prihatin Atas Kebakaran Pasar Bawah, Partai Gerindra Bantu 200 Nasi Bungkus

Bukittinggi, beritasumbar.com -- Kebakaran menghanguskan ratusan los tempat menjual berbagai macam kebutuhan harian di Pasar Bawah Kota Bukittinggi, Sabtu (11/9/2021) dini hari, telah menimbulkan...
- Advertisement -

20 Pasang Catin Ikuti Bimwin di Aula KUA Padang Panjang Timur

Padang Panjang, BeritaSumbar.com,_Kakankemenag Kota Padang Panjang Buya H. Alizar Datuak Sindo Nan Tongga memberikan materi Pembinaan dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan Bagi Calon Pengantin (Bimwin Catin) untuk mewujudkan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah di Aula KUA Kecamatan Padang Panjang Timur, Selasa (14/09/2021)

Pemko Bukittinggi Goro Bersama Bersihkan Gorong-Gorong Pasar Bawah

Bukittinggi, beritasumbar.com - Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi menggelar aksi gotong-royong (goro) bersama masyarakat pedagang Pasar Bawah membersihkan gorong-gorong disekitar pasar tersebut, Kamis (16/9/2021). "Seluruh Kepala...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Jabatan Itu Amanah, Jangan Kau Minta Apalagi Beli

Rasulullah Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis melarang umatnya untuk meminta jabatan. Rasulullah juga enggan memberikan jabatan kepada orang yang meminta jabatan dan rakus.

Khutbah Arafah Di Masjid Namirah

Khutbah Arafah dari Masjid Namirah tanggal 9 Dzulhijjah 1442 Hijriyyah/19 Juli 2021 Masehi disampaikan oleh Fadhilatu Syaikh Dr. Bandar bin Abdul Aziz Balilah Hafizhahullah (semoga Allah menjaganya).

Guna Jauhkan Generasi Muda dari Kecanduan Game Online, Rumah Tahfidz Ahlul Quran Batubara Buka Cabang Baru

Untuk menjauhkan kalangan muda dari kecanduan game online dengan menjadikan mereka generasi penghafal Al-Qur’an, Yayasan Rumah Tahfidz Ahlul Qur'an membuka Rumah Tahfidz cabang baru khusus untuk santri ikhwan (putra) di Jalan Pendidikan, Belakang Kantor Balai Desa Mesjid Lama, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.

Padang Panjang Siap Laksanakan Belajar Tatap Muka

Padang Panjang, beritasumbar.com- Wakil Walikota Padang Panjang  Asrul menyatakan daerah tersebut siap menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang akan dimulai Senin, 11 Januari. "Kami meninjau...

Militer Ottoman Mulai Memakai Meriam pada 1420-an

Perkembangan militer yang paling penting selama periode bangkitnya Kerajaan Ottoman adalah pengenalan meriam dan senjata api lainnya. Senjata-senjata ini digunakan di Eropa Barat selama abad ke-14...

Bacaan Niat Puasa Senin Kamis

Puasa Senin Kamis dianjurkan oleh Rasulullah, bagi umat muslim baik laki-laki maupun perempuan.Sesuai dengan namanya, puasa sunnah ini dikerjakan setiap hari Senin dan Kamis. Puasa...

Doa Sebelum Tidur dan Filosofi Maknanya

Tidur adalah salah satu aktivitas semua orang. Tidur selain merupakan bentuk istirahat seseorang setelah beraktivitas, bisa bernilai ibadah, jika memang diniatkan untuk beribadah. Umat Islam...

Niat Mandi Sunah Sebelum Sholat Jumat

Hari Jumat adalah hari yang penuh dengan keberkahan. Di hari itu umat Islam dianjurkan banyak membaca zikir, doa, dan membaca surah-surah pilihan, seperti surah...

Buya Hamka, Tokoh Pendidikan Islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup Hamka Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah atau Hamka,  lahir  di Sungai Batang,...

Daud Rasyidi, Tokoh Pendidikan Islam

DAUD RASYISIDI Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup Daud Rasyidi Daud Rasyidi dilahirkan dalam kalangan keluarga sederhana tahun 1890 H M/1279...
- Advertisement -