26 C
Padang
Kamis, Februari 2, 2023
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Peran Toponim Dalam Dunia Edu Ekowisata
P

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Dr. Nurainas, Dosen Departemen Biologi FMIPA UNAND

“Jua itu nama tumbuhan? Indarung juga nama tumbuhan?” gumam ibu-ibu PKK di Kelurahan Kampuang Jua Nan XX Kota Padang saat dilakukan kegiatan sosialisasi pemasangan papan nama tumbuhan di lokasi wisata sains Bukit Nobita pada hari Minggu, 13 November 2022 lalu.

Masyarakat umum tidak banyak yang mengetahui bahwa sejumlah nama lokasi disekitar kita berasal dari nama tumbuhan dan nama hewan. Penggunaan nama tumbuhan dan hewan sebagai nama tempat sudah umum di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Misalnya di Sumatera Barat sendiri sekitar 30-35% nama kelurahan atau nagari menggunakan nama tumbuhan. Jika kita telusuri di sepanjang jalan di kota Padang kita akan melewati beberapa tempat dengan nama tumbuhan seperti Andaleh (Morus macroura), Pasa Ambacang (Mangifera foetida), Limau Manis (Citrus sinensis), Cangkeh (Syzygium aromaticum), Jati (Tectona grandis), Indarung (Trema orientalis), Kalumpang (Sterculia foetida), Kalumbuak (Pterocymbium javanicum), Kuranji (Dialium indum), Katapiang (Terminalia cattapa), Kampung Jua nan XX (Senna siamea), Teluk Bayur (Pterospermum javanicum) dan lainnya. Bisa kita bayangkan bahwa dulunya kota Padang merupakan hutan belantara. Hal ini ditandai dengan lebih dari 40% nama kelurahan/lokasi di Kota Padang menggunakan nama tumbuhan.

Penggunaan nama tumbuhan atau hewan sebagai nama lokasi diistilahkan dengan Toponim atau Toponimi. Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan arti Toponimi adalah cabang ilmu mengenai asal-usul nama tempat. Selain menjadi identitas tempat, toponim juga dapat menggambarkan keberadaan biodiversitas tertentu di suatu tempat. Toponim memberikan catatan keberadaan hewan atau tumbuhan di lokasi tersebut saat ini dan masa lalu. Toponim juga menunjukkan adanya hubungan antara keanekaragaman budaya dan keanekaragaman hayati.

Pada umumnya nama tumbuhan atau hewan yang dimanfaatkan sebagai nama lokasi berasal dari tumbuhan asli pada wilayah tersebut. Secara tidak langsung menggambarkan bahwa pada lokasi tersebut jika saat ini tidak ada lagi tumbuhan yang dimaksud, namun dulunya pernah ada. Kondisi ini menggambarkan bahwa nama-nama tempat dari unsur-unsur alam menggambarkan interaksi manusia dengan lingkungan.

Dunia Sains mengenal nama ilmiah/latin (scientific names) dan nama umum/lokal (vernacular names). Perbedaan keduanya pada standar penyusunan dan pemberian nama. Nama ilmiah mempunyai aturan standar yang harus dipatuhi oleh semua orang secara ilmiah dalam menyusun dan memberi nama. Aturan untuk tumbuhan tersebut dituangkan dalam International Botanical Code of Nomenclature (ICBN) atau Aturan Internasional tentang Tatanama tumbuhan (KITT). Sedangkan nama lokal tidak mempunyai aturan standar dan baku dalam penyusunan dan pemberian nama. Salah satu contoh penerapan aturan tersebut adalah nama ilmiah hanya berlaku satu nama untuk satu jenis. Sedangkan nama lokal bisa mempunyai satu nama untuk banyak jenis, atau banyak nama untuk satu jenis.

Walaupun nama pemersatu dan dikenal secara menyeluruh adalah nama ilmiah,  namun nama lokal dibutuhkan untuk pengenalan praktis tumbuhan di suatu lokasi. Nama lokal diberikan untuk tumbuhan oleh masyarakat setempat berdasarkan karakter yang menonjol seperti rupa, bentuk, ukuran, habit, habitat, aroma, rasa, warna, pemanfaatan dan karakter lain yang melekat pada tumbuan. Nama lokal tumbuhan bersifat tradisional dan menggabungkan kearifan lokal, pengamatan, dan pengalaman masyarakat lokal tentang unsur-unsur keanekaragaman hayati setempat termasuk toponim.

Lalu seperti apa peran toponim dalam dunia parawisata terutama dalam konteks eduekowista? Toponim tidak hanya berperan sebagai alat atau penanda identitas semata, namun juga sebagai titik awal menelusuri sejarah. Bagi pemandu wisata, toponim dapat digunakan sebagai alat pembuka komunikasi untuk berinteraksi dengan wisatawan. Misalnya sebelum membahas lebih lanjut tentang objek yang dikunjungi, asal-usul toponim akan menarik untuk didiskusikan.

Salah satu penerapan toponim di dalam dunia wisata adalah pemasangan papan nama tumbuhan di daerah-derah wisata seperti Kawasan Wisata Bukit Nobita. Pemanfaatan teknologi berupa QR code akan memberikan nilai edukasi bagi para wisatawan yang berkunjung. Wisatawan tinggal memindai QR code yang ada untuk melihat nama tumbuhan, nama ilmiah, deskripsi, penyebaran dan info lainnya. Pemanfaatan papan nama tumbuhan ini sangat berguna untuk meningkatkan nilai edukasi kepada generasi muda yang sudah mulai lupa tentang nama-nama lokal tumbuhan asli yang menjadi Toponim di Sumatera Barat.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img