spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Dampak Perilaku Komuniksi Siswa Penggemar K-POP
D

- Advertisement -

Oleh: Aulia Arsy & Dr. H. Demina M. Pd
Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

PENDAHULUAN

Komunikasi merupakan cara agar manusia mencapai kesamaan makna. Dalam Fajar Junaedi (2019 : 40), Komunikasi pada hakikatnya adalah saling bertukar makna melalui pesan dalam interaksi yang dilakukan manusia. Berkomunikasi merupakan aktifitas azali manusia dan karenanya telah ada sejak manusia lahir. Tanpa komunikasi tidak akan mungkin kehidupan akan berlangsung (Rahmad Kriyantono, 2019 : 3). Begitu juga yang dialami oleh para siswa yang merupakan penggemar K-pop.

Menurut skinne yang dikutip dari (Amanda Belina 2013) perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Perilaku merupakan suatu aktifitas yang terjadi pada organisme yang bisa diamati secara langsung atau tidak langsung dan disebabkan oleh adanya rangsangan terhadap organisme tersebut. (Joyce Marcella Laurens, 2005 : 19).

Bentuk perilaku yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana komunikasi verbal dan non verbal dari penggemar K-pop sebagai Fanboy boygrup BTS di sosial media, baik di youtube maupun tayangan di televisi. Perilaku komunikasi verbal yang menjadikan pusat penelitian berupa ucapan atau kata-kata yang keluar dari mulut penggemar BTS yaitu Army, yang memiliki makna. Sedangkan yang perilaku komunikasi non verbal pada penelitian ini adalah berfokus pada perilaku yang bisa diamati secara fisik yaitu bahasa tindakan (action language) atau bahasa tubuh.

Salah satu budaya yang sedang berkembang di era globalisasi saat ini adalah budaya pop Korea atau yang sering kita dengar dengan sebutan Korean wave atau Hallyu wave ini telah tersebar di seluruh dunia, terutama di Indonesia. Penyebaran Korean wave di Indonesia tidak terlepas dari peranan sosial media. Budaya Korean Pop adalah budaya yang mengacu pada popularitas budaya di negeri Korea Selatan ini menawarkan hiburan yang terbaru yang mencakup dari music pop, film dan drama, animasi games dan sebagainya.

 Indonesia termasuk negara yang terkena demam korea, setelah drama mengambil cukup banyak perhatian dari masyarakat, tidak lama kemudian Korean wave menggemparkn masyarakat dengan hadirnya dengan vocal group yang lebih dikenal dengan girl group atau boy group yang sedang marak dibicarakan dalam layar televisi, majalah dan juga internet di Indonesia yang sedang berlomba-lomba untuk menayangkan atau menginformasikan seputar berita-berita mengenai boyband asal Korea Selatan ini (Tias Sugiarti, 2019).

Kegandrungan akan music K-pop merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pada demam korea (Korean wave) di berbagai negara. Music pop Korea pramodern pertama kali muncul pada tahun 1930-an akibat masuknya music pop jepang yang juga turut mempengaruhi unsur-unsur awal music pop di Korea Selatan (Tias Sugiarti, 2019).

Salah satu contoh yang peneliti ambil adalah Army, yaitu sebutan bagi kelompok para fans yang mengidolakan BTS (Bangtan Boys/Bangtan Seonyeondan). Bangtan Boys atau yang sering disebut dengan BTS ini adalah salah satu boygroup asal Korea Selatan yang memulai debutnya pada tanggal 13 Juni 2013 dengan single No More Dream. Grup ini berada di bawah naungan Big Hit Entertaiment dengan anggota sebanyak tujuh orang yaitu: Rap Monster, Jin, Suga, J-Hope, Jimin, V, dan Jungkook. Grup ini dikenal dengan memiliki basis penggemar yang banyak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Fandom atau kumpulan fansnya memiliki julukan Army yang merupakan singkatan dari Adorable Representative MC For Youth. Jumlah fansnya di seluruh dunia pun semakin hari kian bertambah. Kehadirannya juga semakin mengundang perhatian publik karena lagu-lagu BTS selalu menempati chart music diberbagai negara.

Fenomena Army yang terjadi pada siswa ini mucul dari berbagai latar belakang. Kemajuan teknologi yang menyediakan berbagai macam informasi dan sikap intelek yang mendukung informasi tersebut menjadi salah satu hal yang melatar belakangi munculnya fans BTS yang disebut dengan Army tersebut. Perasaan seperti keluarga menjadi pendorong antar Army dalam membentuk sebuah kelompok. Kelompok Army yang dibentuk oleh siswa ini mengarah kepada kegiatan berkumpul (Ghathering) membahas konser, kuliner, bias, hobi dan lainnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian mengenai perilaku siswa penggemar K-pop khususnya pada boygrup BTS yang beranggotakan 7 orang tersebut, dapat diketahui bahwa siswa-siswa tersebut memiliki perilaku-perilaku tertentu. Alasan siswa senang melihat dan mendengar music dari boygrup BTS adalah karena para member memiliki wajah yang tampan-tampan, dan perjuangan mereka dari nol sampai sukses hingga sekarang. Hal itu membuat para siswa menjadikan mereka sebagai motivasi karena lagu-lagu yang dinyanyikan oleh BTS mengandung arti yang memberikan semangat pada diri sendiri, tidak boleh menyerah, dan juga mencintai diri sendiri.

Kegemaran siswa tidak hanya melihat video music boygrup BTS dari tayangan televisi saja, tetapi mereka juga mencari di internet melalui laptop maupun handphone. Dalam menampilkan perannya sebagai Army, para siswa berusaha menampilkan sosok sebagai penggemar BTS lengkap dengan atributnya. Ketika para Army berkempul, terdapat ucapan khusus yang hanya dimengerti oleh mereka saja.

Tayangan video music boygrup BTS ini mengganggu belajar siswa, karena siswa lebih memilih mendahulukan menonton video tersebut dari pada belajar. Siswa lebih memilih untuk sharing dan update terlebih dahulu dimedia sosila dari pada belajar. Konsentrasi belajar siswa terpecah karena ingin melihat tayangan video music korea terutama pada boyband BTS ini. Kegiatan belajar disekolah juga terganggu karena sebagian siswa yang merupakan Army tidak memperhatikan penjelasan dari guru tentang pelajaran, justru mereka malah bercerita tentang tayangan vido music tentang BTS  bersama sekumpulan Army yang ada. Bagi mereka para siswa penggemar music K-pop ini, melihat tayangan atau video music tersebut dianggap menjadi hal yang penting sehingga siswa tidak ingin ketinggalan acara-acara korea msekipun ujian sekolah sekalipun.

Dampak positif menjadi penggemar tayangan korea bagi siswa adalah bisa menjadi hiburan tersendiri bagi mereka bila siswa bisa mengatur waktu antara melihat televisi dan belajar, bisa menambah pengetahuan siswa tentang bahasa asing, budaya yang ada di Korea, dan berbagai hal lain yang tidak ada di Indonesia, dan bisa memberikan motivasi bagi siswa dari karakter atau tokoh yang baik dalam drama atau video music Korea maupun dari kehidupan nyata artis Korea.

Menurut informasi dari siswa yang peneliti dapat yaitu dampak positif dari keikutsertaan mereka dalam komunitas penggemar K-pop adalah sebagai berikut :

  1. Memberi motivasi dan semangat, karena kisah para member BTS dapat memberikan motivasi dan juga menginspirasi bagi mereka
  2. Menjadikan para siswa tersebut memiliki hubungan pertemanan yang banyak.
  3. Memiliki pengetahuan tentang bahasa asing dan juga budaya yang ada di Korea.
  4. Dengan mendengarkan lagu-lagu mereka, dapat menghilangkan strees dan juga dapat menghibur mereka.

Adapun dampak negatif dari menjadi penggemar K-pop ini adalah terganggunya belajar siswa Karena pada kenyataannya siswa tidak bisa membagi waktu dan justru mendahulukan menonton daripada belajar. Orang tua tidak melarang anaknya melihat tayangan korea daripada belajar dan mengajarkan PR bahkan siswa rela berbohong dan tidak terbuka kepada orang tuanya agar bisa melihat tayangan korea.

Dalam mewujudkan kegemarannya terhadap music K-pop, siswa harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk ukuran anak sekolah, karena untuk membeli poster, baju, foto para member boygrup dan girlgrup, majalah, serta album tidaklah murah, sehingga hal tersebut adalah pemborosan.

Menurut Habert Marcuse dalam Drajat Tri Kartono dan Pajar Indra Jaya (2004 : 57), “Bahwa kemajuan teknologi hanya bermanfaat dalam bentuk luarnya saja, namun sejatinya kondisi tersebut menimbulkan kesadaran palsu”. Maksudnya dalam hal ini televise menghadirkan tayangan-tanyangan music Korea lewat berbagai stasiun televisi. Kegemaran siswa melihat tayangan Korea ternyata terus berkembang. Kecanggihan mendukung teknologi fasilitas yang dimiliki oleh siswa seperti laptop, HP membuat siswa semakin mudah untuk mengakses tentang video music Korea yang terbaru.

Intensitas siswa melihat tayangan music Korea sangat besar sehingga membuat siswa tidak sadar bahwa mereka sebenarnya telah terdominasi oleh teknoogi yaitu televisi dan media lain yang menghadirkan tayangan video music Korea. Dalam hal ini, siswa yang melihat video music Korea adalah hal yang penting bagi mereka sehingga mereka tidak ingi ketinggalan acara-acara Korea ketika harus belajar untuk ujian sekolah, bahkan siswa rela mengesampingkan kewajibannya yaitu belajar.

Keinginan siswa untuk melihat tayangan video music Korea, terutama pada BTS yang semakin berprestasi dan juga memiliki anggota member yang semakin tampan pada masa sekarang ini membuat konsentrasi siswa untuk belajar menjadi terganggu dan terpecah karena siswa tetap memikirkan video music yang telah ditontonnya ketika sedang belajar. Kegiatan disekolah juga terganggu karena siswa tidak meperhatikan penjelasan guru tentang mata pelajaran dan mereka justru bercerita tentang tanyangan yang telah ditonton oleh mereka sesame para penggemar.

Melihat video music Korea merupakan hiburan tersendiri bagi siswa bila intensitasnya tidak berlebihan. Artinya melihat tayangan korea hanya untuk selingan saja dan tidak mengesampingkan kewajiban belajar. Namun pada kenyataannya menjandi penggemar video music Korea terutama pada BTS Army membuat siswa menjadi terlena sehingga mereka mengesampingkan kewajiban mereka sebagai siswa dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Muhibbin Syah (2009:152) menyatakan bahwa minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhu kualitas pencapaian. Dalam hal ini maksudnya adalah ketika minat siswa untuk melihat tayangan video music Korea lebih besar dari pada keinginannya untuk belajar, maka proses belajarnya tidak maksimal karena pikirannya tidak sepenuhnya tercurah pada belajar atau bisa dikatakan siswa belajar dengan terpaksa dan mempercepat belajar sehingga mereka bisa segera melihat tayangan favorite mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Tias Sugiarti. (2009). Pengaruh Budaya Korea (K-pop) Terhadap Remaja. Jurnal Communication Vol. 1, No.1.

Amanda Belina. (2013). Teori Psikologi Sosial. Makassar : Fakultas Ilmu Komunikasi, Fakultas Sosial, Universitas Hasanuddin.

Fajar Junaedi. (2019). Etika Komunikasi di Era Siber. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Hendri Yulius. (2013). All About K-pop. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Joyce Marcella Laurens. (2005). Arsitektur dan Perilaku Manusia. Jakarta : PT Grafindo.

Muhibbin Syah. (2009). Psikologi Pelajar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Rahmad Kriyantono. (2019). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Pranada Media Group.

Drajat T. Kartono & Pajar Indra Jaya. (2004). Lubang Kecil Untuk Menuju Teori Kritis. Surakarta: Pustaka Cakra.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img