27 C
Padang
Sabtu, Oktober 16, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Dibalik salah Sebut Provinsi Padang
D

Kategori -
- Advertisement -

Hari ini Rabu tanggal 19 Mei tahun 2021, presiden Jokowi meninjau progress pembangunan jalan tol Sumatera ruas Pakanbaru – Padang di ruas Pakanbaru Bangkinang. Dalam akun youtube yang dicuplik beberapa media online tersebut pak Jokowi sempat menyebut provinsi Padang untuk provinsi sumatera barat yang kemudian dalam kalimat berikutnya dikatakan kota Padang di provinsi Sumatera Barat.

Hal sepele jika ditinjau dari bahasa masyarakat umum, tetapi tidak sepele dalam bahasa diplomasi atau bahasa pergaulan tingkat tinggi karena hal itu bisa diartikan bermacam-macam. Karena nama adalah kata yang paling berarti atau spesial bagi sipemilik nama. Seseorang akan merasa sangat tersanjung atau terhormat jika banyak orang atau orang yang tidak dia kenal tetapi menyebut namanya atau mengenalnya dengan sangat baik.

Begitu juga sebaliknya, sipemilik nama akan sangat kecewa atau merasa disepelekan jika ada orang yang sangat kenal dengannya lalu lupa dengan namanya. Penulis bukannya suudzon kepada pak Jokowi yang mungkin pura-pura lupa dengan nama sumatera barat atau mungkin juga lupa dengan suku Minang. Tetapi ditengah kendala-kendala berat dalam pembangunan ruas tol Padang-Pakanbaru, khususnya dalam hal pembebasan lahan yang terkesan sepertinya masyarakat kurang mendukung pembangunan jalan tol tersebut.

Sangat berbeda dengan di daerah lain yang masalah pembebasan lahan untuk jalan tol itu tidak sesulit atau serumit di ruas Padang-Pakanbaru tersebut. Oleh karena itu penulis yang kebetulan putra Minangkabau lebih melihat salah sebut ini sebagai bahan introspeksi. Bahwa dibalik mayoritas rakyat sumatera barat tidak suka dengan Jokowi, perhatian pemerintah pusat terhadap pembangunan provinsi sumatera barat ini sangat kuat. (baca hasil pilpres 2014 dan 2019).

Berbeda dengan provinsi Riau yang kaya raya karena memiliki tambang dan sumber daya alam yang melimpah, sumatera barat lebih banyak tergantung kepada pemerintah pusat. Bukan saja dan untuk membangunan jalan tol atau pembangunan lainnya, bahkan belanja rutin pemerintah daerah sumatera barat berikut kabupaten dan kotanya juga sebagian besar masih disumbang oleh pemerintah pusat.

Kalau dulu provinsi sumatera barat ini dikenal sebagai gudangnya pemikir dan cendikiawan agama serta ilmu pengetahuan, akan tetapi sekarang sepertinya juga miskin pemikir dan cendikiawan. Lalu apa yang ada di sumatera barat sekarang? Yang tersisa hanya nostalgia indah masa lalu sambil meratapi meraja lelanya penyakit masyarakat berupa penyimpang dan kasus-kasus pelanggaran hukum. (baca data dari Depkes dan kementerian perempuan dan perlindungan anak). Mengenang budaya Minangkabau yang begitu agung dan mulia, sehingga dulunya banyak sekali pejabat yang bukan berasal dari Minangkabau tetapi merasa sebagai orang Minang begitu ditugaskan beberapa tahun di daerah sumatera barat ini.

Tanpa perlu mencari siapa yang salah dengan kondisi Minangkabau sekarang, yang perlu dilakukan adalah upaya-upaya yang sistematis dan terstruktur untuk mengembalikan marwah atau ciri khas Minangkabau ke dalam pergaulan sehari-hari.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya, dan mohon maaf jika ada kekhilafan atau kekeliruan.

Jakarta, 19 Mei 2021

Dedi Mahardi
Author-Inspirator

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img