23 C
Padang
Sabtu, Januari 22, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Jurnal-Jurnal Lucu para Akademisi
J

Kategori -
- Advertisement -

BeritaSumbar.com,-Artikel terbitan jurnal dikategorikan sebagai karya ilmiah yang paling segar. Tentu saja! Jurnal umumnya memuat hasil penelitian terbaru selain esai yang mengulas fenomena keilmuan terkini. Namun belakangan ini jurnal, khusus pada penerbitannya, menjadi momok di kalangan akademisi sendiri. Kenapa? Hal ini karena ada kelas-kelas sosial dari junal itu sendiri dan kelas ini menyangkut kepada persyaratan-persyaratan tertentu, seperti naik pangkat dan atau menduduki jabatan. Di tengah momok ini, terdapat kelucuan-kelucuan.
Untuk mendapatkan kelas sosial dengan peringkat atau reputasi bagus maka salah satu syaratnya adalah penggunaan bahasa internasional. Kelucuan yang disoroti kali ini berkaitan dengan penggunaan bahasa asing pada jurnal-jurnal terbitan dalam negari.
Agar sebuah jurnal dapat dikategorikan memiliki reputasi internasional, maka pengelola jurnal memutuskan untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa yang dipakai oleh jurnal tersebut. Pilihan ini sudah tepat dengan tujuan yang dimaksud. Bahasa Inggris ranah akademik saat ini memang mendominasi dunia akademik global. Penggunaan bahasa suku Angle ini dapat pula menaikan citra dari keakademisan sebuah tulisan. Realitasnya banyak ditemui jurnal yang diterbitkan oleh orang Indonesia dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa jurnalnya.
 
Lalu lucunya di mana?
Penulis yang ingin berkontribusi pada jurnal itu tentu saja harus menulis dengan bahasa Inggris. Bagaimana jika penulis tidak memiliki kecapakan menulis akademis dalam bahasa Inggris? Mungkin, bagi dia bahasa Inggris jadi hambatan karena terlahir di ranah Minang dan dari kecil hingga menjadi akademisi hidup di dalam budaya Minang. Hampir tidak pernah mempraktekkan bahasa Inggris, meski nilai mata pelajaran atau mata kuliah bahasa Inggrisnya tidak bermasalah. Penggunaan jasa terjemahan mungkin menjadi pilihan. Kenyataan lain adalah tidak tersedianya banyak penerjemah profesional dan kalau pun ada biayanya bisa jadi mahal. Penggunaan penerjemah tidak bersetifikat sering menjadi pilihan. Bagi penulis yang memiliki kemampuan lemah dalam bahasa Inggris, tentu tidak dapat juga memeriksa apakah hasil terjemahan sudah sesuai dengan naskah aslinya. Tulisan yang begini memiliki kesempatan kecil untuk lulus pada jurnal baik, dan akhirnya bisa terdampar pada jurnal kurang baik reputasinya.
Fakta lain, ada juga penulis yang menggunakan mesin penerjemahan yang tersedia cuma-cuma. Lalu menyuntingnya sesuai dengan kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki. Kita tahu sendiri lah hasilnya. Jika tulisan ini dikirim pada penerbit jurnal bereputasi, pasti sulit sekali lolos hingga diterbitkan. Namun ada kenyataan lain. Faktor harus terbitnya sebuah jurnal karena sudah dianggarkan, kadang tulisan yang begini bisa saja lulus review dan kemudian terbit. Kenyataan ini didukung oleh pengelola jurnal yang mungkin tidak juga memiliki kemampuan bahasa Inggris yang memadai. Hal fatal lainnya, bisa saja artikel yang terbit tidak melalui proses pengulasan dari ahli. Lagi-lagi ini karena desakan jurnal harus segera terbit oleh desakan administrasi anggaran. Akhirnya, terbitlah tulisan itu.
Setelah jurnal terbit baik dalam bentuk cetak maupun daring, kita patut melihat siapa yang mengkonsumsinya. Jika jurnalnya belum bereputasi atau terakreditasi, maka tidak akan banyak orang mengutip tulisan dalam jurnal tersebut, bahkan mungkin tidak tertarik untuk membacanya. Hal ini juga berkaitan dengan lama berdirinya jurnal dan manfaat yang sudah diberikan jurnal bagi masyarakat akademik. Pada jurnal daring terlihat pada jumlah sitasinya. Kembali lagi kepada isu yang kita lihat, apakah segenap pembaca yang tidak terlalu luas itu telah memiliki kemampuan membaca bahasa Inggris yang baik? Kalau tidak, tentu tulisan itu tidak terbaca benar. Jikalau orang luar Indonesia yang membaca, apakah bahasa Inggris itu dimengerti? Sering sekali mendengar istilah Foreign English atau Broken English. Istilah ini dimaksudkan pada bahasa Inggris yang tidak dimengerti oleh orang Inggris sendiri. Agaknya mirip dengan ketika kita mendengar orang asing berbahasa Indonesia terbata-bata, bukannya mendapat informasi, malah membuat pusing.
Fenomena ini kerap terjadi juga pada artikel yang diterbitkan oleh jurnal terbitan dalam negeri yang berbahasa Inggris. Mereka terbit setiap tahun sesuai dengan anggarannya namun tidak tahu pasti siapa pembacanya. Pastinya pembaca jurnal tersebut adalah akademisi dalam bidang ilmu tersebut. Namun penggunaan bahasa Inggris menjadi persoalan baru. Persoalan pada yang menulis, yang mengelola, dan terutama kepada yang membaca artikel jurnal tersebut. Mungkin sudah ada ratusan artikel diterbitkan dalam bahasa Inggris yang tidak diketahui secara pasti siapa pembacanya. Lalu bagaimana artikel itu bermanfaat?
Berkaitan dengan konten. Penelitian-penelitian orang Indonesia tentunya lebih banyak tentang Indonesia dan dilakukan di Indonesia. Artinya, penelitian ini tentu bermanfaat untuk orang Indonesia. Pastinya, banyak penelitian didanai oleh pemerintah, seperti yang dilakukan orang-orang di perguruan tinggi dan lembaga riset. Agar hasil penelitian itu bisa diakses secara luas oleh masyarakat Indonesia, maka sebaiknya ditulis dalam bahasa Indonesia. Bukan bahasa Asing. Kalau ditulis dalam bahasa asing, bisa artinya kontribusi penelitian dan manfaat penelitian disediakan atau diprioritaskan untuk orang asing, bukan untuk masyarakat Indonesia.
Jika dipandang lebih radikal, penelitian dilakukan oleh orang Indonesia, dibiayai oleh rakyat Indonesia, dan hasilnya dinikmati oleh orang asing karena kebanyakan orang Indonesia tidak dapat memahami bahasa Inggris dengan baik. Ini kan lucu. Namun, jika penelitian itu ditulis dengan menggunakan Broken English, maka tentu tak satupun dapat mengambil manfaat yang terkandung dalam artikel jurnal tersebut. Ini lebih lucu lagi.
Pihak-pihak tekait seharusnya paham bahwa ini bukan saja tentang kebermanfaatan produk akademik. Ini tentang jadi diri dan bagaimana bersikap realistis apa adanya sehingga hal baik tidak berakhir buruk. Satu sisi negara membiayai kegiatan penerjemahan produk-produk luar seperti buku dan film agar bisa dinikmati anak bangsa, agar menjadi sumber ilmu. Lalu mengapa kita gila-gila-an menulis dalam bahasa asing sementara penelitiannya didanai masyarakat melalui pajak. Bukankah masyarakat yang patut membaca dan menikmati hasil kajian itu. Mari menulis dalam bahasa Indonesia dan bangga menggunakan bahasa sendiri dan hanya dengan penggunaan bahasa Indonesia hasil pemikiran dan penelitian kita dapat diakses serta dipakai secara lebih luas oleh bangsa sendiri.[]
Penulis: Nofel Nofiadri
Dosen UIN Imam Bonjol Padang, mahasiswa doktoral Deakin University Australia.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img