28 C
Padang
Kamis, Juni 20, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

“Rusak Otak Lantaran Kecanggihan Teknologi”

Kategori -
- Advertisement -

BeritaSumbar.com,-Otak merupakan salah satu organ tubuh yang berperan sangat penting dalam pemrosesan informasi. Otak manusia mencapai 2% dari keseluruhan berat tubuh, mengkonsumsi 25% oksigen dan menerima 1,5% curah jantung (Astuti, 2014). Walaupun otak hanyalah suatu benda berukuran kecil dimana strukturnya lunak sperti tahu, beratnya hanya sekitar tiga pon, namun kemampuannya dalam memproses informasi seolah tak terbatas (Solso, 2007).

Korteks serebral yang terdiri dari lobus-lobus memiliki peran penting dalam kinerja otak. Nah bagi pecandu game, fungsi inilah yang terganggu. Tidak hanya fugsi otak yang terganggu, namun kecanduan game juga bisa merubah perilaku. Karena dalam bermain game online, anak akan sangat meresapi seakan-akan itu nyata baginya. Dapat dilihat anak-anak maupun remaja yang kecanduan game akan bertingkah sesuai game online yang di mainkannya seakan-akan otaknya berpindah ke game atau mungkin barangkali game-lah yang menjadi otaknya beperilaku. Apakah mereka tidak sadar bahwa telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain game? Sehingga melupakan apa yang ada disekitarnya dan malah terperangkap di dalam zona gamenya. Handayani, Nita.dkk (2017) dalam penelitiannya pengaruh game kekerasan terhadap aktivitas otak anak melalui pemetaan sinyal otak (Brain Mapping) menggunakan Wireless EEG , memaparkan bahwa pada saat bermain game, frekuensi gelombang dhelta dan theta meningkat terutama pada bagian frontal. Daya gelombang alpha mengalami penurunan sedangkan gelombang beta mengalami peningkatan pada saat bermain game. Hal ini mengindikasikan bahwa orang akan mengalami beban mental dan berada pada kondisi stres saat bermain game, terutama game yang mengandung unsur kekerasan. Penelitian yang dilakukan dengan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) pada otak pecandu game, terlihat adanya perubahan struktur dendrit sel-sel di otak yang dapat mengakibatkan masalah pada pengontrolan tingkah laku dimana struktur otak ini biasanya ditemukan pada pasien Skizofrenia, Syndrom Down, Autisme, dan orang yang kontrol impulsnya buruk.

Secara tampak, bermain game selama berjam-jam dapat merusak mata, karena terlalu lama menatap layar hp atau komputer untuk bermain game online yang memiliki radiasi cahaya resolusi tinggi. Jari-jari yang selalu aktif menekan tombol dapat berpengaruh buruk bagi saraf. Bermain game dalam jangka waktu yang lama dan secara terus menerus dapat menyebabkan otak tidak cukup istirahat sehingga menimbulkan gangguan emosi dan stress bahkan sampai ke tahap akut ada yang berujung kematian karena organ-organ yang seharusnya ostirahat terus-terusan dipaksakan untuk bermain game. dikutip dari kompas.com Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) Resmi menyetujui kecanduan game atau game disorder sebagai penyakit peralihan mental, WHO memasukkannya ke daftar “gangguan karena perilaku adiktif” atau penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.

Pada dasarnya, setiap perkembangan teknologi selalu memberikan dampak positif bagi yang bijak dalam pemakaiannya. Tak bisa dipungkiri, bermain online pun sebenarnya bisa mengasah otak dan kemampuan menganalisis anak jika masih dalam kadar yang semestinya. Game online akan senantiasa memberikan pengaruh positifnya melalui kontrol yang baik khususnya dari orang tua.  Bagaimana tidak, orang tua banyak menginginkan yang isntan sehingga cenderung mengabaikan dampak yang akan ditimbulkan setelah itu. Misalnya memberikan hp saat anak sedang menangis dengan memperlihatkan fitur-fitur yang menaik bagi anak. Maka secara tidak langsung orang tua sedang menanamkan kepada otak anak bahwa dengan menangis anak akan bisa bermain dengan fitur tersebut yang disalurkan melalui hp. Akhirnya setiap anak terbiasa dengan hal tersebut dan menjadikan tangisan sebagai tameng untuknya bermain. Itu sebabnya perlu pengawasan ketat dari orang tua terhadap anak. Alih-alih memberikan hp saat menangis, mungkin menghibur dengan cara lain bisa dilakukan seperti bermain bongkar-pasang yang bisa meningkatkan kreativitas, cara berpikir dan pemecahan masalah anak.

Tentu tidak harus bermain game dahulu bukan untuk mengajarkan anak berkreativitas? Jika anak sudah memasuki tahapan usia sekolah, artinya orang tua harus lebih tegas dalam memberikan batasan-batasan waktu anak dalam bermain game sehingga dapat meminimalisir dampak-dampak negatif dari penggunaan hp terhadap anak. Sulit merubah anak saat kecanduan game, namun mudah mengotrol anak saat masih belum mencapai ke tahap candu. Dengan memberikan batasan-batasan waktu, dan selalu memantau atau pun mendampingi anak adalah cara sederhana agar anak tidak kecanduan game sehingga anak tidak terkategorikan gila karena sudah kecanduan. Orang tua yang tegas dan pandai dalam mengalokasikan kemajuan teknologi adalah rumah bagi anak-anak yang siap menjadi pilar kebanggan negeri bukan malah menjadi budak teknologi.

penulis: Dini Marianty


Semester III Prodi Psikologi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama-Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img