spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Bupati Menanam Bunga, Kapolres Menanam Pohon, Wartawan Menanam Cabe
B

- Advertisement -

Oleh: Bonar Surya Winata, S.Sos
Mantan Ketua KWRI Tanah Datar 2 Periode
Ketua Ormas PEKAT – IB Tanah Datar

TANAH DATAR, BeritaSumbar.com — Jumat, 12 Juni 2026, tampaknya layak dicatat sebagai hari yang sibuk bagi tanah di Kabupaten Tanah Datar. Di berbagai sudut daerah ini, tangan-tangan sibuk menggali tanah, memasukkan bibit, dan menyiram air. Namun, di balik seremonial serentak ini, terdapat tiga realitas sosial yang sangat kontras: mitigasi, estetika, dan ironi bertahap hidup.

Mari kita lihat dari kacamata jurnalistik, mulai dari pinggiran hingga ke pusat kota, lalu berujung di pekarangan belakang rumah.
Di Nagari Parambahan, Kepolisian Resor (Polres) Tanah Datar di bawah komando AKBP Dr. Nur Ichsan Dwi S., S.H., S.I.K., M.I.K., melakukan kerja-kerja taktis dan pragmatis. Mereka menanam 1.000 bibit pohon, dengan primadonanya adalah Beringin Kebo Karet.

Sebagai jurnalis, saya harus mengapresiasi langkah ini dengan objektif. Ini adalah mitigasi bencana yang riil. Kita semua ingat trauma lahar dingin 12 Mei 2024 silam yang menyapu wilayah tersebut. Beringin Kebo Karet bukanlah tanaman hias, ia adalah “prajurit” ekologis yang akarnya mampu mengikat tanah saat kemarau dan menahan air saat penghujan. Ini adalah investasi keselamatan nyawa jangka panjang.

Bergeser ke pusat kota, di Lapangan Cindua Mato, Batusangkar, suasananya jauh lebih seremonial. Pemkab Tanah Datar menggelar apel gabungan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Bupati Tanah Datar, Eka Putra, memimpin jajarannya untuk menanam bunga. Tujuannya memperindah wajah kota sekaligus kampanye kepedulian iklim.
Ada satu kutipan menarik dari Bupati dalam pidatonya: “Tanamlah bunga, jangan menanam kebencian.”

Pesan moral yang sangat indah, seindah kelopak bunga yang baru ditanam di taman kebanggaan warga Batusangkar tersebut. Menanam bunga adalah representasi dari estetika, keindahan, dan harmoni. Sebuah oase di tengah iklim politik atau birokrasi yang mungkin kerap memanas.

Namun, sebagai wartawan senior yang pernah memimpin Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI) Kabupaten Tanah Datar selama dua periode, saya dihadapkan pada realitas ketiga yang jauh dari kata heroik apalagi estetik.
Ketika Kapolres menanam pohon untuk menyelamatkan bumi, dan Bupati menanam bunga untuk memperindah kota, saya—dan mungkin banyak rekan seprofesi lainnya di daerah ini—memilih menanam cabe.

Apakah kami menanam cabe untuk menyemarakkan Hari Lingkungan Hidup Sedunia? Tentu tidak. Kami menanam cabe murni karena urusan perut, demi menyambung hidup, demi memastikan dapur tetap mengepul untuk istri dan anak-anak di rumah.

Kebijakan efisiensi anggaran di Pemda Tanah Datar telah memangkas habis anggaran kerja sama media dan pemberitaan. Profesi jurnalis yang secara idealis diagungkan sebagai pilar keempat demokrasi, kini dihadapkan pada realitas pahit: karya-karya jurnalistik hasil reportase, wawancara, dan pemikiran yang mendalam, kini sering kali hanya dihargai tak lebih dari sebungkus nasi.

Tidak ada ruang untuk idealisme ketika anak butuh biaya sekolah dan harga sembako terus merangkak naik. Alih-alih mengejar berita investigasi atau sekadar merilis seremonial pejabat, cangkul dan pupuk kandang kini terasa lebih menjanjikan daripada pena dan kamera. Cabe yang kami tanam mungkin rasanya pedas, tapi tidak sepedas kenyataan bahwa apresiasi terhadap kerja pers di daerah ini sedang berada di titik nadir.

Pada akhirnya, Jumat ini memberikan lanskap yang jujur tentang Tanah Datar. Bupati menanam bunga karena ia memiliki ruang untuk memikirkan keindahan. Kapolres menanam pohon karena ia memikirkan keamanan dan keselamatan warga. Sedangkan kami, para kuli tinta, menanam cabe karena kami harus bertahan hidup.

Bunga tidak bisa dimakan, pohon butuh puluhan tahun untuk dirasakan manfaatnya, namun cabe akan selalu laku di Pasar Batusangkar. Kepada para penguasa, teruslah menanam kebaikan dan keindahan. Kepada rekan-rekan wartawan, rawatlah tanaman cabe itu baik-baik. Sebab hari ini, untuk tetap bisa menulis berita dengan merdeka, kita harus memastikan perut keluarga kita tidak lapar.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img