spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Duka Petani Korban Bencana di Limapuluh Kota,  Panen Padi Seminggu Lagi Tinggal Mimpi
D

Kategori -
- Advertisement -

Limapuluh KotaBeritaSumbar.com, — Bencana hidrometrologi yang terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota,  dalam beberapa hari terakhir, tidak hanya memunculkan lubang besar mirip sinkhole dan berakibat fatal terhadap sejumlah infrastruktur umum. Tapi juga merusak puluhan hektare areal pertanian. Bahkan merusak tanaman padi yang siap untuk dipanen.

Diantara kawasan pertanian yang rusak akibat bencana ini berada di Jorong Sawahlaweh dan Jorong Sialang, Nagari Tungkar, serta Jorong Lokuang dan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari.  Selain rusak karena longsor dan tanah terban, kawasan pertanian ini juga direndam banjir bandang dan luapan air sungai Batang Sandir.

Petani di Nagari Tungkar, Efa dan Yusni Ancok, sangat berharap bantuan dari pemerintah. Sebab, sawah garapan mereka, diketahui rusak akibat dilanda banjir bandang dan direndam luapan air Sungai Batang Sandir, Kamis pagi (14/5/2026). Padahal, sawah yang ditanami padi itu, sudah diap untuk dipanen.

“Awak ka manyabik sapokan lai. Tapi, ba”a lai. Tibo banjir. Abih sadonyo (Saya mau panen seminggu lagi. Tapi mau bagaimana lagi. Datang banjir. Habis semuanya,” kata Efa berlinang air mata, saat melihat sawahnya yang direndam air, Jumat siang (15/5/2025).

Ini juga disampaikan Yusni Ancok, petani penggarap lainya. “Rencana, saya Sabtu besok mau menyabit padi (panen). Tapi, sudah duluan air yang memanen. Banyak kerugiannya. Pupuk saja habis empat karung. Belum lagj, upah membajak sawah,” kata Yusni Ancok.

Menurut tokoh masyarakat setempat, Fakhrizal atau Pak Ce, sawah yang gagal panen di Jorong Sawahlaweh, Nagari Tungkar ini,  akibat meluapnya Sungai Batang Sandir. “Luapan air sungai ini memang dasyat. Bahkan, dangau di tengah sawah, hanyut dibuatnya. Pipa Pamsimas juga putus,” kata Fakhrizal, sambil menunjukkan lokasi yang diceritakannya.

Anggota DPRD Limapuluh Kota, M Fajar Rillah Vesky yang meninjau ke lokasi kejadian, meminta pemda setempat segera menetapkan status tanggap darurat. Karena bencana alam yang terjadi, selain meluas di berbagai kecamatan, juga menganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat. Sekaligus membutuhkan tindakan segera dan memadai.

“Pemkab Limapuluh Kota harus segera menetapkan status tanggap darurat, untuk melegalisasi pengunaan Biaya Tak Terduga (BTT) sebesar Rp2,5 miliar yang terdapat dalam pos belanja APBD 2026. Sekaligus untuk memobilisasi bantuan dari berbagai pihak, seperti BNPB, Pemprov Sumbar dan BWS Sumatera V,” kata M. Fajar Rillah Vesky.

Terkait dengan areal pertanian masyarakat yang rusak akibat bencana, Fajar sudah berkomunikasi dengan Bupati Limapuluh Kota Safni Sikumbang dan Kadistanhorbun Witra Porsepwandi. Menurut Witra, petugas penyuluh lapangan di Situjuah Limo Nagari, sudah meninjau areal pertanian dan irigasi yang rusak akibat bencana alam, untuk mendata potensi kerugian dan mengambil langkah penangangan selanjutnya. (***).

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img