Padang,BeritaSumbar.com,- Pola pikir merupakan hal yang sangat penting pada masa kini dan masa depan. Apalagi ketika pola pikir kita sedang belajar. Mengapa pola pikir sangat penting dan harus diubah? Pola pikir akan mempengaruhi cara pikir, perilaku bahkan perasaan kita dalam segala situasi. Oleh karena itu, pola pikir dalam belajar akan mempengaruhi persepsi kita. pola pikir dalam belajar bisa membantu kita mencapai tujuan dengan mudah sehingga menjadi lebih sukses.
Seperti dalam konsep teori Johari window, di jendela blind spot, ketika kita tidak mengetahui tentang diri kita maka kita mencintai apa saja kekurangan kita kepada orang lain. Informasi yang disampaikan itu bisa menjadi saran perbaikan untuk kita menjadi lebih baik lagi. Pola pikir kita harus berpikir positif bahwa itu adalah untuk kita. Ketika kita mau membuka pola pikir secara terbuka dan lebar hasilnya adalah kita akan mudah memahami diri sendiri maupun orang lain
Berdasarkan tersebut, kelompok Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Universitas Andalas Kembali mengadakan kegiatan refleksi, kali ini mengangkat tema “Berdamai dengan Masa Lalu untuk Meraih Sukses di Masa Depan” pada hari Sabtu, 15 Oktober 2021 dan bertempat di Gazebo Universitas Andalas. Kegiatan ini Bersama dosen pembimbing kelompok Tali Tigo Sapilin (Tatisa) yaitu Boby Febri Krisdianto, yang merupakan seorang dosen Keperawatan UNAND, ujar Bobby menjelaskan mengapa coaching ini nantinya bisa membuat para mahasiswa menjadi lebih berdaya dan bermanfaat.
Mahasiswa menyimak dengan serius instruksi dari coach Bobby sembari diiringi musik instrumentalia. Pada setiap instruksi, ada peran kartu-kartu yang dipilih secara digital di halaman web point of you. Kemudian, mahasiswa diminta merefleksikannya sesuai dengan apa yang kami pikirkan dan rasakan.
Kartu-kartu tersebut tidak dibuat asal-asalan melainkan berdasarkan penelitian selama bertahun-tahun. Melibatkan banyak orang dan persepsi mereka. Bangga ikut berpartisipasi menjadi yang pertama menjalani coaching dengan tools ini, ujar Charles, mahasisa pertukaran asala Purwokerto.
Mahasiswa diminta memilih tiga gambar yang sekiranya gambar tersebut sesuai dengan kehidupan masing-masing anggota. Tiga gambar itu terdapat fasenya masing-masing yakni dimulai dari gambar apa yang terjadi di masa lalu, yang terjadi saat ini, dan apa potensi yang bakal terjadi kedepannya. Selain memilih gambar, Boby selaku dosen modul nusantara membuat aturan bahwa ketika kita akan menjelaskan terkait gambar yang dipilih itu harus ada objek yang menyertainya.
Secara umum, dari keempat anggota TaTiSa yang mendapat kesempatan berbicara mereka memilih orang tua dan keluarga yang menjadi objeknya. Hal ini dapat dimaknai bahwa keluarga merupakan orang yang paling berpengaruh dalam tumbuh kembang anak dan juga dalam pembentukan mental dan pola pikir. Tentunya ini dapat dijadikan sebagai bentuk pembelajaran kita sebagai mahasiswa yang harus memperhatikan lingkungan terutama dilingkungan terdekat agar dapat menjaga kalimat dan tindakan yang keluar dari mulut kita sendiri.
Kegiatan pause ini memiliki dampak positif bagi anak TaTiSa dimana dapat berbagi cerita yang berefek kepada sesama anggota menjadi semakin dekat, terbuka, dan saling merangkul satu sama lain. Kedekatan yang dimiliki sesama anggota TaTiSa bukan hanya pada kedekatan secara luar melainkan juga dapat melakukan pendekatan dari dalam. Salah satunya dengan kegiatan berbagi cerita seperti ini.
Setelah menjalani sesi bermain kartu selama 2 jam, mahasiswa PMM bisa menangis bersama, tertawa bersama, saling memotivasi, dan saling menguatkan. Rasanya mendapatkan kekuatan baru dari teman-teman peserta coaching. Kami jadi lebih mengenal satu sama lain.
Beberapa dari mahasiswa mengaku menjadi lebih lega. “Saya baru kali ini menangis karena menceritakan diriku sendiri,” kurang lebih begitu yang dikatakan Hasna, seorang mahasiswa pertukaran asal Bogor. Ajaibnya, dia membuat kami semua menangis terharu sekaligus lega.“Mendengar kisah orang lain dan berusaha memahaminya bisa membantu menguatkan diri kita juga ,” ujar coach Bobby.
Sekali lagi, kita ini butuh sering-sering menengok ke dalam diri karena sumber daya yang bisa meningkatkan kualitas diri dan lebih membuat kita berdaya ada di dalam diri sendiri tetapi kadang-kadang kita tak bisa melihatnya sendiri dan butuh bantuan dari luar untuk mengeksplorasinya. Di sini yang bercerita bukan kartu, melainkan Anda. Jadi mau ganti apapun kartunya, tetap benang merah yang akan Anda sampaikan. Ini disebabkan oleh pikiran bawah sadar yang bekerja secara spontan, kata Boby.
Kesadaran mengenai kesehatan mental pada generasi muda belakangan ini meningkat namun mengingat hal ini sering dianggap remeh. Padahal para peneliti di Universitas Boston (2022) baru-baru ini mengungkapkan beberapa temuan yang mengejutkan, bahwa depresi di kalangan mahasiswa meningkat hampir 135% (persen) selama delapan tahun sementara kecemasan melonjak menjadi 110%. Oleh karena itu, penting bagi setiap penyelenggara pendidikan, mereka lebih sering menyelenggarakan kegiatan untuk meningkatkan kesehatan mental mahaiswanya, tutup Bobby.