Padang,-Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 Tahun 2020 sejak dua bulan yang lalu telah mengurangi banyak aktivitas sosial dan perekonomian masyarakat. Kebijakan PSBB tersebut memberikan dampak secara signifikan kepada perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Tidak hanya itu, pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata juga terus menurun secara drastis. New normal kemudian menjadi salah satu solusi dalam mengatasi perlambatan ekonomi dari berbagai sektor, terutama sektor pariwisata.

Sektor pariwisata di Indonesia yang juga terdampak oleh PSBB adalah kebun binatang. Penutupan kebun binatang selama pandemi Covid-19 telah menurunkan pemasukan finansial kebun binatang tersebut, sehingga pengelola menjadi kewalahan dalam menyediakan makanan bagi koleksi satwa yang dilestarikan di sana. Contoh kebun binatang di Indonesia yang turut merasakan dampak pandemi adalah Medan Zoo: kurangnya pemasukan finansial telah mengganggu operasional untuk penyediaan pakan satwa karena sebagian koleksi mereka adalah hewan predator pemakan daging seperti harimau sumatra, harimau benggala, kucing mas, buaya, elang, ular dan biawak. Sedangkan di kebun binatang Bandung Zoological Garden (Bazoga) turut merasakan dampak yang sama dan pihak pengelola berencana memotong rusa untuk menjadi pakan macan tutul.

Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) di Solo mengalami hal serupa, namun pihak pengelola meluncurkan solusi lain yaitu program adopsi satwa, dengan cara mengajak masyarakat membantu berdonasi dalam memberikan pakan hewan yang mereka pilih untuk diadopsi. Tidak hanya itu, banyak lagi kebun binatang di Indonesia yang mengalami kerugian karena Covid-19, seperti Gowa Discovery Park dan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi. Berdasarkan hasil survey Perhimpunan kebun binatang seluruh Indonesia (PKBSI), sebanyak 92% kebun binatang yang berada di Sumatera, Jawa, Bali dan Lombok hanya memiliki stok pakan satwa hingga bulan Mei saja.

Sebagaimana kita ketahui, kebun binatang merupakan salah satu lembaga konservasi yang melakukan usaha penangkaran berbagai jenis satwa sebagai sarana perlindungan dan pelestarian. Kebun binatang juga termasuk sebagai salah satu upaya konservasi ex-situ atau pelestarian yang dilakukan tidak di tempat hidup asli satwa tersebut, dengan cara menyelamatkannya dari habitat yang tidak aman lagi untuk ditinggali atau terancam dan menempatkannya di bawah perlindungan dan pengawasan manusia. Banyak pengelola kebun binatang yang mendapatkan koleksi hewan langka dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) seperti harimau sumatera untuk dipelihara dan dilestarikan secara ex-situ.

Satwa-satwa yang dipelihara dan dilestarikan di kebun binatang agar tetap bertahan diperlukan perhatian dan dukungan banyak pihak. Seperti Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi telah mendapat dukungan dari Pemerintah dalam penyediaan pakan satwa, sehingga satwa tidak terlalu menderita selama pandemi berlangsung, namun karena kurangnya pengunjung, lembaga konservasi ex-situ ini tetap mengalami kerugian yang signifikan. Lembaga konservasi ex-situ lainnya yang juga perlu dukungan berbagai pihak adalah kebun binatang swasta yang hanya mengutamakan pemasukan finansial dari tiket pengunjung untuk pakan satwa, sehingga satwa mengalami kelaparan dan dapat berujung kematian.

Satwa langka yang tidak dapat tempat lagi di alam liar karena tempat hidupnya telah diambil alih oleh manusia akibat masifnya eksploitasi di bidang pemukiman, pertambangan, perkebunan, dan pertanian mulai kehilangan harapan, kebun binatang menjadi tempat aman untuk ditinggali namun akhirnya juga pupus karena pandemi. Satwa yang dipelihara di kebun binatang kadang hanya mempunyai jumlah yang sedikit di alam. Jumlah populasi satwa yang terus menurun di alam, membuat individu yang masih bertahan di kebun binatang menjadi harapan melindungi jenis satwa yang tersisa, manusia dituntut untuk bertanggungjawab terhadap keberlangsungan hidup mereka setelah tempat hidup mereka diambil dan dieksploitasi untuk kepentingan manusia.

Setelah PSBB yang panjang dan new normal diterapkan serta tempat pariwisata yang telah mulai dibuka satu-persatu termasuk kebun binatang. Merupakan kesempatan bagi kita sebagai masyarakat dalam mendukung pelestarian hewan langka dan terancam punah yang dipelihara dan dilestarikan di kebun binatang. Berkunjung ke kebun binatang selama masa new normal merupakan wujud partisipasi aktif masyarakat dalam konservasi satwa. Uang tiket yang dibayarkan oleh masyarakat ketika berkunjung ke kebun binatang bisa digunakan untuk membeli pakan satwa yang telah kelaparan.

Setelah satwa tersebut kehilangan harapan di habitat asli mereka, jangan sampai harapan mereka untuk hidup di bawah lindungan manusia juga turut pupus. Membantu keselamatan jenis makhluk hidup lainnya yang terancam punah merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan keseimbangan di atas bumi. Manusia sebagai khalifah di bumi dituntut untuk mempertahankan keseimbangan tersebut agar tata kehidupan di bumi tetap berlangsung baik dan dapat diwariskan kepada anak cucu secara berkesinambungan.

Oleh : Robby Jannatan
Dosen Biologi FMIPA Universitas Andalas

 

loading...