Limapuluh Kota,BeritaSumbar.com,- – “Mujua Indak Dapek Diraiah, Malang Indak Dapek Ditulak”. Begitulah gambaran yang dirasakan pasangan muda Rizki (20) dan Anggi (17), warga Nagari Batu Balang, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, karena anak pertamanya Gino (3 Minggu) mengalami penyakit Hydrocephalus.
Berasal dari keluarga tidak mampu, Rizki dan Anggi tidak bisa berbuat banyak. Rizki yang bekerja sebagai buruh pembuat batu Batako di Nagari Muaro Paiti, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, dengan penghasilan pas pasan, tidak memiliki biaya untuk membawa anaknya untuk menjalani operasi di Kota Bukittinggi.
Meski sebelumnya sejak usia Gino baru 3 Minggu, Anggi sudah melihat mulai ada pembengkakan dibagian kepala Gino. Dengan biaya seadanya Anggi membawa Gino ke puskesmas dan RSUD setempat. Dari hasil pemeriksaan medis, diketahui bahwa Gino mengalami penyakit Hidrosefalus dan harus dilakukan operasi di salah satu RS di Kota Bukittinggi.
Mendengar itulah, Anggi dan Rizki mulai khawatir bercampur cemas. Mengingat biaya operasi penyakit Hidrosefalus sangat besar. Operasipun bisa dilakukan beberapa kali. Karena tidak memiliki biaya akhirnya Anggi dan Rezki belum juga membawa Gino untuk dirujuk guna menjalani operasi di RS di Bukittinggi.
Mengetahui kondisi yang dialami kelurga kecil Rizki dan Anggi. Pihak pemerintah Nagari dan Kecamatan akhirnya mendatangi tempat kediaman Anggi di rumah neneknya. Saat bercerita dengan Pemerintah Nagari dan Kecamatan diketahui Anggi tidak memiliki BPJS Kesehatan. Biaya untuk membuat BPJS kesehatan mandiri juga belum punya.
Sehingga, dibantu oleh Pemerintah Nagari dan Kecamatan, serta swadaya masyarakat kelurga kecil Anggi dibuatkan BPJS Kesehatan Mandiri. Berbekal BPJS Kesehatan itulah Gino bisa dibawa ke-RS di Kota Bukittinggi untuk menjalani operasi penyakit Hidrosefalus. Kini operasi penyakit Hidrosefalus Gino sudah selesai dilakukan berkat BPJS Kesehatan. Bak “Malaikat” BPJS Kesehatan telah memberikan harapan bagi Gino dan kebahagian bago kelurga Anggi dan Reski.
“Saya sehari-hari hanya bekerja menerima upah sebagai pembuat Batu Bata di Muaro Paiti Kapur IX. Biaya yang dibutuhkan Gino untuk menjalani pengobatan tidak sedikit, sekali operasi bisa memakan biaya 35-an juta rupiah. Sedangkan untuk penyakit Hydrocephalus bisa membutuhkan 2 hingga 3 kali operasi. BPJS Kesehatan telah memberikan harapan untuk kesembuhan anak kami, Gino,” cerita Anggi, dirumah tempat tinggalnya di Nagari Batu Balang, kepada Jamkesnews.
“Kami tidak pernah menyangka Gino akan sakit seperti ini, dimana sampai 3 minggu setelah Gino lahir. Saat itu mulai ada benjolan di kepala Gino, kami disarankan oleh Bidan di Muaro Paiti untuk mengurus BPJS Kesehatan Gino dan dibawa ke Rumah Sakit. Saat itu kami menyadari pentingnya Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat,” ujar Anggi.
Akhirnya setelah mengurus JKN-KIS PBPU Mandiri Gino dapat menjalani Operasi pemasangan slang untuk mengeluarkan cairan di kepalanya pada tanggal 20 Januari 2019 di RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi dan setiap minggunya harus menjalani kontrol ke Rumah Sakit.
“Kami tidak dapat membayangkan apabila tidak ada BPJS Kesehatan, kemana kami harus mencari biaya pengobatan anak kami sebanyak itu,” ucap anggi sambil memeluk buah hati kesayangannya itu.
Kepada Tim Jamkesnwes Anggi juga mengatakan Selama menjalani pengobatan sedikitpun tidak ada pelayanan yang kurang menyenangkan baik itu di Faskes tingkat pertama ataupun di Rumah Sakit. Perawat dan Dokter semua ramah-ramah dan tidak pernah membeda-bedakan kami dengan pasien umum.
“Saya sangat berterimakasih sekali kepada semua masyarakat Indonesia yang sudah ikhlas dalam membayarkan iuran JKN-KIS ini, tanpa iuran yang mereka bayarkan mungkin Gino tidak dapat menjalani pengobatan. Saya benar-benar merasakan kehadiran BPJS Kesehatan sebagai penolong sesama,” tambahnya terharu.
Kini Pembengkakan di Kepala Gino seudah mulai berkurang. Semua berharap Gino dapat tumbuh normal layaknya anak-anak seusianya. (*)