spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Belajar Pengaplikasian “Alam Takambang Jadi Guru” Di Ekowisata Sungkai Green Park, Padang
<

Kategori -
- Advertisement -

Padang,BeritaSumbar.com,- Gempitanya perkembangan teknologi informasi terkadang menjadikan proses pendidikan terasa gersang‘. Teknologi membuat semua orang saling terhubung, sangat mudah bercengkerama di dunia maya, namun sulit melebur di dunia nyata. Oleh karena itu, pendidik perlu terus menyegarkan kembali esensi dari pendidikan itu sendiri. Keberhasilan pendidikan bukan pada keberhasilan mengirimkan pesan (materi) tapi tapi jauh dari itu. Tujuanpendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah: “Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan tingginya.

Mahasiswa bagaikan benih yang memiliki kodrat atau fitrah, termasuk fitrah belajar. DIsitulah peran Dosen Modul Nusantara  menumbuhkan benih itu dengan cara menyemanya pada media yang tepat dan merawatnya secara berkala. Bagaikan benih yang menyerap udara dan unsur hara di sekitarnya, peserta didik dapat belajar dengan memproses beragam informasi di sekitarnya, yakni berinteraksi dengan alam dan semesta. Jika mengacu pada referensi budaya Minangkabau sendiri, itu referensi jadi dalam pepatah “Alam Takambang Guru” . jika dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia adalah alam yang terkembang menjadi guru kehidupan manusia, ungkap Bobby, salah satu dosen modul nusantra di Universitas Andalas.

Alam sebagai Media Pembelajaran

Sejatinya, media pembelajaran sangat dekat di sekitar kita. Semesta (alam dan seisinya), menyuguhkan informasi yang sangat lengkap, unik dan menarik. Informasi itu tersembunyi, tidak seperti teks yang dapat langsung dibaca secara harfiah. Semesta memberikan pesan melalui bentuk, warna, suara, bau, rasa, fenomena Apapun itu, semesta selalu memberi pesan yang menakjubkan.

Harry Santosa, dalam bukunya Fitrah Based Education mengatakan bahwa potensi fitrah alam akan banyak berinteraksi dengan fitrah belajar dan bernalar manusia dalam rangka menuju peradaban secara umum untuk menjadi rahmatan lil alamin. Ruang lingkup fitrah alam meliputi keanekaragaman hayati (biodiversity), unsur mineral yang terkandung di dalamnya, potensikeunggulan lokal terkait kekhasan alamnya, energi yang dihasilkannya, iklim dan cuaca yang menjadi karakteristiknya, letak geografis dan dampak daripadanya.

Belajar dan berinteraksi dengan alam sesuai dengan Capaian Pembelajaran SDGs (Sustainable Development Goals) khususnya tujuan nomor 15 yaitu Life on Land. Dalam aspek sosial emosional, pembelajar diharapkan mampu menciptakan visi atau tujuan hidup harmoni dan keindahan dengan alam. Dalam aspek kognitif, pembelajar memahami dasar ekologi dengan merujuk pada ekosistem lokal dan global, menidentifikasi spesies lokal dan memahami keanekaragaman hayati. Dalam aspek tingkah laku, pembelajar diharapkan mampu menjalin kerjasama dengan kelompok untuk tujuan konservasi keanekaragaman hayati di wilayahnya.

Berdasarkan hal tersebut, mahasiswa merdeka program pertukaran  melakukan kegiatan modul nusantara pada hari sabtu tanggal 15 Oktober 2022 yang bertema kan  “ Alam Takambang Jadi Guru “. Kegiatan tersebut di laksanakan di Ekowisata sungkai green park kampung Sungkai, Pauh, Padang.

Lokasi Ekowisata Sungkai Green Park (EGSP) tidak jauh dengan Universitas Andalas, sehingga hanya menempuh 10 menit perjalanan dari Asrama dengan Angkot, mahasiswa telah sampai di tujuan. Kegiatan saat berada di EGSP adalah mahasiswa diberi tugas mencari nama tumbuhan maksimal 100 tumbuhan selama 1 jam. Adapun peraturan selama pencarian tumbuhan tersebut yaitu  pertama Tidak boleh mencabut tumbuhan yang ada di sekitar ekowisata tersebut. Kedua adalah menulis  nama tumbuhan yang ditemukan dan disertakan bukti foto. Kelompok terbanyak mengumpulkan data tanman, akan mendapat tambahan cemilan dan diperbolehkan makan siang lebih dahulu.

Ada proses belajar yang tidak tergantikan saat berinteraksi dengan alam. Interaksi dengan alam melibatkan dan mengoptimalkan penggunaan panca indera. Interaksi ini kemudian mengajak otak untuk berpikir dan mencerna, menerjemahkan setiap pesan yang ditangkap oleh indera dengan apa yang ada pada internal diri kita. Otak siap mencerna pesan saat ada dorongan dari diri, tentang hal apa yang ingin dipelajari.

Peran Modul Nusantara pada proses ini penting sebagai teman belajar dan katalisator bagi mahasiswa program pertukaran ini dalam menemukan pesan semesta. Tahun 2022 ini, Unand menerima 237 mahasiswa dari 96 perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk mengambil 1 semester di UNAND. Kami, dosen modul nusantara berupaya memantik rasa ingin tahu siswa dengan mengajak berinteraksi dengan alam sekitar. Jika tidak mendukung, kami dapat mempersiapkan/membawa objek semesta kedalam kelas, atau melakukan penugasan yang kental dengan interaksi bersama alam, tutup Boby menjelakan modul nusantara di Universitas Andalas.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img