31 C
Padang
Kamis, Mei 23, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

HIDROPONIK: Pertanian Modern di Zaman Milenial
H

- Advertisement -

Oleh: Silvia Permata Sari, SP., MP.
Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Andalas

Menanam sayuran dan buah-buahan sekarang menjadi salah satu hal yang paling banyak diminati (hobi) oleh semua orang mulai dari desa hingga perkotaan, dengan alasan utama untuk faktor kesehatan. Namun keinginan berkebun sayur tersebut terhalang karena tidak tersedianya lahan dan kesibukan rutin lainnya. Tapi jangan berkecil hati, salah satu solusinya adalah dengan bertanam secara hidroponik. Nah…apa itu hidroponik? Bagaimana sejarahnya dan kapan hidroponik itu muncul di indonesia? Apa saja jenis hidroponik tersebut? Serta apa keuntungan atau kelebihan hidroponik tersebut? Hingga kendala yang dihadapi dalam budidaya hidroponik ? Semua itu akan dikupas dalam tulisan ini ya sahabat pembaca setia Berita Sumbar…

Hidroponik berasal dari bahasa Yunani yaitu “hidros” dan “ponos”Hidros artinya air, sedangkan Ponos artinya tenaga kerja. Jadi secara istilah bahasa, hidroponik adalah metode bercocok tanam menggunakan air sebagai tenaga kerja (media tanamnya), dengan arti kata tidak menggunakan tanah sebagai media tanam. Sedangkan budidaya secara konvensional kita menggunakan tanah. Sehingga bisa dibilang hidroponik termasuk ke dalam inovasi perkembangan teknik bercocok tanam yang modern. Oleh karena itu, budidaya secara hidroponik tidak perlu tanah dan lahan yang luas. Tetapi walaupun tidak menggunakan tanah, hidroponik memiliki mekanisme yang lebih kompleks dan terdapat beberapa hal yang harus anda perhatikan. Satu hal penting yang harus kita perhatikan dalam hidroponik adalah pastikan media tanam yang anda gunakan tersebut (yaitu air) mengandung nutrisi yang lengkap, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro cukup sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman optimal.

Perkembangan menanam tanaman dengan menggunakan media air ini terus berkembang dari waktu ke waktu. Ditambah dengan semakin sempitnya lahan tanam di perkotaan, yang membuat banyak orang tidak dapat menanam tanaman sesuka hati karena kesibukan rutinitasnya. Budidaya hidroponik semakin meluas pada awal abad ke 19, tetapi namanya belum hidroponik, tetapi budidaya perairan. Istilah hidroponik pertama kali diperkenalkan oleh seorang peneliti bernama William Frederick Gericke, yang saat itu berhasil menanam tomat dengan metode hidroponik dengan ukuran tinggi tanamannya yang mencapai 25 cm. Kemudian Willian Gericke tersebut menerbitkan buku yang isinya mengenai teknik, nutrisi, media dan hal lainnya tentang hidroponik yang sangat lengkap. Dari situlah cara menanam atau budidaya dengan hidroponik ini semakin meluas dan berkembang pesat, termasuk penanaman hidroponik di Indonesia yang juga mulai banyak digunakan oleh para petani dan orang biasa.

Di Indonesia, hidroponik ini masuk pada tahun 1980 yang diperkenalkan oleh Bob Sadino. Pengusaha sukses tersebut mempopulerkan teknik hidroponik di Indonesia,  yang saat itu juga sering menjadi narasumber/pakar dalam bidang agribisnis. Awalnya cara penanaman unik ini hanya dilakukan sebagai hobi atau kecintaan seseorang pada tanaman, yang ingin mencoba menanam tanaman tidak menggunakan tanah. Bahkan banyak orang yang menggunakan tanaman ini sebagai tanaman hias di rumah, serta menjadi salah satu dekorasi di ruangan yang unik dan menarik. Namun, lain dulu dan lain sekarang, hidroponik bukan hanya menjadi hobi semata, tetapi sudah menjadi cara budidaya tanaman yang komersial. Bahkan di beberapa negara maju seperti Amerika, Kanada, Jepang, Singapura sudah fokus dalam menerapkan hidroponik sebagai teknologi untuk menghasilkan sayuran dan buah-buahan di negaranya.

Setelah tahu pengertian dan sejarah munculnya, sekarang kita bahas apa saja jenis hidroponik tersebut ya.. Ada enam jenis hidroponik, yaitu :

  1. Reservoir. Hidroponik dengan metode reservoir, caranya: akar tanaman digantung langsung ke dalam larutan nutrisi dan petani harus menggunakan pompa udara akuarium untuk mengoksidasi larutan nutrisi sehingga tidak seluruh bagian tanaman terendam ke dalam air.
  2. Film nutrisi. Hidproponik dengan metode ini bergantung pada penyerapan oksigen dari udara dengan mengalirkan larutan nutrisi secara terus menerus di atas akar tanaman. Syarat menggunakan metode ini adalah tanaman harus tumbuh sedikit miring sehingga memungkinkan larutan mengalir ke bawah. Teknik satu ini mungkin terdengar merepotkan, tetapi akan sebanding dengan hasil yang didapatkan.
  3. Aeroponik. Sesuai dengan namanya, metode sati ini tergantung pada akar yang menggantung di udara dan mengaburkannya dengan larutan. Anda dapat meningkatkan pertumbuhan dengan cara ini dan melakukannya dengan memukul akar dengan fogger kolam atau nozzle semprotan halus.
  4. Wick. Hidroponik dengan sistem wicking ini yaitu tanaman dan reservoir larutan nutrisi dihubungkan oleh sumbu yang digunakan untuk memberikan makanan setiap waktu. Bahan penyerap seperti kapas adalah media yang paling umum dan dapat secara perlahan menyalurkan air atau nutrisi ke tanaman. Metode hidroponik satu ini dianggap sebagai salah satu yang paling sederhana dan hemat biaya, bahkan paling populer. Contohnya: Hidroponik dengan teknik NFT.
  5. Ebb and flow. Hidroponik dengan teknik ini membutuhkan penggenangan area tumbuh pada interval tertentu berdasarkan pengatur waktu. Di sela-sela banjir, larutan nutrisi mengalir kembali ke reservoir. Ebb and flow dianggap sebagai teknik tingkat menengah dan tidak membutuhkan terlalu banyak air.
  6. Drip. Hidroponik dengan dengan metode drip, dimana umpan lambat larutan nutrisi didistribusikan ke media hidroponik menggunakan media pengeringan lambat seperti wol batu, sabut kelapa, atau lumut gambut.

Adapun beberapa keuntungan budidaya hidroponik yaitu :

  1. Tidak perlu tanah sebagai media tanam, karena media tanamnya adalah air.
  2. Solusi untuk mengatasi masalah kekurangan lahan yang semakin tahun semakin sempit karena alih fungsi lahan untuk perumahan dan industri. Karena tidak perlu lahan luas dan bisa dilakukan di lahan yang terbatas atau sempit, sehingga bisa dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di apartemen atau di rumah susun sekali pun.
  3. Tidak perlu menyiram tanaman setiap hari karena air yang digunakan sudah mengandung nutrisi yang cukup.
  4. Selain sebagai media tanam, air yang digunakan dalam sistem hidroponik juga bisa digunakan untuk keperluan lain, misalnya dijadikan akuarium maupun kolam pemeliharan ikan.
  5. Perawatannya lebih praktis baik dari gangguan gulma (tumbuhan pengganggu) maupun hama dan penyakit, karena bisa dikontrol dengan baik.
  6. Budidaya tidak tergantung musim untuk beberapa tanaman.
  7. Relatif tidak menghasilkan polusi nutrisi ke lingkungan.
  8. Mudah dalam memanen hasil, steril dan bersih.
  9. Harga jual tanaman hasil hidroponik lebih mahal dibandingkan hasil budidaya secara konvensional.
Foto Oleh: Silvia Permata Sari

Contoh tanaman yang dapat dibudidayakan untuk keperluan komersial dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi adalah paprika, pakcoy, tomat, selada, seledri, melon, semangka, strawberry, dan kangkung. Selain jenis tanaman yang disebutkan itu, masih banyak tanaman yang dapat dibudidayakan menggunakan teknik hidroponik. Meskipun hasil dari tanaman, hidroponik itu bagus dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, tetapi di dalam proses penanamannya masih ada banyak kendala atau permasalahan, seperti : listrik mati dalam kurun waktu yang lama (24 jam), konsentrasi nutrisi yang diberikan tidak sesuai kebutuhan tanaman, debit air yang tidak stabil, serta lumut yang muncul di pipa paralon/pipa plastik. Jadi sahabat pembaca itulah uraian lengkap mengenai hidroponik..Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan kita. Terakhir, jangan lupa share artikel ini ke teman-temanmu yang lain ya sahabat pembaca.. Salam petani modern. Silvia Permata Sari

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img