Oleh : Silvia Permata Sari
Dosen Fakultas Pertanian
Cabai adalah komoditas hortikultura dari famili Solanaceae yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Cabai merupakan sayuran buah semusim yang dibutuhkan setiap keluarga, restoran, industri dan lainnya sebagai bumbu, bahan baku industri, bahan penyedap, dan pelengkap berbagai menu masakan khas Indonesia. Seiring bertambahnya jumlah penduduk indonesia, permintaan cabai semakin meningkat dan berfluktuasi. Permintaan yang tinggi akan kebutuhan cabai dan produksi yang terbatas karena pengaruh cuaca (seperti hujan dan kemarau yang panjang) juga dapat menyebabkan harga cabai dapat melambung tinggi. Apalagi di saat musim hujan, bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Natal dan tahun baru.

Oleh karena itu, salah satu solusi kita dalam mneghadapi harga cabai yang berfluktuasi tersebut adalah dengan menanam (budidaya) sendiri. Budidaya cabai tersebut dapat kita lakukan di perkarangan rumah, dan dapat juga dilakukan di dalam pot (dikenal dengan istilah tambulampot).
Cara menanam tanaman budidaya cabai di dalam pot (tambulampot) antara lain sebagai berikut :
1) Lakukan persemaian bibit cabai. Sebelum disemai sebaiknya benih cabai direndam terlebih dahulu dalam air hangat (suhu 50oC) selama 30 menit atau larutan fungisida Propamokarb Hidroklorida (1ml/liter) salaam lebih kurang 30 menit, lalu tiriskan dan langsung semai.
2). Media persemaian terdiri atas campuran tanah halus dan pupuk kandang (1:1).
3). Setelah bibit tumbuh, lakukan seleksi bibit, pilih bibit yang tampak bagus penampakannya.
4). Kemudian cabut bibit cabai dari tempat persemaian (tray semai) dengan hati-hati dan pindahkan ke media tanam yang lebih besar dan cukup kering.
5). Jika anda menggunakan media tanah dan pupuk kandang, maka perbandingannya adalah 1 : 1, dan pastikan pupuk kandang yang anda gunakan tersebut sudah matang (tidak panas, tidak berbau, dan strukturnya remah).
6). Kemudian lakukan penanaman di pagi hari sebelum pukul 09.00 atau sore hari setelah pukul 16.00 untuk menghindari tanaman cabai mengalami stress atau mati.
7). Siram media tanam dalam pot sebelum kita melakukan penanaman.
Selain kesuburan tanah (media tanam) yang kita gunakan, hama dan penyakit juga merupakan faktor yang sangat mempengaruhi hasil cabai yang kita tanam. Serangan hama dan penyakit dapat menyerang mulai dari fase persemaian hingga fase generatif (menghasilkan buah). Hama dan penyakit yang paling sering ditemui antara lain kutu kebul, kutudaun, penyakit keriting, busuk buah, dan antraknosa. Hama dan penyakit tersebut disebabkan oleh kondisi cuaca yang tidak menentu dan dapat menyebabkan produksi cabai kita rendah, bahkan mati.

Beberapa teknik pengendalian hama dan penyakit cabai yang dapat kita lakukan antara lain: menggunakan varietas cabai tahan hama dan penyakit, pengendalian secara kultur teknis (menanam dengan baik dan benar, mulai dari pemilihan media tanam, pemupukan, penyiangan rumput), pengendalian dengan pestisida nabati (pestisida yang bahan dasarnya dari tanaman-tanaman yang ada di sekitar kita seperti daun pepaya, tembakau sisa rokok, daun sirsak, batang tanaman serai), dan pengendalian secara mekanik (menggunakan perangkap dengan larutan metil eugenol).
Baru-baru ini, edukasi mengenai teknik pengendalian hama dan penyakit cabai dilakukan pada kelompok tani Bina Kreatif Mandiri Sungai Lareh, Lubuk Minturun Koto Tangah, Padang. Kegiatan tersebut dilakukan dalam bentuk kegiatan penyuluhan. Pada kegiatan penyuluhan tersebut, saya tidak hanya menerangkan dengan ceramah saja, tetapi juga mengajarkan langsung bagaimana teknik pengendalian hama dan penyakit kepada anggota kelompok tani lewat demonstasi (peragaan), dan terakhir dibuka sesi diskusi dengan anggota kelompok tani yang hadir, ujar Silvia Permata Sari yang bertindak sebagai narasumbernya. Tujuannya agar kelompok tani BKM sukses dalam mengendalikan hama dan penyakit cabai yang ditanamnya.
Pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, juga hadir narasumber lain yang ahli di bidang ilmunya masing-masing, seperti Prof Musliar Kasim, Prof. Warnita, Dr Beni Satria, Dr Aprizal Zainal, Dr Gustian dkk. Kegiatan pengabdian tersebut direspon baik oleh anggota kelompok tani Bina Kreatif Mandiri, Sungai Lareh, Lubuk Minturun. itu terlihat dari jumlah peserta yang hadir lebih kurang 50 orang. (Silvia Permata Sari, Faperta Unand).