30 C
Padang
Sabtu, Januari 16, 2021
Beritasumbar.com

Keuntungan Berbisnis Kotoran
K

Kategori -

Mungkin agak tekesan jorok istilah keuntungan berbisnis kotoran ini kita dengar. Tapi hal ini sangat membantu meningkatkan ekonomi para petani. Kotoran disini yang dimaksud adalah kotoran binatang ternak seperti sapi, kambing, kerbau atau lainnya yang banyak di pelihara masyarakat.

Tapi tidak bagi para petani terutama tanaman palawija. Mereka sangat membutuhan kotoran ternak yang sudah diolah menjadi pupuk kompos. Kompos sangat bagus dalam meningkatkan hasil pertanian.

Seperti di Alahan Panjang yang merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah di Sumatera Barat. Hampir seluruh masyarakatnya melakukan budidaya tanaman yang satu ini. Selain melakukan penanaman bawang merah, masyarakat Alahan Panjang juga melakukan budidaya tanaman hortikultura lainnya seperti kubis, brokoli, kentang, dan tanaman lainnya.

Salah satu komponen yang perlu ada dalam kegiatan budidaya adalah pupuk kompos. Hampir seluruh petani yang melakukan kegiatan budidaya pasti memerlukan pupuk kompos untuk menunjang tanaman mereka tumbuh lebih baik. Banyaknya masyarakat yang bertani tersebut menyebabkan banyaknya permintaan akan pupuk kompos di Alahan Panjang membuat Pak Triana memilih untuk melakukan usaha pengolahan kotoran hewaan ternak menjadi pupuk kompos. Bapak Triana merupakan pelaku usaha pengolahan kotoran hewan menjadi pupuk kompos yang berada di Jorong Galagah, Alahan Panjang.

Meski hampir seluruh masyarakat Alahan Panjang yang bekerja sebagai petani membutuhkan pupuk kompos, usaha pupuk kompos ini masih saja tidak dilirik oleh masyarakat sekitar. Bahan baku yang murah dan mudah didapat juga tak menjadikan usaha ini menjadi pilihan oleh masyarakat untuk dijadikan usaha. Mengapa masyarakat tidak ingin melakukan usaha ini ? Padahal menurut Bapak Triana usaha ini sangat menguntungkan. Keuntungan usaha ini bisa melebih usaha dari budidaya tanaman bawang merah yang dilakukan oleh masyarakat sekitar.

. Limbah Kotoran Ternak

Kotoran ternak merupakan limbah hasil buangan yang dihasilkan oleh hewan-hewan ternak. Kotoran ternak yang biasa juga disebut dengan limbah kotoran ternak ini dapat berupa padatan maupun cair. Padatan dapat disebut dengan feses sedangkan yang berbetuk cairan dapat berupa urine. Limbah kotoran ternak ini sering kali disepelekan oleh masyarakat, padahal jika diolah lebih lanjut dapat menghasilkan pundi-pundi yang sangat menguntungkan, baik itu bagi pada pelaku usaha ini maupun bagi masyarakat sekitar.

Kebanyakan peternak yang ditemui, tidak melakukan pengolahan terhadap kotoran atau limbah yang dihasilkan. Peternak lebih memilih menjual secara langsung kotoran tersebut pada para petani. Padahal, peternak hanya mendapatkan upah dari memasukkan kotoran kedalam karung saja. Kotoran-kotoran ini akan menjadi lebih berharga jika dilakukan pengolahan menjadi pupuk kompos.

Perlu pengolahan lebih lanjut terhadap limbah-limbah tersebut agar tidak menjadi masalah lingkungan. Limbah kotoran yang bisa dijadikan bahan dalam pembuatan pupuk kompos dapat berupa kotoran sapi, ayam maupun kambing. Ketiga kotoran tersebut dapat dijadikan pupuk kompos dikarenakan memiliki kandungan yang sangat baik bagi tanah.

PUPUK KOMPOS

Kompos merupakan pupuk yang dihasilkan akibat penguraian bahan-bahan organik menjadi bentuk yag lebih sederhana dengan adanya bantuan dari mikrooganisme baik itu aerob mupun anaerob yang didukung oleh lingkungan yang sesuai. Pembuatan pupuk kompos ini dilengkapi oleh beberapa bahan tambahan selain bahan organik yaitu organisme pengurai, baik itu mikroorganisme maupun makroorganisme serta juga ditambahkan aktivator kedalam pembuatan kompos.

Pembuatan pupuk kompos terbilang mudah, pembuatannya hanya dimulai dengan pengadaan bahan baku utama yaitu pupuk kandang. Pengadaan pupuk kandang ini didapatkan dari daerah penghasil kotoran seperti daerah Payakumbuh, Padang, maupun Solok. Pengadaan dari daerah-daerah tersebut dilakukan dikarenakan jumlah kotoran hewan yang tidak memadai jika hanya dilakukan pengadaaan pada daerah Alahan Panjang saja.

Setelah didapatkan kotoran hewan ternak, maka kotoran tersebut akan dilakukan pendiaman selama 1 minggu. Pendiaman kotoran hewan ini bertujuan untuk menghilangkan gas metana yang ada pada kotoran tersebut, serta untuk menurunkan bakteri merugikan pada kotoran hewan tersebut.

Kegiatan selanjutnya adalah mencampurkan seluruh kotoran hewan menggunakan mesin penggiling. Pencampuran seluruh bahan pembuatan kompos dilakukan dengan perbandingan 60% untuk kotoran sapi, 30% untuk kotoran ayam, 2,5% untuk kotoran kambing dan 7,5% untuk bahan tambahan dari pupuk kompos. Bahan tambahan ini terdiri dari EM 4 yang merupakan bahan dekomposer, kapur serta thitonia. Setelah dilakukan pencampuran akan didapatkan tekstur pupuk yang seperti tanah, serta didapatkan pupuk kompos yang tidak beraroma bau.

Pengemasan merupakan tahap berikutnya setelah seluruh bahan tercampurkan. Pengemasan pupuk kompos dilakukan dengan cara memasukkan pupuk kompos kedalam karung goni. Dalam setiap karung goni akan memiliki berat sebanyak 33 kg. Karung goni tersebut nantinya akan dijait menggunakan mesin jahit sehingga pada saat proses pemindahan pupuk tersebut tidak terbuang.

Kompos memiliki beberapa keuntungan jika digunakan dalam hal budidaya diantaranya, mampu meningkatkan daya ikat air pada tanah, meingkatkan daya ikat tanah terhadap unsur hara, memperbaiki struktur tanah sehinngga lebih baik lagi, menjaga tanah agar tidak berderai atau seperti pasir, mengandung unsur hara yang lengkap meski diaplikasikan pada tanah dalam jumlah yang sedikit, menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan, memberikan makanan pada mikroorganisme yang baik untuk tanah dan tanaman.

Kompos merupakan semua bahan organik yang telah mengalami degradasi/peguraian/pengomposan sehingga berubah bentuk dan sudah tidak dikenali bentuk aslinya, berwarna hitam, dan tidak berbau (Indriani, 2011).

Kompos terbuat dari bahan organik, namun penggunaan bahan organik tersebut tidak dapat langsung digunakan dalam pembuatan kompos. Pengguaan bahan organik yang tidak dapat langsung digunakan dikarenakan adanya perbedaan perbandingan C/N antara tanah dengan bahan organik. C/N yang terkandung dalam bahan organik relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan C/N pada tanah. Nilai C/N pada tanah berkisar 10-12.

Prinsip pengomposan adalah menurunkan C/N ratio bahan organik hingga sama dengan C/N tanah (< 20). Semakin tingginya C/N bahan, proses pengomposan akan semakin lama karena C/N harus diturunkan. Kegiatan pengomposan ini juga terjadi penurunan kadar karbohidrat dan meningkatkan senyawa N yang larut. Sehingga akan didapatkan C/N semakin rendah dan relatif stabil mendekati C/N tanah (Indriani, 2011).

Melihat dari kandungan yang didapat dari setiap kotoran tersebut, sangat baik jika dijadikan pupuk kompos. Pupuk kompos yang diproduksi oleh Bapak  Triana ini dengan mencampurkan ketiga buah jenis kotoran tersebut. Pencampuran ini memiliki tujuan agar memperkaya kandungan yang dimiliki oleh pupuk kompos yang diproduksi. Selalu habisnya pupuk yang diproduksi menjadi bukti bahwa konsumen puas terhadap pupuk yang diproduksi, ini juga menjadi indikator bahwa pencampuran pupuk tersebut lebih memperkaya kandungan pupuk kompos.

BERBISNIS KOMPOS

Pembuatan yang mudah dan hanya memerlukan biaya sedikit, menjadikan bisnis ini sangat menjanjikan. Biaya yang perlu dikeluarkan untuk membeli bahan baku berupa kotoran hewannya hanya berkisar Rp. 10.000 per karung untuk kotoran sapi, Rp. 14.000 untuk kotoran kambing dan Rp. 17.000 untuk kotoran ayam per karungnya. Kotoran hewan ini sebenarnya sudah memiliki nilai jual, namun jika dilakukan pengolahan terhadap kotoran ini maka akan semakin meningkat nilai jualnya.

Salah satu cara meningkatkan nilai jual dari kotoran ini adalah dengan cara memberikan nilai tambah pada kotoran ternak tersebut. Meningkatnya nilai tambah pada kotoran hewan maka akan meningkatkan nilai jual pada kotoran tersebut dan akan berimbas pada meningkatnya pedapatkan dari pelaku usaha. Bapak Triana melakukan hal tersebut, beliau melakukan pencampuran terhadap tida jenis kotoran hewan berupa kotoran ayam, sapi dan kambing menjadi satu yang beliau jadikan pupuk kompos. Pencampuran ketiga bahan tersebut menjadi satu merupakan salah satu jalan yang dilakuakn beliau dalam memberikan nilai tambah pada kotoran hewan. Pupuk kompos yang dihasilkan dikemas kedalam karung goni yang setiap karungnya memiliki berat 33 kg. Setiap kali berproduksi akan menghasilkan 2 ton pupuk kompos siap edar.

Rata-rata dalam satu kali proses produksi atau yang biasa disebut satu kali mengaduk oleh Bapak Triana akan menghasilkan 66 karung atau seberat 2 ton pupuk kompos siap edar. Setiap kali pengadukan atau proses produksi akan membutuhkan tiga bahan baku utama dengan persentase 60% untuk kotoran sapi, 30% untuk kotoran ayam, dan 2,5% untuk kotoran kambing.

Maka akan didapatkan kebutuhan untuk kotoran sapi sebanyak 30 karung, kotoran ayam sebanyak 25 karung dan 2 karung untuk kotoran kambing, sehingga kebutuhan kotoran ternak sebanyak 52 karung. Jadi, bisa disimpulkan bahwa setiap 1 karung kotoran ternak akan menghasilkan 1,2 karung pupuk kompos siap edar. Melihat hal tersebut terbukti bahwa dengan melakukan tindakan pemberian nilai tambah pada kotoran ternak akan memberikan jumlah produksi yang lebih.

Pembuatan pupuk kompos ini, Bapak Triana hanya mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp. 130,682 per karungnya. Biaya tambahan ini terdiri dari bahan-bahan pendukung yang digunakan dalam pembuatan pupuk kompos. sedangkan untuk harga bahan baku yang berupa kotoran ayam, sapi dan kambing hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp. 13.667 dimana biaya tersebut merupakan rata-rata biaya yang dikeluarkan Bapak Triana  per karungnya.

Penambahan bahan-bahan tersebut menjadi satu maka akan menghasilkan nilai jual dari pupuk kompos tersebut sebesar Rp. 26.728,63 per karung pupuk kompos yang dihasilkan. Jika diberikan persentase terhadap seberapa besar pengolahan kotoran hewan ini menjadi pupuk kompos, maka akan persentasenya sebesar 65,95%. Persentase ini menunjukkan cukup tingginya penambahan nilai terhadap pengolahan kotoran hewan dan ini baik untuk dilakukan.

Dalam pelaksanaan kegiatannya, Bapak Triana memiliki 2 orang tenaga kerja termasuk dirinya sendiri dalam melakukan kegiatan pengolahan kotoran hewan ternak menjadi pupuk kompos. Bapak Triana mengeluarkan upah per harinya sebesar Rp. 75.000 per orangnya. Setiap gaji yang diberikan oleh Bapak Triana akan mennghasilkan imbalan sebesar Rp. 2.631,58. Imbalan ini didapatkan dari keuntungan yang didapatkan dari upah pengolahan kotoran hewan ini. Jika dilihat pada keuntungan yang diddapatkan oleh usaha ini maka akan didapatkan keuntungan sebesar Rp. 24.097,05 per karungnya.

Jika dilakikan dengan per sekali produksinya maka usaha ini akan mendapatkan keuntungan sebesar, Rp. 1.590.402. Keuntungan yang cukup besar untuk sekali produksi, dan Bapak Triana masih menjual produknya dibawah harga pasaran pupuk kompos yaitu sebesar Rp. 35.000 perkarungnya, yang biasanya kompetitor Bapak Triana menjualnya dengan harga sekitar Rp. 50.000 perkarungnya.

Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang didapatkan jika menjual dengan harga pasaran pupuk kompos. Menjual dengan harga dibawah harga pasar saja telah memberikan keuntungan yang cukup besar bagi usaha pengolahan kotoran hewan ternak menjadi pupuk kompos.

Keuntungan usaha yang sangat besar, menyebabkan usaha ini patut untuk dilaksanakan juga bagi banyak masyarakat. Terbatasnya produsen yang melakukan usaha ini juga menjadikan usaha yang di geluti oleh Bapak Triana ini menjadi semakin menguntungkan. Bapak Triana juga mengatakan bahwa sejak awal penyetokan kotoran hewan tersebut tanpa dilakukannya pengolahan lebih lanjut saja sudah mendatangkan keuntungan bagi beliau. Usaha pengolahan kotoran hewan menjadi pupuk kompos ini menjadi semakin baik, dikarenakan usaha ini terletak pada daerah sentra pertanian.

KEUNTUNGAN YANG DIBERIKAN PADA LINGKUNGAN

Pengolahan pada kotoran hewan menjadi pupuk kompos, tidak hanya mendatangkan nilai tambah pada produk serta keuntungan bagi pelaku usaha. Usaha ini juga sangat berdampak baik pada lingkungan sekitar. Mengapa bisa demikian ? jika dilihat lebih lanjut lagi, kotoran-kotoran hewan ini juga memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan jika tidak dilakukan pengolahan pada kotoran tersebut.

Kotoran hewan yang tidak diolah dan berserakan dilingkungan sekitar akan lebih banyak menghasilkan gas karbon yang dapat merusak ozon dibandingkan dengan asap pabrik maupun kendaraan.

Salah dalam melakukan pengolahan pada kotoran hewan juga akan berakibat fatal bagi lingkungan maupun manusia. Pembakaran kotoran hewan merupakan salah satu pengolahan kotoran hewan yang salah. Kotoran sapi, jika dilakukan pembakaran maka akan menghasilkan gas berbahaya, karena kotoran sapi sendiri mengandung gas amonia, karbon dioksida, karbon monoksida, dan gas metana.

Gas metana yang terbakar dapat menghasilkan gas karbon dioksida, sehingga karbon dioksida yang ada pada atmosfer akan meningkat dan menyebabkan efek rumah kaca. Selain itu, efek lainnya juga akan berbahaya bagi manusia jika gas berbahaya tersebut terhirup oleh manusia.

Tidak terolahnya kotoran hewan dengan baik juga akan berdampak pada penurunan kualitas air. Dikutip dari Fix Indonesia.com, pembuangan kotoran hewan secara sembarangan dapat menurunkan kualitas air berdasarkan parameter kandungan fecal coli, total coliform, BOD (Biological Oxygen Demand) dan H2S yang terdapat di dalam air. Limbah tinja berperan dalam meningkatkan kadar fecal coli atau bakteri E coli dalam air, dimana jika digunakan oleh manusia maka akan berakibat timbulnya masalah pada pencernaan manusia.

Melakukan pengolahan pupuk kompos tersebut, dapat menurunkan kadar bakteri E coli yang ada pada tanah. Selain itu, pengolahan tersebut juga akan menurunkan gas metana serta karbon dioksida yang ada pada kotoran hewan tersebut. Jika tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu terhadap kotoran tersebut, juga akan mempengaruhi tanaman. Tanaman akan menjadi layu atau seperti terbakar dikarenakan gas yang belum terurai pada kotoran hewan tersebut.

Pengolahan pupuk kompos yang benar sangat memiliki pengaruh baik bagi lingkungan maupun bagi pelaku usaha. Menjadikan usaha pengolahan pupuk kompos menjadi prioritas usaha akan mendatangkan keuntungan sekaligus menyelamatkan lingkungan sekitar.

Penulis: Mila Quinsy Calista
Mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh
Jurusan: Pengelolaan Agribisnis 

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Bupati Limapuluh Kota Serahkan Bantuan Kepada Korban Kebakaran Di Simalanggang

Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi memberikan bantuan korban kebakaran rumah semi permanen, Selasa(12/1) di Nagari Koto Baru Simalanggang Kecamatan Payakumbuh.
- Advertisement -

Dengan Dana CSR, PT HKI Bantu Perbaikan Jalan Di Lareh Sago Halaban

Upaya keras dan perjuangan masyarakat Lasahan untuk perbaikan infrastruktur jalan utama di Kecamatan Lareh Sago Halaban yang menghubungkan Payakumbuh-Tanah Datar ini akhirnya berbuah manis dan segera terwujud, setelah sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda mengadakan perbahasan final yang bertempat di ruangan Kantor Camat Lareh Sago Halaban pada Rabu (13/01) siang.

Perumnas Kubang Gajah Wakili Kota Payakumbuh Dilomba Kampung Tangguh Tingkat Sumbar

Sebagai salah satu kampung tangguh yang masih aktif sampai sekarang, kampung tangguh Perumnas Kubang Gajah Kelurahan Limbukan ditunjuk sebagai salah satu perwakilan Kota Payakumbuh untuk lomba kampung tangguh tingkat Provinsi Sumatera Barat.
- Advertisement -

LIMAPIA Gelar Diskusi Dan Bedah film Bersama HMI, XTC Dan Institut Petarung

Sabtu (9/1) Malam Minggu lingkaran mahasiswa Piaman (LIMAPIA) mengadakan diskusi dan bedah film bersama Kawan-kawan HMI, XTC, Institut petarung untuk mengembalikan budaya literasi di kalangan pemuda dan mahasiswa agar generasi penerus bangsa (Iron Box).

Waspadai ! Perbudakan Intelektual dibalik Akreditasi Perguruan Tiggi

Perguruan Tinggi / Kampus adalah salah satu wadah pendidikan yang sangat berperan penting untuk kemajuan peradaban bangsa dengan mencetak para intelektual yang berkualitas. Melalui keilmuan yang dimilikinya mereka akan terjun kemasyarakat untuk menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi.
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Waspadai ! Perbudakan Intelektual dibalik Akreditasi Perguruan Tiggi

Perguruan Tinggi / Kampus adalah salah satu wadah pendidikan yang sangat berperan penting untuk kemajuan peradaban bangsa dengan mencetak para intelektual yang berkualitas. Melalui keilmuan yang dimilikinya mereka akan terjun kemasyarakat untuk menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi.

Menkes: Bantu para Tenaga Medis dengan Patuhi Protokol Kesehatan

Upaya keras pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid-19 di sisi hilir tidak akan lengkap bila tanpa dibarengi dengan upaya di sisi hulu atau pencegahan. Maka itu, kesadaran seluruh pihak untuk melakukan upaya proaktif mencegah penyebaran Covid-19 amat diharapkan.

Universitas Bung Hatta Padang Tekan MoU dengan Yayasan Madani

Kamis 17 Desember 2020, bertempat di ruang Rektorat Universitas Bung Hatta Padang telah ditanda tangani kesepakatan atau MOU antara universitas Bung Hatta Padang dengan Yayasan Madani yang mempelopori gerakan Kembalikan Marwah Minangkabau.

Politik Dinasti dan Gerbang Meritokrasi

Bagi banyak individual, tata aturan kekerabatan tidaklah secara teoritis mengesampingkan aturan politik. Menurut definisi morgan terdahulu, kekerabatan megatur keadaan socitas dan yang kedua mengatur civitas. Atau menggunakan terminologi yang sering digunakan sekarang ini yang pertama merujuk pada struktur-struktur respositas dan kedua merujuk pada dikotomi yang jelas.

Simalakama Pandemi: Liburan atau Stay at Home?

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih - Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Corona sudah menjadi beban dunia sejak pertama kalinya China melaporkan adanya penyakit...

Budidaya Sri Rejeki, Pilihan Bisnis Santai Namun Menjanjikan Saat Pandemi

Oleh: Iga Permata Hany & Jelita Putri Adisti Mari mengenal salah satu jenis tumbuhan yang sedang marak dibudidayakan dikalangan ibu-ibu saat ini, siapa lagi kalau...

Indikasi Bunuh Diri Relawan Covid-19 China di Brasil, Ada apa dengan Pengujian Klinis Vaksin Covid-19?

Oleh : Ramadhila Sari - Penulis adalah Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Kasus infeksi Covid-19 meningkat di 80 negara sebagian orang di belahan bumi utara menghabiskan...

Pandemi Covid-19 Dapat Mengancam Penurunan Populasi Hiu?

Oleh: Nada Julista. S - Mahasiswa Biologi FMIPA Unand Selama pandemi Covid-19 ini, tentunya kita dihadapkan dengan pencarian solusi terkait masalah ini dengan berbagai upaya...

Urgensi Vaksin Covid-19

Oleh: Ayu Resti Andrea Suri - Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Baru-baru ini masyarakat telah digencarkan oleh banyaknya vaksin yang beredar untuk mengatasi Covid-19, akan tetapi...

Nauclea Orientalis, Bunga Yang Mirip Virus Corona.

Oleh: Lidia Gusvita Nasra ~ Mahasiswa Biologi, Universitas Andalas, Padang Tak hanya perkembangan kasus virus corona yang dibicarakan saat ini, namun dihebohkan juga dengan hadirnya...
- Advertisement -