23 C
Padang
Selasa, Oktober 19, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Edukasi Universal Precaution Pada Masyarakat Oleh Fakultas Keperawatan Universitas Andalas
E

- Advertisement -

Penulis : Esi Afriyanti
Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Sejak kemunculan infeksi coronavirus novel (2019-nCoV) pada bulan Desember tahun 2019 di Wuhan, infeksi ini menyebar dengan cepat ke seluruh Cina dan banyak negara lain. Penyakit 2019-nCoV dan telah menjadi masalah kesehatan global utama di dunia. Pada 11 Februari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan nama baru untuk penyakit epidemi yang disebabkan oleh 2019-nCoV yaitu penyakit coronavirus (COVID-19). Indonesia sendiri khususnya Kota padang juga tidak luput dari pandemic kasus COVID-19 ini.

Jika melihat kembali tren penyebaran dari penyakit COVID-19, bisa dipastikan penyebarannya sangat cepat dan progresif. Sampai saat ini, sudah diketahui bahwa penularan antar manusia dapat terjadi melalui percikan (droplet) saat batuk/bersin atau melalui benda yang terkontaminasi virus. Dari berbagai penelitian, metode penyebaran utama penyakit ini adalah melalui droplet saluran pernapasan dan kontak dekat dengan penderita. Droplet merupakan partikel kecil dari mulut penderita yang dapat mengandung virus penyakit, yang dihasilkan pada saat batuk, bersin, atau berbicara.

Droplet dapat melewati sampai jarak tertentu (biasanya 1 meter). Droplet bisa menempel di pakaian atau benda di sekitar penderita pada saat batuk atau bersin. Namun, partikel droplet cukup besar sehingga tidak akan bertahan atau mengendap di udara dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, orang yang sedang sakit dengan adanya gejala maupun yang tidak bergejala, diwajibkan untuk menggunakan masker untuk mencegah penyebaran droplet.

Untuk mengantisipasi dari penyebaran COVID-19 yang begitu cepat,  tindakan pencegahan merupakan kunci penerapan di pelayanan kesehatan dan masyarakat. Langkah-langkah pencegahan yang paling efektif melakukan tindakan Universal Precaution, yaitu meliputi melakukan kebersihan tangan menggunakan hand sanitizer jika tangan tidak terlihat kotor, atau cuci tangan dengan sabun jika tangan terlihat kotor; menghindari menyentuh mata, hidung dan mulut; menerapkan etika batuk atau bersin dengan menutup hidung dan mulut dengan lengan atas bagian dalam atau tisu, lalu buanglah tisu ke tempat sampah; pakailah masker medis jika memiliki gejala pernapasan ataupun tidak dan melakukan kebersihan tangan setelah membuang masker; menjaga jarak (minimal 1 m) dari orang yang mengalami gejala gangguan pernapasan.

Berdasarkan fenomena tersebut maka dosen Fakultas Keperawatan bertanggung jawab ikut serta dalam memelihara kesehatan dengan cara meningkatkan pengetahuan masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Alai tentang universal precaution yaitu mencuci tangan dengan 6 langkah serta tata cara batuk yang tepat dalam rangka mencegah penularan COVID-19. Pengabdian Masyarakat ini di pimpin oleh ketua yaitu Esi Afriyanti, S.Kp dengan beranggotakan dosen Fakultas Keperawatan yaitu Ns. Elvi Oktarina, M.Kep.Sp.KMB dan Ns. Leni Merdawati, S.Kp.M.Kep. Pengabdian ini juga melibatkan mahasiswa keperawatan sebanyak 6 orang.

Pengabdian masyarakat ini menggunakan 3 metode yaitu metode pertama berupa pendidikan kesehatan dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemutusan rantai penularan COVID-19, dilanjutkan dengan metode kedua yaitu demonstrasi dan redemontrasi tentang cuci tangan 6 langkah dan batuk efektif. Kegiatan ini diakhiri dengan pemberian hand sanitizer dan masker kain pada masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Alai. Untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat digunakan kuesioner sebelum dan sesudah kegiatan.

Berdasarkan evaluasi dengan menggunakan kuesioner ditemukan bahwa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan, tingkat pengetahuan masyarakat kurang dalam mencuci tangan, terutama bahan yang digunakan dalam mencuci tangan. Masyarakat tidak familiar dengan handscrub, tapi hanya tahu tentang air yang mengalir. Hal inilah menyebabkan masyarakat tidak mencuci tangan ketika fasilitas tempat cuci tangan tidak ada. Kebiasaan ini sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Dengan adanya pemberian pendidikan kesehatan tentang bahan apa saja yang dapat digunakan untuk mencuci tangan, diharapkan masyarakat mampu mengubah kebiasaan dari tidak bisa mencuci tangan akibat tidak adanya fasilitas menjadi mampu mencuci tangan dengan menggunakan hand scrub yang disposibel dan dapat dibawa kemana-mana. Setelah dilakukan penyuluhan dan demostrasi, tingkat pengetahuan masyarakat meningkat dengan nilai kuesioner menjadi 100%. 

Untuk aspek etika batuk dan pemakaian masker, berdasarkan hasil kuesioner ditemukan bahwa hampir semua masyarakat menjawab tentang batuk efektif, bahkan mampu menjawab dengan benar tentang pemakaian masker apabila batuk. Namun dilapangan berdasarkan hasil pengamatan, masih ditemukan masyarakat yang tidak menggunakan masker. Ketika dilakukan wawancara, hal ini karena penggunaan masker yang menyebabkan sesak nafas dan rasa tidak nyaman ketika memakainya. Padahal kerugian lebih besar daripada keuntungan jika masyarakat tidak memakai masker. Dengan demikian, sangat diperlukan monitoring dan penguatan lebih intensif terhadap penggunaan masker ini.

Walaupun dari hasil pengabdian ini memperlihatkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam tindakan Universal Precaution, namun sangat diperlukan penguatan dan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung tindakan masyarakat seperti  mengakomodir kebutuhan masyarakat untuk fasilitas mencuci tangan, atau penyediaan refill hand sanitier yang dapat diakses dengan mudah sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Dengan demikian penyebaran COVID-19 dapat kita cegah bersama.   

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img