28 C
Padang
Minggu, Oktober 24, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Kemenangan Semu Idul Fitri
K

Kategori -
- Advertisement -

Waktu masih kanak-kanak dulu di kampung sangat terasa bahwa hari lebaran adalah hari kemenangan buat anak-anak yang berpuasa walau belum wajib karena belum akil baligh. Ada orang tua yang memberi hadiah khusus kepada anak-anak mereka yang mampu berpuasa sebulan penuh atau yang mampu berpuasa beberapa hari atau bahkan puasa sampai tengah hari. Tidak ada orang tua yang kasihan melihat anaknya menahan lapar karena itu adalah perintah Allah, malah bangga dengan sudah mendidik anak untuk menjalankan ibadah.

Latihan berpuasa sejak dini tersebut tentunya sangat baik untuk menanamkan nilai puasa kepada anak-anak, menahan lapar dan haus serta menahan dari yang dapat membatalkan puasa. Kemampuan menahan diri atau hawa nafsu dari makan dan minum serta ucapan dan perbuatan tidak baik tersebut diharapkan akan menjadi kebiasaan untuk seterusnya.

Sesuai dengan makna Idul Fitri yaitu kembali suci atau sering juga dikatakan sebagai hari kemenangan, karena menang melawan hawa nafsu dan  melawan segala hal yang dapat membatalkan puasa.

“Kemenangan terbaik bukanlah berhasil mengalahkan musuh terbaik tetapi berhasil mengalahkan keinginan terburuk~dm

Hikmah utama dari berpuasa adalah menahan makan dan minum serta semua yang dapat membatalkannya karena ketaatan kepada Allah dan ikut merasakan lapar atau peduli kepada orang yang lapar. Sehingga orang-orang yang puasanya benar-benar dijalankan dengan baik seharusnya bertambah taat dan bertambah dapat mengendalikan atau menahan diri dari perbuatan tidak baik serta makin peduli dengan orang lain.

Namun akhir-akhir ini ada beberapa hal yang terasa janggal di tengah umat islam bangsa ini,  misalnya konsumsi bahan makanan masyarakat justru meningkat berkali-lipat pada saat bulan Ramadhan. Artinya secara umum jumlah atau mungkin juga jenis makanan yang dimakan per umat bertambah banyak walaupun waktu makannya terbatas pada saat berbuka dan makan sahur saja. Begitu juga dengan tindakan kejahatan atau pelanggaran hukum dan aturan. Mengumbar fitnah atau hoax atau ujaran kebencian juga sepertinya tidak berkurang pada bulan Ramadhan ini. Dari pemberitaan atau dari media sosial juga kita baca tentang beberapa orang yang ditangkap karena telah melanggar UU ITE setelah memposting fitnah atau hoax atau ujaran kebencian di akun media sosial mereka. Anehnya mereka yang melanggar UU ITE ini ada yang berprofesi sebagai aparatur sipil Negara atau disingkat ASN, ada yang berpendidikan tinggi yang seharusnya bisa jadi teladan. Begitu juga dengan kejahatan tingkat tinggi yang sering disebut kejahatan kerah putih. Beberapa hari yang lalu ketika sedang berpuasa ada bupati yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan disingkat OTT karena korupsi atau jual beli jabatan, yang berarti sang bupati tidak mampu menahan hawa nafsunya. Itu baru contoh-contoh besar yang terangkat atau viral ditengah masyarakat dan tentunya kejadian-kejadian lain yang tidak sesuai dengan hikmah berpuasa juga cukup banyak.

Dengan demikian bisa dikatakan hikmah menahan atau hikmah ibadah tidak sepenuhnya dipahami dan dijalankan serta dijadikan momentum menahan dan mengendalikan hawa nafsu. Makanya tidak salah jika kita lihat fenomena bertambahnya jumlah jamaah haji dan umroh dari Indonesia tidak berbanding lurus dengan kepatuhan terhadap hukum Allah dan hukum dunia. Seharusnya semakin banyak ibadah seseorang dan semakin banyak jumlah orang yang beribadah maka interaksi ditengah masyarakat semakin mencerminkan masyarakat yang religius. Apalagi dikatakan bahwa “ibadah mencegah perbuatan keji dan mungkar”.

Sehingga tidak salah hasil penelitian atau survey Maarif Institute yang menyimpulkan bahwa kota yang paling islami atau agamais di Indonesia adalah kota Denpasar. Karena nilai islami seperti kejujuran, keteraturan, menghormati orang lain dan sebagainya dominan adanya di kota Denpasar dibandingkan kota lainnya di Indonesia.

Kita tahu bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa terlempar ke Bumi dari surga adalah karena tidak mampu melawan godaan iblis atau tidak mampu mengendalikan nafsu keinginan untuk memakan buah koldi. Artinya besar sekali kerugian yang akan dialami jika tidak mampu mengendalikan hawa nafsu keinginan terhadap sesuatu yang dilarang oleh Sang Pencipta Langit dan Bumi.

Penjelasan tentang Kemenangan semu Idul Fitri ini dapat juga ditonton di akun youtube DM Channel

Semoga tulisan ini dapat menginspirasi pembaca untuk kembali kepada nilai-nilai agama yang sesungguhnya sehingga dapat menjadikan nilai-nilai ibadah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Jakarta, 12 Mei 2021

Dedi Mahardi

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img